Untitled-92

PADA masa kejayaan Khalifah Harun ar Rasyid hidup seorang pemuda gila bernama Bahlul. Pada suatu hari, Khalifah Harun berjumpa Bahlul sedang duduk di salah satu kuburan. “Wahai Bahlul…Wahai Majnun… kapan kamu akan berakal?,’’ kata Harun. Bahlul pun lari, lalu memanjat pohon tinggi. Kemudian Bahlul menyeru kepada Harun: “Wahai Harun…wahai Majnun…kapan engkau akan berakal?’’ balas Bahlul. Sang khalifah pemimpin besar pun mendekat ke pohon. “Aku yang gila ataukah engkau yang duduk di atas kuburan yang gila?’’ tanya Harun. “Bahkan aku orang yang berakal,’’ jawab Bahlul “Bagaimana bisa demikian?’’ tanya Harun. Dengan lantang Bahlul berkata: “Karena aku tahu bahwa ini semua akan lenyap (sambil menunjuk ke istana Harun yang megah). Adapun ini akan kekal (sambil menunjuk ke kubur). Akupun sudah terbiasa tinggal di sini, sebelum aku akan benar-benar akan tinggal di sini (di kuburan).  Sementara engkau terbiasa hidup di istanamu. Engkau pun tak mengingat kubur, engkau juga tidak suka berpindah dari istana kepada kehancuran, dalam keadaan engkau mengetahui bahwa itulah tempat kembalimu. Itu pasti… “Maka katakan kepadaku, siapa orang yang gila?’’ kata Bahlul

Khalifah Harun ar Rasyid yang sangat berkuasa dan dihormati rakyatnya itu pun bergetar hatinya. Harun menangis sejadi-jadi, sampai air matanya membasahi jenggotnya. “Sungguh engkau benar…” kata Harun kepada Bahlul
Sang Khalifah yang terkenal adil dan bijaksana itu meminta tambahan nasihat kepada Bahlul, pemuda yang dianggap masyarakat setempat sebagai pria gila itu. “Cukup bagimu Kitabullah, berpegang teguhlah dengannya!!” kata Bahlul.
Sebagai penguasa yang sangat kaya raya, Harun ingin membalas atas nasihat Bahlul itu dengan harta dan kekuasaannya. “Apakah engkau memilki kebutuhan, sehingga aku akan memenuhinya untukmu?” tanya Harun. “Iya. Aku punya 3 kebutuhan… Kalau engkau mampu untuk memenuhinya, maka aku akan sangat berterima kasih kepadamu,’’ jawab Bahlul.

Dengan mimik serius dan sunggung-sungguh Harun mempersilakan Bahlul untuk menyampaikan tiga permintaannya. “Apakah engkau bisa menambah umurku?’’ tanya Bahlul! “Aku tidak mampu,’’ jawab Harun. “Apakah engkau mampu menjagaku dari malakul maut?’’ tanaya Bahlul lagi. “Aku tidak mampu,’’ jawab Harun. “Apakah engkau mampu memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka?’’ tanya Bahlul. “Aku tidak mampu…” jawab Harun.
Bahlul lantas berkata kepada Khalifah Harun ar Rasyid: “Maka ketahuilah, engkau hanyalah seorang raja dunia…engkau bukanlah Raja yang sesungguhnya (Allah). Aku tidak butuh kepadamu.’’
Adakah di negeri ini pemimpin seperti Harun ar Rasyid?