michelle1-312x500

BAKAT bisnis Michelle Tjokrosaputro mengalir deras dalam darahnya sama seperti saudarasaudaranya yang lain. Michelle adalah anak ketiga Handiman Tjokrosaputro, pemilik PT Dan Liris, salah satu produsen batik kenamaan di Indonesia. Michelle juga cucu Kwee Som Tjok atau Kasom Tjokrosaputro, pendiri Batik Keris. Bisnis awal Michelle adalah memproduksi tas tangandan dipasarkan lewat pasar ritel sepertiCarrefour. Seperti apa kisahnya saat bangkit dari krisis?

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Michelle Tjokrosaputro baru saja lulus dari Jurusan Bisnis dan Komunikasi Amerika University di Paris, Prancis. Ia lantas memutuskan membangun usaha sendiri saat kembali ke Tanah Air pada tahun 1992. Saat tengah getol-getolnya mempraktikkan ilmu bisnisnya, Michelle mesti menghadapi kenyataan pahit. Krisis membuat Dan Liris limbung hingga nyaris gulung tikar. Tak heran, ayahnya berulang kali terserang stroke memikirkan nasib perusahaannya. Omsetnya hanya tinggal Rp 450 miliar. Kredit yang diperoleh bank tak bisa dilunasi alias macet. Aksi demo sudah menjadi pemandangan yang biasa di halaman kantor Dan Liris mengingat banyaknya karyawan yang terpaksa di-PHK. Hatinya terpanggil untuk menyelamatkan Dan Liris. Ia tahu betul betapa sang ayah tercinta sangat mencintai bisnis tekstil. “Tekstil itu seperti bayinya ayah saya. Saya masih ingat betul pesan terakhirnya, yakni jaga dan usahakan Dan Liris tetap hidup,” kata Michelle. Setelah ayahnya wafat, Michelle membulatkan tekad untuk menyelamatkan Dan Liris dari keterpurukan. Langkah pertama yang harus diambil adalah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sejumlah karyawan untuk mengurangi biaya dan menyelamatkan Dan Liris dari kebangkutan. Ia mengaku sangat terpaksa melakukannya dan secara terbuka membeberkan pembukuan perusahaan ke hadapan serikat pekerja. Dengan begitu, karyawan tahu betul kondisi terkini perusahaan. “Di hadapan karyawan yang tersisa juga saya katakan: Kita benar-benar harus berjuang bersama karena perusahaan memang hanya mengandalkan cash flow. Tak ada lagi pinjaman bank. Gaji karyawan bergantung sepenuhnya pada hasil kerja mereka sendiri,” ujarnya. Ya, Michelle memang harus realistis. Tak pernah terlintas sedikitpun soal keuntungan, yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana caranya membayar gaji pegawai setiap bulan. Sehingga, istri dan anak-anak mereka tidak terlantar. Perusahaan belum bisa lagi dapat kredit karena telah di-black list bank. Ia juga dengan rendah hati meminta dukungan dari jajaran direksi perusahaan. Boleh dibilang, ia adalah anak kemarin sore di bisnis batik. “Saya terbuka kepada direksi. Saya memang tidak tahu apa-apa, ditanya (soal) mesin saja yang tidak tahu. Sebagai bagian dari pemilik, saya masih percaya Dan Liris bisa bangkit lagi menjadi perusahaan batik ternama di Indonesia,” ungkapnya. Di tangan Michelle, Dan Liris kembali sehat. Kredit macetnya kini sudah lunas. Sepuluh tahun berselang, omset perusahaan naik menjadi Rp 1 triliun. Sang putri tercinta kini sudah bisa bernapas lega, berhasil menunaikan amanah sang ayah.

Baca Juga :  Bahan Kimia Sintetis di Plastik Tingkatkan Risiko Kematian Dini dan Ibu hamil

(SWA)