Untitled-13

Mantan Presiden RI BJ Habibie berkisah banyak hal di hadapan para ilmuwan yang tergabung dalam Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Minggu (24/5/2015). Salah satunya tentang perkenalan dia dengan Presiden Soeharto.

Oleh : (Yuska Apitya Aji)

SEBAGAI pendiri AIPI, Habibie memberikan pengarahan tentang ilmu pengetahuan kekinian. Kegiatan langka ini digelar di Perpustakaan Habibie-Ainun, Jalan Patra Kuningan XIII Blok L XV Kav.5 Kuningan Jakarta Selatan , Minggu (24/5/2015). Habibie lantas berkisah tentang pertemuan pertama dengan Presiden Soeharto di Jerman, pada saat Habibie masih bekerja di industri pertahanan Jerman. “Saya dapat telepon dari Deplu Jerman. Presiden kamu mau datang dan Anda harap datang hari Jumat. ‘Ada apa? Saya lagi sibuk’. Itu permintaan, pokoknya anda harus datang. Saya sebagai karyawan dari perusahaan Jerman waktu itu terbesar dalam bidang pertahanan, oke saya datang. Itu pertama saya datang,” cerita Habibie dengan gaya bicara khasnya. Dalam pertemuan dengan Soeharto itu, Habibie dimintai masukan soal Indonesia yang akan memiliki satelit. Dalam waktu singkat, Habibie mempelajari laporan studi kelayakan soal satelit dimaksud dan langsung  Itu permintaan, pokoknya anda harus datang. Saya sebagai karyawan dari perusahaan Jerman waktu itu terbesar dalam bidang pertahanan, oke saya datang. Itu pertama saya datang,” cerita Habibie dengan gaya bicara khasnya.

Baca Juga :  Samisade Program Unggulan Penunjang Pembangunan Infrastruktur di Desa

Dalam pertemuan dengan Soeharto itu, Habibie dimintai masukan soal Indonesia yang akan memiliki satelit. Dalam waktu singkat, Habibie mempelajari laporan studi kelayakan soal satelit dimaksud dan langsung memberikan masukan kepada Soeharto. “Itu pertama kali saya ketemu Pak Harto sebagai Presiden di bumi Indonesia. Hari Senin tanggal 28 Januari 1974,” ujarnya.
Habibie melanjutkan, Soeharto kemudian memintanya untuk membantu pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. “Dia bilang, Pak Habibie, saya sudah putuskan bahwa Pak Habibie ini harus persiapkan kerangka tinggal landas bangsa Indonesia yang akan datang,” kata Habibie menirukan ucapan Soeharto.
Habibie tidak tahu akan ada krisis. ‘Yang benar saja, kenapa saya. Saya hanya bisa buat kapal terbang, senjata, helikopter, kereta api. Tapi itu bukan pembangunan Indonesia, masih banyak yang lebih senior dari saya. Saya sebut nama-nama, Pak harto hanya senyum,” lanjut Habibie.

Baca Juga :  The Botanica Sanctuary, Hotel Bernuansa Alam Modern Hadir di Kawasan Puncak

Obrolan dengan Pak Harto itu akhirnya berujung pada kesiapan Habibie untuk membantu membangun industri stategis yang dimintanya. Namun saat itu Habibie memberi syarat, bahwa dana yang dibutuhkan tidak boleh berasal dari pinjaman. “Saya tidak mau dibiayai pinjaman, karena pinjaman itu tidak akan mungkin membayar pengembangan SDM. Jadi dari mana? Sesuai UUD, dari sumber daya alam,” jawab Habibie.
Cerita tentang pertemuan dengan Presiden Soeharto yang kemudian diketahui bagian sejarah berdirinya PT Dirgantara Indonesia itu adalah motivasi Habibie untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indoensia. Habibie lalu mendirikan AIPI sebagai wadah bagi para ilmuwan Indonesia yang dinaungi oleh UU Nomor 8 tahun 1990 tentang AIPI.