Untitled-19

JELAS sudah, tak ada beras plastik. Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menjelaskan, dari hasil uji laboratorium tiga lembaga penelitian pangan yakni Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kemendag, dan Institut Pertanian Bogopr (IPB), tidak ditemukan beras berbahan plastik seperti diributkan sepekan ini.

YUSKA APITYA AJI ISWANTO
[email protected]

Isu beras campur plastik yang menggemparkan jagad pasar sem­bako memang menyita perhatian ma­syarakat. Tak sedikit yang mengaku resah. Polri telah melakukan pene­litian terhadap sampel beras yang disebut-sebut mengandung plastik.

“Kami simpulkan, beras yang diduga plastik tidak ada. Kami imbau kepada ma­syarakat untuk tak resah. Silakan lakukan pengecekan. Ini yang harus saya sampaikan mudah-mudahan ini memberi penjelasan kepada masyarakat,” kata Badrodin dalam jumpa pers di Kantor Presiden Kompleks Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Se­lasa (26/5/2015).

Dia menjelaskan alur waktu mencuatnya isu beras plastik yang pertama kali berem­bus di media sosial. Saat itu ada seorang warga Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat membeli beras dan terasa berbeda saat dimasak.

 “Ibu Dewi kemudian mem-posting di media sosial setelah merasakan beras yang dimasak seperti basi. Kemudian dia kirim laporan ke email BPOM tapi sep­ertinya alamatnya salah, sehingga dia lapor ke Polsek Bantarge­bang,” ujar Badrodin.

Dewi kemudian diperiksa ter­kait laporan tersebut dan segera diambil sampel beras yang ma­sih mentah dan sudah dimasak. Sampel itu kemudian diambil oleh laboratorium Sucofindo, Forensik Polri, Disperindag, dan Kemen­tan. “Dari hasil Sucofindo hasil­nya positif sehingga ditemukan adanya plastik sehingga Walikota Bekasi saat itu langsung mengelu­arkan pernyataan bahwa ada be­ras plastik,” kata Badrodin. “Tapi hasil yang muncul di laboratori­um forensik, Disperindag, BPOM, dan Kementan rupanya negatif,” lanjut dia.

Oleh karena itu, Polri langsung meminta sampel yang diteliti Su­cofindo untuk diteliti kembali di laboratorium forensik. Tetapi hasilnya tetap negatif. “Sehing­ga tak ada beras plastik,” sebut Badrodin.

Baca Juga :  Meminimalisir Tindakan Kriminal di Wilayah Perbatasan, Polisi Dirikan Pos Singgah

Terpisah, Dirut Perum Bulog Lenny Sugihat, juga memasti­kan bahwa Raskin (Beras untuk Rumah Tangga Miskin) tidak ter­kontaminasi beras plastik. “Media menduga raskin tercampur beras plastik. Kami kejar informasi itu, tidak benar di Karawang, Sleman, Gunung Kidul,” kata Lenny saat rapat kerja dengan Komisi IV di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2015).

Lenny menuturkan bahwa pengadaan Raskin murni dari dalam negeri. Bulog selalu meli­batkan petani dalam negeri dan mitra-mitranya harus memenuhi SOP dan memiliki rekomendasi dari dinas setempat. “Beras yang masuk ke gudang Bulog, sampai keluar, titik distribusi diawasi tim. Kalau diperlukan bisa dicek. Kami jamin beras raskin tidak terkon­taminasi beras plastik,” tandas Lenny lagi.

Meski isu itu tidak benar, Bu­log tetap siaga. Pengamanan gu­dang diperketat agar beras yang disalurkan bagi rakyat miskin dapat dipertanggungjawabkan. “Kami sudah instruksikan jaja­ran Bulog tingkatkan keamanan gudang dan tindakan proaktif ka­lau ada isu yang meresahkan ma­syarakat,” ujar Lenny.

Rapat kerja dengan Komisi IV ini juga dihadiri oleh Mentan Am­ran Sulaiman dan Kepala BPOM Roy Alexander Sparingga. Se­belumnya, Mentan menyatakan bahwa jika beras campur plastik itu benar-benar ada berarti masuk dari jalur ilegal.

Minta Tetap Diawasi

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo meminta seluruh ke­pala daerah terus melakukan pengecekan terhadap dugaan pen­jualan beras campuran platik. Ke­menterian Perdagangan juga harus memperketat pengawasan terha­dap distribusi penjualan beras.

“Kami kontak gubernur, bu­pati, walikota turun ke bawah melakukan pengecekan, sweep­ing, tidak hanya gudang tapi dis­tributor,” ujar Tjahjo di Gedung Arsip Nasional Republik Indone­sia Jl Ampera Raya No 7 Jakarta Selatan , Selasa (25/5/2015).

Tjahjo kembali menuturkan ada upaya sistematis terkait bere­darnya beras yang tercampur be­ras diduga berbahan sintetis. Me­mang belum diketahui darimana asal beras tersebut. Tjahjo meng­utip pernyataan Mendag menge­nai tidak adanya impor beras.

Baca Juga :  Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Kembali Raih Tiga Penghargaan Emas dalam ISDA 2021 Sekaligus

“Darimana beras plastik? be­rarti ada aliran masuk, tata niaga tidak kuat,” sebutnya. “Apa kerja Bulog kok masuk beras oplosan. Nggak mungkin orang jual be­ras plastik (seluruhnya) ini kan dicampur, menipu masyarakat,” ujar dia.

Karena itu Polri dan BIN dim­inta mengusut cepat dugaan pen­jualan beras sintentis. “Saya yakin bukan sekadar mencari untung. Beras campuran plastik lebih ma­hal, oplosan, itu makar,” imbuh Tjahjo.

Heboh beras sintetis bermula dari temuan Dewi Septiani. Peda­gang nasi uduk dan bubur ayam itu membeli beras di toko lang­ganannya pada 13 Mei. Namun keanehan muncul karena beras yang dimasak menimbulkan efek seperti keluhan mual dan sakit perut. Setelahnya Dewi membagi­kan informasi penemuannya ke Facebook dan Instagram dengan tujuan agar pengguna media sos­ial sadar dan berhati-hati membeli beras.

Terpisah, Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), juga menegaskan, tidak ada beras plastik seperti ra­mai yang diberitakan. Menurut JK, ada yang salah paham soal istilah beras plastik ini. “Jangan mem­berikan suatu istilah yang orang nanti salah tangkap. Saya kira saya yakin bukan plastik yang kita kenal sebagai plastik itu,” tegas JK di Kantor Wapres, Jakarta, Selasa (26/5/2015).

JK menegaskan, beras yang be­ning itu bukan berarti beras plas­tik. Seperti misalnya dahulu ada beras tekad atau beras dari bahan ketela, kacang, dan jagung. “Itu selalu mengatakan beras itu yang bening, itu bisa saja, dulu juga ada namanya beras “tekad”. Mungkin semacam itulah bahannya, yang memang bening. Bukan plastik kalau plastik dimasak itu pasti tidak bisa dong, hangus,” tegas JK. “Kalau keterangan yang saya pelajari di TV ya hanya masaknya kurang bagus. Kalau plastik tidak bisa hancur kan kalau dimasak, bukan plastik buat bungkus, bu­kan seperti itu,” tandasnya. (*)