Untitled-6

Berbicara tentang museum, bagi orang awam, baik itu Museum Perjuangan, Museum Zoology, Museum Pembela Tanah Air (PETA), Museum Etnobotani, Museum Tanah dan Museum Seni Rupa, bayangan kita adalah tempat benda-benda kuno, arsip dan peninggalan jaman dahulu kala. Tempatnya tidak menyenangkan dan sederet pernyataan yang membosankan.

OLEH: HERU BUDI SETYAWAN,S.PD.PKN
Pemerhati Pendidikan & Humas SMA PESAT Bogor

Padahal pengertian museum adalah sebagai berikut. Museum adalah lembaga yang diperuntukkan bagi masyarakat umum, Museum berfungsi mengumpulkan, merawat, dan menyajikan serta melestarikan warisan budaya masyarakat untuk tujuan studi, penelitian dan kesenangan atau hiburan (Ayo Kita Mengenal Museum; 2009). Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 1995, museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa. Sedangkan menurut Intenasional Council of Museum (ICOM) dalam Pedoman Museum Indonesia, 2008, museum adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan artefak-artefak perihal jati diri manusia dan lingkungannya untuk tujuan studi, pendidikan dan rekreasi. Begitu pentingnya arti sebuah museum. Sayangnya, masyarakat belum menyadari dan belum peduli terhadap keberadaan sebuah museum. Atau mungkin pemerintah belum maksimal dalam mensosialisasikan arti pentingnya sebuah museum. Berbicara tentang museum, pasti tidak bisa lepas dari sejarah, karena sejarah itu meliputi masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Dan sejarah juga membahas sumber sejarah, pelaku sejarah, peninggalan bendabenda sejarah dan itu semua berhubungan dengan museum. Bahkan menurut ahli sejarah, kehidupan manusia ini tidak bisa lepas dari sejarah, karena kehidupan manusia itu terdiri dari, kehidupan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Tapi kenapa kebanyakan masyarakat Indonesia tidak begitu peduli dan tertarik sama sejarah dan museum. Karena mata pelajaran sejarah selama ini mementingkan kapan dari suatu peristiwa sejarah, bukan bagaimana suatu peristiwa sejarah bisa terjadi. Selain itu ditambah dengan masyarakat Indonesia telah mengalami perubahan gaya hidup yang serba instan, bergaya konsumtif, materialistik, individualistik. Akibatnya mata pelajaran sejarah tidak begitu disukai oleh peserta didik di Indonesia. Berbeda dengan di negeri Paman Sam, mata pelajaran sejarah adalah mata pelajaran yang paling disukai oleh peserta didik, karena di sana mata pelajaran sejarah, mementingkan bagaimana suatu peristiwa sejarah terjadi, termasuk keberhasilan dan kegagalan para tokoh sejarah. Hal ini sesuai dengan manfaat belajar sejarah, yaitu mengetahui masa lalu, untuk dijadikan hikmah pada masa sekarang, serta dijadikan pedoman dan perencanaan pada masa yang akan datang. Belajar sejarah juga bermanfaat bagi kita menjadi pribadi yang berwawasan luas dan mempunyai sifat bijaksana. Maka kita wajib menghormati dan memberi acungan jempol untuk Proklamator bangsa Indonesia tercinta yaitu Bapak Ir. Soekarno atau yang lebih dikenal dengan panggilan Bung Karno, yang begitu peduli dan sangat menghormati dengan sejarah, dengan perkataan beliau yang sangat terkenal, yaitu JASMERAH (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) atau perkataan beliau yang lain, yaitu ”Bangsa besar adalah bangsa yang menghormati para pahlawannya.” Kita sebagai bangsa Indonesia, bangga punya seorang Bung Karno. Sulit sampai sekarang bangsa Indonesia mempunyai pemimpin sehebat Bung Karno. Sehingga tidak mengherankan kebanyakan masyarakat Indonesia lebih senang datang ke mall, nonton konser musik, nonton film di gedung bioskup, membuka situs di internet dan media sosial seperti facebook dan twitter, nonton televisi yang bersifat hiburan, hura-hura, lawakan, musik, olahraga, berita selebritis sinetron percintaan dan horror serta acara yang tidak bermutu lainnya. Acara itu semuanya bersifat tontonan, bukan bersifat tuntunan. Dunia sekarang ini serba praktis, denganinternet semua informasi dapat didapat dengan sangat mudah, di abad informasi dan