wpid-beras_istimewa

WARGA Bekasi digemparkan dengan penemuan beras berbahan plastik. Penemuan ini sontak membuat geger Pemerintah Pusat dan Mabes Polri. Pemkot Bekasi berencana akan melakukan uji laboratorium atas penemuan ini. “Kami sudah ambil un tuk contoh,” kata Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Pemkot Bekasi, Herbet Panjaitan, kemarin. Ia mengatakan beras itu diambil dari toko beras di bilangan Pasar Mutiara Gading Timur, Kecamatan Mustika Jaya. Pemeriksaan dilakukan setelah instansinya mendapatkan informasi dari warga bahwa ada beras diduga berbahan plastik atau beras sintetis. “Untuk memastikan, harus dilakukan uji laboratorium dulu,” kata dia. Hasil penyelidikan sementara, beras tersebut dibeli dari sebuah agen beras di Pasar Baru, Bekasi. Agen itu mendatangkan beras tersebut dari Karawang, Jawa Barat. Jika terbukti ada kecurangan penjual, maka pemerintah akan menindak tegas. “Beras sintesis kan berbahaya,” kata dia. Seorang konsumen, Dewi Septiani, mengatakan bahwa beras yang diduga dari plastik itu tak dapat dimasak seperti beras pada umumnya. Ia menyebut hasil masakannya cenderung keras, tapi lengket seperti ketan. “Berasnya jadi aneh, rasanya kayak plastik, sintesisnya berasa,” kata dia. Ia mengaku membeli beras sebanyak enam liter pada Minggu, 17 Mei 2015. Seliter beras harganya mencapai Rp 8 ribu. Menurut dia, ini kali pertama dia mendapatkan beras kualitas tersebut. “Beli kali ini tidak bisa dimasak.” Juru bicara Kepolisian Resor Kota Bekasi Kota, AKP Siswo mengatakan, dari hasil penyelidikan sementara disimpulkan bahwa beras itu palsu. Kepastian itu didapat setelah melibatkan Badan Obat dan Pengawas Makanan. “Sekarang mau dirilis,” kata Siswo. Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Ferry Sofwan Arief, mengatakan, isu beras imitasi itu diketahuinya beredar di media sosial. Dia menduga pedagang juga belum bisa membedakan beras palsu itu. “Barangkali tahu hanya beras impor, padahal Menteri Perdagangan belum mengeluarkan izin impor beras,” ujarnya. Ferry mengatakan temuan beras plastik itu bakal memudahkan informasi kepada publik soal perbedaannya dengan beras asli. “Supaya masyarakat awam bisa melihat perbedaannya di lapangan. Dengan sosialisasi itu, awam bisa membandingkan dan otomatis lebih hati-hati,” tuturnya. Menurut Ferry, Jawa Barat memang potensial menjadi sasaran penyebaran barang ilegal karena jumlah penduduknya besar. “Rentannya di situ, padahal produk ilegal masuk langsung susah,” ucapnya. Dengan adanya temuan ini, Ferry meminta Kementerian Perdagangan untuk turun tangan. Paling tidak meneliti beras palsu itu dan memberikan panduan kepada daerah untuk memudahkan membedakannya dengan beras asli. “Level Kementerian harus ada tim khusus untuk menyisir itu. Sekaligus untuk mencegah di hilir,” katanya. Sejumlah media memberitakan temuan beras plastik oleh pedagang makanan di Bekasi, Jawa Barat. Beras itu disebutkan dibeli seharga Rp 8.000 per liter di toko langganannya pada 18 Mei 2015. Pembeli yang disebut bernama Dewi itu mengunggahnya pada akun Instagram. Sementara itu, Kepala Kepolisian Resor Kota Bekasi Komisaris Besar Rudi Setiawan mengaku belum bisa menyimpulkan kasus dugaan beras plastik yang tengah diselidiki. “Harus diuji dulu, biarkan ahli yang menilai,” kata Rudi, kemarin. Sejauh ini, kata dia, penyidik memintai keterangan dua orang, yaitu konsumen berinisial D yang melapor, dan pedagang beras berinisial S. Hasil pemeriksaan sementara, didapat beras yang dijual itu tak seperti biasa. “Pembeli ini adalah pedagang bubur dan nasi uduk,” kata dia. Ketika membeli beras, lalu dimasak, hasilnya berbeda dari biasanya, sehingga masakannya itu tak dapat dijual ke pelanggannya. Karena itu, pedagang tersebut melapor ke petugas kepolisian. “Tunggu sampai hasil uji keluar,” kata dia. Untuk sementara, beras yang diduga palsu tersebut tak boleh dijual sampai ada hasil uji laboratorium. “Kami minta hasil secepatnya keluar,” kata dia. Rudi menambahkan, pihaknya meminta agar masyarakat tenang mengenai dugaan beredarnya beras plastik. Ia meminta agar kasus tersebut ditangani kepolisian hingga