Untitled-92SUATU hari sastrawan legendaris Mesir Najib Mahfoudz melihat seorang anak kecil yang sedang menjual manisan di persimpangan jalan yang dilengkapi trafic light. Ketika lampu merah menyala, anak kecil ini menjajakan manisannya di bawah sengatan matahari, bermandi debu jalanan, dan semburan asap knalpot kendaraan. Najib Mahfoudz menangis sesenggukan. Setelah reda tangisannya, peraih Nobel ini menulis sebaris kalimat sederhana yang sangat menyentuh hati. ‘’Impian kebanyakan anak kecil adalah memakan sepotong manisan (permen), sementara anak kecil itu menjual impiannya sendiri.” Di negeri ini banyak anak kecil bernasib seperti itu. Tengoklah lampu-lampu merah di berbagai kota. Anak-anak kecil banyak sekali yang bernasib malang. Bekerja dengan menjual impiannya. Berbapak-ibu, namun tak berorang tua. Di manakah para negarawan yang paham UUD 1945, pasal-pasal tentang fakir miskin dan anak-anak telantar itu? Ah, tampaknya ada yang salah di negeri ini.