komunikasi ini, dunia ada di genggaman tangan kita. Tapi sama seperti buku, museumpun di zaman informasi dan komunikasi ini, peranan buku dan museum tidak akan tergantikan. Kenapa peranan buku dan museum tidak tergantikan? Karena bagaimanapun teknologi informasi dan komunikasi selain punya keunggulan juga punya kelemahan, dan kelemahan ini bisa diganti oleh keberadaan buku dan museum. Teknologi informasi dan komunikasi itu canggih tapi ringkih (punya kelemahan) yaitu butuh tenaga listrik dan memakai alat komputer, LCD dan laptop, maupun peralatan yang lain, sementara buku dan museum tidak membutuhkan, meski semua sektor kehidupanserba memakai komputer. Kita melihat museum bisa lewat internet, tapi lain rasanya, sensasinya dan maknanya, jika kita datang langsung ke museum. Kita bisa membaca buku dimanamana, bisa di bus, kereta, taman, mobil dan lain-lain. Kita juga bisa memakai peralatan teknologi informasi dan komunikasi di tempat-tempat tersebut, tapi harus tersedia aliran listrik, sinyal harus kuat, harus ada pulsa dan lain-lain. Meski kita akui, peranan buku dan museum pasti berkurang di jaman serba informasi dan komunikasi ini. Akibat itu semua, masyarakat Indonesia tidak tertarik berkunjung ke museum, apalagi sosialisasi tentang museum sangat kurang, coba mana ada iklan layanan masyarakat tentang ajakan berkunjung ke museum, dukungan dari pemerintah juga minim kalau tidak boleh dikatakan kurang. Hal ini terbukti dari kelima museum yang ada di Kota Bogor tidak ada satupun yang dikelola Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Museum Perjuangan dikelola oleh sebuah yayasan, Museum PETA dikelola oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI), Museum Zoologi, Museum Etnobotani dan Museum Tanah ketiganya dikelola oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dan terbukti pula, bahwa masyarakat Indonesia, lebih suka berkunjung ke mall dari pada ke museum. Hasil survey jumlah pengunjung di museum dan di mall pada libur nasional pada tanggal 3 april 2015 yang dilakukan oleh Radar Bogor adalah sebagai berikut. Jumlah pengunjung di Museum Perjuangan Bogor sebanyak 17 yang terdiri dari pelajar, karena tidak ikut study tour dan turis mancanegara. Menyedihkan bukan, ternyata museum dijadikan tempat untuk menghukum anak dan didatangi oleh turis mancanegara, mana masyarakat Indonesia? Jumlah pengunjung Museum Tanah sebanyak 5 orang. Jumlah pengunjung di Museum Etnobotani sebanyak 12 orang. Jumlah pengunjung di Museum PETA sebanyak 127 orang. Jumlah pengunjung di Museum Zoologi sebanyak 4.000 orang, jumlah pengunjung di Museum Zoologi banyak, karena tiket masuknya bersatu dengan tiket Kebun Raya Bogor (KRB). Kita miris melihat data ini, jika membandingkan jumlah pengunjung di museum dengan jumlah pengunjung di pusat perbelanjaan di Kota Bogor. Pada hari yang sama pada tanggal 3 April 2015, jumlah pengunjung di Bogor Trade Mall (BTM) sebanyak 35.000. Jumlah pengunjung di Botani Square sebanyak 30.000. Jumlah pengunjung di Pusat Grosir Bogor (PGB) sebanyak 5.000 orang. Alhamdulillah dengan Kurikulum 2013 (Kurtilas), yang terdapat Kompetensi Inti spiritual, sosial, pengetahuan dan ketrampilan serta dalam proses pembelajaran memakai pendekatan saintifik/pendekatan berbasis proses keilmuan yang merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkahlangkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Jadi belajar adalah proses membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman. Apa itu Kompetensi Inti spiritual, sosial, pengetahuan dan ketrampilan dan pendekatan saintifik. Dalam Kurtilas terdapat empat Kompetensi Inti (KI), yaitu KI 1, KI 2, KI 3 dan KI 4. Baik akan penulis bahas satu persatu, yaitu : Pertama, Kompetensi Inti (KI) 1 atau disebut sikap spiritual berbunyi menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Kedua, Kompetensi Inti (KI) 2 atau disebut sikap sosial berbunyi menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. Ketiga, Kompetensi Inti (KI) 3 atau disebut pengetahuan berbunyi memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. Keempat, Kompetensi Inti ( KI ) 4 atau disebut ketrampilan berbunyi mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. Sedang pendekatan saintifik adalah pendekatan yang menekankan pada proses pencarian pengetahuan, berkenaan dengan materi pembelajaran melalui berbagai kegiatan, yaitu mengamati, menanya, mengeksplor/ mengumpulkan informasi/mencoba, mengasosiasi, dan mengomunikasikan, kelima kegiatan ini sering disingkat dengan istilah 5 M. Masing-masing kegiatan tersebut dijabarkan kedalam setiap mata pelajaran yang masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda. Selain kedua hal tersebut yaitu kompetensi inti dan pendekatan saintifik , masih banyak sisi baik dari Kurtilas, yaitu : Belajar tidak hanya di ruang kelas, tapi juga bisa di lingkungan sekolah dan di masyarakat, dalam hal ini, belajar bisa juga di museum. Guru juga bukan satu-satunya sumber belajar, jadi sumber belajarnya bisa lewat internet, buku, seorang ahli yang berkompeten di bidangnya termasuk juga museum sebagai sumber belajar. Sikap tidak diajarkan secara verbal, tapi lewat contoh dan teladan. Menggunakan penilaian autentik yaitu penilain yang mengukur semua kompetensi sikap, ketrampilandan pengetahuan dalam proses dan hasil. Proses pembelajaran berpusat pada peserta didik, guru sebagai fasilitator saja. Atas dasar karakteristik Kurikulum 2013 ini, maka belajar di museum sangat dimungkinkan, dan belajar di museum bisa menyenangkan. Agar belajar dengan Kurikulum 2013 dapat menyenangkan di museum, maka dapat kita lakukan beberapa solusi sebagai berikut: Pertama, dibuat program belajar menyenangkan satu hari di museum. Program ini dilaksanakan tiap semester, setelah pelaksanaan UAS ( Ujian Akhir Semester ) pada semester ganjil dan setelah pelaksanaan UKK ( Ujian Kenaikan Kelas ) pada semester genap. Kegiatan ini melibatkan seluruh warga sekolah, termasuk orang tua siswa dan warga sekitar atau tokoh masyarakat serta nara sumber yang berkompeten. Kegiatan ini sungguh menarik, karena akan terjadi silaturahmi seluruh warga sekolah. Bentuk kegiatan bisa berupa lomba menggambar tokoh sejarah, lomba membuat puisi sejarah, lomba fotografi sejarah, peragaan busana tokoh sejarah, lomba menulis essai sejarah, lomba lagu perjuangan, bazar kuliner yang diikuti oleh orang tua peserta didik, sampai kegiatan yang bersifat ilmiah seperti bedah buku, presentasi ilmiah oleh peserta didik dan workshop. Sehingga kegiatan ini akan berlangsung meriah dan guru tetap bisa mengadakan penilaian autentik selama kegiatan ini berlangsung, yaitu nilai sikap dan nilai sosial yang meliputi perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. Penilaian ini bisa bersifat remedial bagi peserta didik yang nilainya belum tuntas dan bersifat pengayaan bagi peserta didik yang nilainya sudah tuntas, jadi kegiatan ini tidak sekedar hura-hura belaka. Agar kegiatan ini lebih menarik, semarak dan ada nilai pendidikannya, peserta didik diperbolehkan memakai pakaian adat, pakaian tokoh sejarah idolanya atau bahkan pakaian sesuai cita-citanya serta hobynya. Termasuk juga orang tua siswa atau warga sekolah yang lain boleh memakai pakaian sesuai dengan profesinya atau pakaian sesuai asal daerahnya.Kedua, museum harus dibuat menarik bagi peserta didik dan masyarakat umum. Museum harus representatif dan lengkap sarana dan prasarananya, museum harus bersih seperti pusat perbelanjaan, museum harus bersih dan wangi seperti hotel, museum harus indah seperti taman, museum harus nyaman seperti di rumah kita sendiri, sehingga kita betah seharian ada di museum. Jika ada museum yang sudah tidak memenuhi syarat, bisa dimerger dengan museum yang lain atau direlokasi ke tempat lain yang lebih representatif dan menguntungkan. Mulai sekarang harus kita rubah, pemahaman kita terhadap museum yang selama ini tempat yang membosankan menjadi tempat yang menyenangkan dan tempat yang layak untuk rekreasi serta tempat untuk menambah ilmu pengetahuan. Jayalah Indonesiaku.