selesai. Data yang dihimpun, beras yang diduga plastik tersebut tak ada bedanya dengan beras pada umumnya. Hanya saja ketika dimasak beras itu mengembang seperti nasi basi. Jika dimasak menjadi bubur, dan diberi air bukan encer, tapi cenderung mengental. Atas temuan ini, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel juga telah meminta pegawai eselon I agar mengecek pasar untuk memastikan informasi adanya beras dari Cina, termasuk yang berbahan plastik. Musababnya, Kementerian Perdagangan tidak pernah mengeluarkan izin impor beras dari Cina. “Saya belum lihat, belum dapat informasi dari Dirjen saya,” katanya, kemarin. Jika benar beras plastik ada di pasaran, dia akan mengecek tempat sumber pasokan tersebut berasal. Untuk itu, Gobel juga berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. “Nanti kita lihat ada di mana,” katanya. Gobel menyarankan jika masyarakat mengetahui keberadaan beras plastik, segera melapor ke Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan. Kantor Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen beralamat di Jalan M. I. Ridwan Rais, Nomor 5, Jakarta Pusat. Temuan ini jug disikapi Komisi IV DPR. Komisi bidang pangan itu meminta pemerintah tidak menganggap sepele atas kabar peredaran beras palsu yang berbahan baku plastik dan kentang. Ketua Komisi IV DPR, Edhy Prabowo meminta Kementerian Pertanian melalui badan karantina proaktif terhadap informasi tersebut. “Jangka pendek, kita harus cari tau siapa dibalik itu. Jangka panjang kita perkuat karantinanya. Karena kita enggak bisa jaga kalau alat penjaganya tidak diperkuat,” kata dia, Selasa (19/5/2015). Menurut Edhy, saat ini tidak perlu saling menyalahkan mengenai beras berbahan dasar plastik tersebut. Sebab, regulasi pemerintah dilarang mengimpor beras. “Kita cari siapa yang bisa masuk itu sekarang, supaya tidak merembet ke yang lain. Ini ujian bagi kita, test case untuk kita, latihan untuk kita, bahwa ini, ke depannya akan semakin banyak yang akan dihadapi,” tuturnya. Ia pun mempertanyakan mengapa pemerintah dapat kecolongan adanya beras plastik. Padahal Indonesia sudah tidak mengimpor beras. “Kedepannya semua perdearan atau apapun kita harus awasi, kalau perlu setiap ada barang yang masuk itu kita harus awasi dan harus perkuat. Maka hal yang paling dekat saat ini, RUU Karantina harus dijalankan dengan cepat,” kata Politisi Gerindra itu. Sementara itu, Kementerian Perdagangan berencana melibatkan Bareskrim Mabes Polri untuk mengungkap beredarnya beras tersebut. “Kami sudah ke lapangan dua hari ini. Dan hari ini Dinas Perdagangan Kota Bekasi menemukan beras plastik di daerah tersebut,” kata Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan Widodo, kemarin. Temuan beras plastik itu sedang diuji di laboratorium Dinas Perdagangan Kota Bekasi. “Kami tunggu hasil laboratoriumnya seperti apa,” kata dia. Menurut Widodo, pihaknya akan melibatkan Bareskrim untuk menelusuri beredarnya beras plastik. Penelusuran akan dilakukan mulai dari pengecer hingga distributor di atasnya sehingga bisa diketahui asal beras palsu tersebut. Koordinasi juga dilakukan dengan pihak Bea Cukai. Sebab, beras plastik itu dipastikan masuk secara ilegal karena Kementerian Perdagangan belum mengeluarkan izin impor beras. “Kami belum mengeluarkan izin impor. Persetujuan impor itu kan harus ada rekomendasi dari Kementerian Pertanian. Kami belum pernah mengeluarkan izin impornya “ kata dia. Widodo mengatakan pelanggaran atas beredarnya beras palsu bisa dilakukan dengan Undang- undang pangan serta undang-undang lainnya seperti bea cukai. Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menyatakan pengedar beras palsu harus ditindak. “Itu kan bisa mempengaruhi kesehatan, harus ditindak, diatasi,” kata Gobel. Dia mengatakan pihaknya mengetahui adanya beras palsu dari media. Gobel pun memerintahkan stafnya untuk melakukan pengecekan atas berita tersebut. Menurut Widodo, pengecekan beras plastik juga dilakukan di Jakarta, namun tidak ditemukan.

Baca Juga :  Pria di Karawang Auto Nyesek Saat Menemukan Ijazah Dirinya Sudah Dijadikan Bungkus Gorengan

(Rishad Noviansyah|Yuska Apitya)