Untitled-24

JAKARTA, TODAY — Ini kado istimewa dari Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2015. Perempuan perkasa dari Pangandaran, Ciamis ini, akan menggelar penenggelaman kapal ikan asing yang berhasil ditangkap saat mencuri ikan di perairan Indonesia. Kapal-kapal yang akan ditenggelamkan besok Rabu, 20 Mei 2015 ini, sudah melalui proses hukum pengadilan. Kapal-kapal tersebut terbukti secara meyaknkan mencuri ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Laut Indonesia. Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Asep Burhanuddin mengatakan, ada 40 kapal ikan asing pencuri ikan yang ditenggelamkan. “Dari imbauan Ibu (Susi), waktunya bersamaan antara KKP, TNI AL, dan Polair. Rencananya KKP ada 18 kapal dan 22 dari TNI AL,” ungkap Asep, saat ditemui di Gedung Mina Bahari I, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Senin (19/05/2015).

Ke-40 kapal ikan asing tersebut berasal dari 4 negara, yaitu Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Filipina. Kapasitas kapal bervariasi, antara 80-150 Gross Ton (GT)
“Kalau keinginan Bapak Presiden di satu tempat nggak mungkin. Kalau dari KKP itu ada 1 di Aceh, 1 di Medan, 6 di Pontianak, dan 11 di Bitung. Untuk TNI AL ada 20-an kapal di Ranai, Tanjung Balai. Pelaksanaannya bersamaan 20 Mei 2015, jam 10 WIB, kalau di Bitung jam 11-an,” tuturnya.
Dalam proses penenggelaman yang dilakukan besok, Menteri Susi Pudjiastuti belum tentu hadir. Susi masih menunggu kabar apakah Presiden Joko Widodo (Jokowi) hadir pada proses penenggelaman kapal tersebut. “Beliau masih tetap di sini, tetapi kalau RI 1 mau ikut Ibu Susi akan ikut mendampingi,” tambahnya.
Ia menegaskan, penenggelaman kapal ikan asing ini akan membuat efek jera bagi pelaku usaha perikanan yang nakal. Selain itu penenggelaman kapal juga bermanfaat terutama bagi kegiatan rumponisasi atau membangun rumah ikan di dasar laut.
Setelah ditenggelamkan, Asep meminta juga ada pemiskinan alias penyitaan aset bagi pelaku usaha yang sama. “Selanjutnya pemiskinan pelaku usaha jadi seperti tindak pidana korupsi,” jelasnya.

Baca Juga :  Setu Lebak Wangi Destinasi Wisata Baru di Kabupaten Bogor

Gandeng Lembaga Dunia

Konsentrasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di bawah kendali Menteri Susi memang memberantas praktik illegal fishing alias pencurian ikan. Susi menganggap illegal fishing adalah kejahatan dunia dan praktik mafia.
Untuk lebih aktif memberantas praktik mafia ikan khususnya di tingkat internasional , Susi menggandeng lembaga dunia yaitu Sea Shepherd. Lembaga dunia ini lebih dikenal sebagai pemburu kapal penangkap ikan paus secara ilegal seperti Nisshin Maru asal Jepang.
“Dengan kerja sama ini, kita bisa mengorganisasi negara di dunia duduk bersama. Ini bukan masalah ikan saja, IUU (illegal, unreported, and unregulated) ini tidak kelihatan bahkan di laut ini ada oper-operan manusia,” kata Susi saat ditemui di Gedung Mina Bahari I, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Senin (19/05/2015).
Selain dengan Sea Shepherd, Susi juga bekerjasama dengan dua negara yaitu Filipina dan Vietnam. Kerjasama ini diharapkan dapat memberikan informasi berupa identitas kapal dan para anak buah kapal (ABK) serta daerah operasional dari kapal.

“Filipina, Vietnam dan kita akan membuka seperti crisis center. Illegal fishing itu kejahatan transnational dan agak tertutup operasinya ,” tambah Susi.
Untuk mendatatang, diharapkan ada kerjasama lebih luas antara Indonesia dengan beberapa negara lain seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS). Dengan kerjasama ini, pemberantasan illegal fishing bisa dilakukan secara maksimal sehingga tidak merugikan banyak negara. “IUU Fishing ini is the big matter. Di seluruh dunia ini punya hal yang sama,” katanya.

Pasok Ikan Melimpah

Hasil kerja luar biasa Menteri Susi selama bergabung dengan Kabinet Kerja Pemerintahan Presiden Jokowi, Senin (18/5/2015) diungkapkan Badan Pusat Statistik (BPS). Badan ini memberikan paparan detil kinerja sektor perikanan periode Januari-April 2015.
Menurut Susi, aksinya memberantas illegal fishing positif, seperti melimpahnya pasokan ikan dan turunnya harga ikan. Selain itu, impor BBM juga turun karena penggunaan BBM subsidi, yaitu solar oleh kapal besar berkurang.
“(Pemberantasan IUU fishing) sudah memberikan dampak positif dari data statistik. Intinya IUU fishing bukan hanya merugikan negara tetapi juga saya confirm kepada Menteri ESDM saat rapat kabinet, impor BBM juga turun 30%,” tutur Susi.
Dalam kesempatan itu, Susi juga mengungkapkan, aksinya memberantas illegal fishing juga berdampak pada pertumbuhan sektor perikanan. “Kedua naiknya pertumbuhan perikanan, di mana akhir tahun lalu bisa dilihat akhir triwulan IV-2014 tumbuh 7,46%, kemudian triwulan I -2015 naik 8,64% di saat sektor lain melambat, perikanan justru naik,” tambahnya.

Baca Juga :  Samisade Program Unggulan Penunjang Pembangunan Infrastruktur di Desa

Susi mengatakan, penyebab tumbuhnya sektor perikanan di dalam negeri adalah pemberantasan illegal fishing yang dikeluarkan nya, seperti moratorium perizinan kapal eks asing, pelarangan transhipmentm hingga pelarangan penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan. “ Padahal ribuan kapal berhenti, ratusan ada di dermaga ngandang (tidak melaut). Jadi IUU tidak berkontribusi pada angka kita,” tegas Susi.
Dari paparan Kepala BPS Suryamin, kinerja sektor perikanan pada triwulan I-2015 tumbuh 8,64%. Namun bila dilihat per kuartal justru sektor perikanan defisit 2,81%, karena disebabkan cuaca buruk dan nelayan enggan melaut. Sedangkan perkembangan nilai tukar petani (NTP) pada April 2015 adalah 101,91 atau turun 0,43% dibandingkan Maret 2015 sebesar 102,35%.
Kemudian, nilai ekspor ikan di 2014 juga naik menjadi USD 3,11 miliar, dari nilai di 2013 sebesar USD 2,8 miliar. Sedangkan periode Januari-April 2015 ekspor ikan sudah mencapai USD 906 juta. Total nilai impor ikan sepanjang 2013 adalah USD 216 juta, di 2014 adalah USD 209 juta, sedangkan Januari-April 2015 mencapai USD 67,42 juta. “Harga ikan eceran ikan kembung dan bandeng pada Maret sampai April turun,” kata Suryamin.

(Alfian M|dtc)