Untitled-92

OKNUM artis melakukan praktik prostitusi, itu sudah lama terjadi. Tarif mereka cenderung mengikuti kurs dolar dan harga logam mulia. Pada saat kurs dolar Amerika (USD) berada di lever Rp 2.300 pada awal 90- an, tarif artis bookingan berkisar Rp 5-10 juta. Boleh jadi, ketika kurs UDS berada di lever Rp 13.200 seperti saat ini, tarif para artis panggilan ini akan berkisar Rp 80-100 juta. Mengapa mereka menggunakan nilai USD sebagai acuan tarif? Mungkin karena mereka biasa menghabiskan uang hasil kerja seks-nya di Singapura. Mereka beli tas di Singapura. Beli kosmetik di Singapura. Bahkan beli pakaian dalam pun di Singapura. Jadi, setiap tetes keringat yang mereka keluarkan juga diukur dengan standar harga barang-barang di Singapura. Logis kan? Tentu beda dengan pekerja seks komersial (PSK) Jabonmekar dan Gang Semen. Tarif mereka mengikuti standar harga barang-barang di Pasar Anyar dan Pasar Parung. Jadi, tak semahal tarif artis, walaupun mungkin energi yang mereka buang sama takarannya….!