Untitled-19

Gelombang massa unjuk rasa warnai peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), 20 Mei hari ini. Dalam perspektif Istana, 20 Mei dekat waktunya dengan reformasi. Isu penggulingan Presiden Joko Widodo juga ikut mewarnai peringatan Harkitnas ke-107.

YUSKA APITYA
[email protected]

Langkah Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah aktifis mahasiswa ke Istana Negara, Senin (18/5/2015) malam, ternyata memicu kontroversi di lingkungan mahasiswa. Reaksi keras datang dari kalangan aktifis mahasiswa dari seluruh Indonesia. Mereka menilai, persoalan bangsa yang rumit saat ini tak bisa diselesaikan hanya dengan makan malam bersama Presiden Jokowi. “Yang masuk ke perspektif Presiden, 20 Mei sangat dekat waktunya dengan kasus Trisakti, Semanggi, dan awal reformasi. Jadi pertemuan Presiden Jokowi dengan elemen mahasiswa kemarin berputar di isu politik dan HAM,” ujar Seskab Andi Widjajanto di Istana Negara, Jakarta, Selasa (19/5/2015).

Seperti diketahui, pada Senin (18/5) malam, Presiden Jokowi mengundang perwakilan mahasiswa dan alumni lintas universitas ke Istana Negara untuk berdiskusi persoalan bangsa. Andi memastikan Jokowi tetap berada di Jakarta pada 20 Mei ini, meski diketahui aksi unjuk rasa akan digelar besar-besaran di sekitar Istana Merdeka.
Dalam aksi unjuk rasa hari ini juga muncul isu penggulingan Presiden Jokowi karena dinilai gagal dalam pemerintahannya. Namun menurut Andi tidak ada permintaan Jokowi untuk mengevaluasi secara menyeluruh di pemerintahannya.
“Sampai hari ini tidak ada permintaan presiden untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Tampaknya itu pembicaraan internal antara presiden dan wapres. Menteri-menteri tadi betul-betul diminta kawal agar proses restrukturisasi selesai, perhatikan, daya serap anggaran, terutama di sektor terkait kehidupan rakyat. Presiden intinya minta para menteri bekerja lebih keras,” jelasnya.
Aksi besar-besaran berlangsung dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), Rabu 20 Mei. Pemerintah berharap Harkitnas tidak diwarnai isu inkonstitusional seperti isu penggulingan.
“Saya mengajak mahasiswa untuk berpikir rasional, masa iya dalam acara peringatan kebangkitan nasional yang seharusnya dimaknai secara positif oleh seluruh bangsa Indonesia, didorong oleh kelompok-kelompok tertentu untuk isu-isu yang menjurus kepada hal-hal yang tidak konstitusional,” ujar Kepala BIN Marciano Norman saat ditanya soal isu penggulingan pada aksi 20 Mei.
Marciano berharap peringatan 20 Mei dapat berjalan secara wajar. Kalaupun ada unjuk rasa, unjuk rasa yang bertanggung jawab untuk kemajuan negara ke depan.
“Tapi BIN tetap melakukan komunikasi-komunikasi dengan semua pihak. Saya mengharapkan siapapun yang turun ke jalan dapat melaksanakan kegiatannya sebaik-baiknya juga mengapresiasi prestasi Indonesia, kemajuan Indonesia yang dicapai saat ini dan mereka mencanangkan kemana yang mereka harapkan, tujuan apa yang mereka harapkan, kita menuju ke kondisi bagaimana rakyatnya sejahtera, situasi aman, keadamaian ada di Indonesia,” tuturnya.
Marciano juga menjamin aksi 20 Mei berjalan aman dan damai. “Aman. Insya Allah aman,” tutupnya.
Pemerintah menjamin aksi 20 Mei berlangsung kondusif. “Saya mendapat laporan dari BIN dan Polri, kondusiflah. BEM menyuarakan aspirasinya, tidak ada anarki kita harapkan, silakan mereka menyuarakan aspirasinya tapi dengan cara yang baik. Relatif kondusif,” tutur Menko Polhukam Tedjo Edy Purdijatno di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta, Selasa (19/5/2015).
Sementara itu Kapolri Jenderal Badrodin Haiti juga yakin aksi demo berlangsung kondusif. Apalagi sejumlah elemen mahasiswa sudah bertemu dengan Presiden Jokowi pada Senin malam. “Tadi malam kan sudah dialog dengan presiden. Ngga apa mereka turun ke jalan, yang penting tidak melanggar hukum, ikuti ketentuan yang berlaku. Artinya, itu merupaan hak setiap masyarakat, ikuti UU yang berlaku,” jelasnya di Istana Negara.
Badrodin mengimbau agar para mahasiswa selalu mengikuti aturan yang berlaku. Demonstran diimbau menjaga ketertiban. “Silakan ikuti ketentuan hukum yang berlaku, kalau mau menyampaikan aspirasi harus pemberitahuan, tidak melanggar hukum, mengganggu ketertiban, merusak fasilias umum, ,” imbaunya.
“Saya berharap mahasiswa inikan calon pemimpin masa depan, kegiatan yang dilakukan harus mencerminkan bahwa dia itu generasi penerus bangsa yang menjunjung tinggi norma norma termasuk norma hukum yang berlaku,” harapnya.

