HL---Kozer-(2)

Tidak ada liga, pastinya tidak ada penghasilan bagi pemain. Banyak pemain yang memutuskan turun ke pertandingan sepakbola antar kampung (tarkam) untuk mendapatkan dana segar

Oleh : ADILLA PRASETYO WIBOWO
[email protected]

Dihentikannya seluruh liga di Indonesia, buah perseteruan antara Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) dengan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) berimbas pada banyaknya pemain liga yang memutuskan untuk merumput di kompetisi tarkam untuk mencari tambahan dana segar. Mereka harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan perutnya terlebih ada pemain yang sudah bekeluarga, kebutuhan untuk mendapatkan uang harus mereka lakukan walaupun harus turun dalam turnamen tarkam alias antar kampung. