Untitled-8

BOGOR, TODAY – Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar mengatakan bahwa jumlah penggangguran pada 2014 diprediksi menurun menjadi 7,24 juta orang (6,03 %). Jumlah ini lebih rendah dibanding jumlah pengangguran terbuka saat ini yang berjumlah 7,39 juta orang (6,25%) berdasarkan data BPS Sakernas, Agustus 2013. Sedangkan kesempatan kerja yang tercipta tahun depan diperkirakan mencapai 1,87 juta orang yang disediakan oleh 9 sektor lapangan usaha, sehingga diharapkan penyerapan pengangguran semakin tinggi. Meski begitu, jumlah pengangguran dari kalangan perguruan tinggi justru meningkat. Melalui Direktorat Pengembangan Karir dan Hubungan Alumni (DPKHA), Institut Pertanian Bogor (IPB) berupaya mengatasi masalah pengangguran dengan cara membina serta memfasilitasi mahasiswa dan alumni untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. “Jumlah pengangguran dari kalangan perguruan tinggi justru relatif meningkat. Sementara di lain pihak perusahaan mengeluhkan semakin sulit mendapatkan kandidat yang benar-benar sesuai dan sedikit yang memiliki kualifikasi memadai,” ujar Dr. Ir. Syarifah Iis Aisyah, M.Sc, Direktur Direktorat Pengembangan Karir dan Hubungan Alumni IPB. Untuk menyatukan kepentingan dunia usaha sebagai penyedia lapangan kerja dengan lulusan IPB dan perguruan tinggi lainnya, DPKHA-IPB menggelar “IPB Job Fair & International Scholarship Education Expo 2015” yang digelar di Graha Widya Wisuda IPB, Dramaga, Bogor pada 23-24 Mei 2015, kemarin. Sebanyak 38 perusahaan dari berbagai jenis usaha, baik nasional maupun regional berpartisipasi dalam rangkaian acara yang diisi dengan Career Expo, Scholarship Expo, Presentasi Perusahaan dan Scholarship, Talkshow dan Konsultasi Karir. Sekurangnya 3500 pengunjung yang merupakan lulusan IPB, mahasiswa dan alumni dari berbagai perguruan tinggi lain di Bogor dan sekitarnya, ikut memadati arena tersebut. Lebih lanjut Iis – begitu Syarifah biasa disapa, menjelaskan rendahnya penyerapan tenaga kerja disebabkan oleh rendahnya penyedia tenaga kerja. “Karena itu, seharusnya yang didorong adalah wirausaha. Sudah saatnya programprogram Corporate Social Responsibility (CSR) diarahkan untuk membiayai wirausaha,” ungkapnya. Ia juga menuturkan, pola dukungan CSR bisa dilakukan dalam bentuk hibah atau share profit. “Bisa saja dilakukan pembinaan dalam bentuk hibah, melalui seleksi tertentu atau bahkan didasari dengan prospek usaha dan diberlakukan share profit,” tambahnya. Hal ini menjadi salah satu cara untuk menengahi persoalan sulitnya pembiayaan wirausaha ketika mahasiswa dan lulusan tidak bisa memenuhi persyaratan perbankan dan lembaga pembiayaan yang berhubungan dengan jaminan bagi pinjaman modal.

Baca Juga :  Disdukcapil Kota Bogor Kini Miliki Layanan Dhrive Thru

(Rifky Setiadi)