Baca Juga :  Masyarakat Bogor Keluhkan Cuaca Panas, Ini Penjelasan BMKG

Persuasif dan Simpatik

Sementara itu, Kepolisian Daerah Metro Jaya mengimbau seluruh elemen masyarakat yang akan berunjuk rasa dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Rabu 20 Mei untuk melaksanakan aksi dengan tertib dan damai. Polisi akan melakukan tindakan tegas jika massa melakukan aksi anarkis.
“Kami menyampaikan silakan menyampaikan aspirasi, namun kami imbau tertib. Kami siap memberikan pelayanan dan pengamanan kepada rekan-rekan mahasiswa,” tegas Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Unggung Cahyono kepada wartawan usai gelar pasukan di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Selasa (19/5/2015).
Kapolda mengatakan, selama pengamanan unjuk rasa, personel ditekankan untuk melakukan pengamanan secara persuasif simpatik. Anggota juga diperintahkan untuk tidak membawa senjata api saat melaksanakan pengamanan unjuk rasa ini. “Tidak ada yang membawa senpi, hanya gas air mata,” ungkapnya.
Meski demikian, untuk mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan selama demo, Kapolda juga meminta agar personel melakukan tindakan tegas dan terukur sesuai Perkap No 01 Tahun 2009.
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Unggung Cahyono juga menginstruksikan kepada seluruh personel yang mengamankan peringatan Harkitnas, untuk memberikan pelayanan secara persuasif. Anggota juga diminta untuk tidak membawa senjata api saat pelaksanaan tugas di lapangan. “Layani unras secara persuasif simpatik, tidak ada yang membawa senpi,” kata Unggung.
Untuk memastikan tidak ada anggota yang membawa senjata api pada hari H, pihaknya akan melakukan pengecekan terlebih dahulu terhadap seluruh personel yang dilibatkan. “Pada waktu apel untuk melakukan pengecekan, tidak ada rekan-rekan yang membawa senjata api, hanya gas air mata saja,” imbuhnya.
Dalam pengamanan unjuk rasa peringatan 20 Mei ini, Polda Metro Jaya menurunkan 7 ribu lebih personel gabungan dari Polda Metro Jaya dan Polres jajaran, BKO Mabes Polri dan TNI serta BKO Pemda DKI Jakarta. Personel pengamanan disebar di titik pusat konsentrasi massa di Bundaran HI, Istana Negara dan depan Gedung DPR RI.
Massa yang akan turun ke jalan diperkirakan sebanyak 2 ribuan yang di antaranya dari elemen mahasiswa, buruh dan LSM. Hari ini, unjuk rasa sudah berlangsung di sejumlah titik seperti di kawasan sekitar kampus di Cikini, Jakarta Pusat.
Untuk mengantisipasi kemacetan, pihak kepolisian melakukan rekayasa pengalihan arus di sejumlah titik konsentrasi massa. Kapolda Metro Jaya mengatakan, ada sekitar 2 ribu massa yang akan melakukan aksi unjuk rasa. Konsentrasi massa terpusat di Bundaran HI, depan Istana Negara dan Gedung DPR/MPR RI. “Saya imbau untuk menghindari HI, depan Istana Negara, depan DPR/MPR,” kata Unggung.
Bagi masyarakat yang datang dari arah Jl Gatot Subroto menuju Slipi, diarahkan lurus dan masuk tol keluar di Pintu Tol Senayan II. Sementara kendaraan dari arah Blok M yang hendak mengarah ke Slipi, diarahkan belok kiri ke Jl Pakubuwono, lalu ke Jalan Pintu I Senayan. “Untuk (kendaraan) dari HI kita lihat situasional, kita arahkan ke Dukuh Atas belok kiri masuk ke Menteng,” imbuhnya.
Sedangkan kendaraan yang mengarah ke depan Istana dari Jl Veteran diarahkan masuk ke kiri ke depan Kementerian Dalam Negeri. Sedangkan kendaraan dari arah Jl Hayam Wuruk yang akan ke Istana Negara diarahkan belok kiri ke Jl Ir H Djuanda.(*)

Baca Juga :  Pasca Tragedi Susur Sungai Maut yang Menewaskan 11 Siswa Mts, Kementrian Agama Akan Evaluasi Giat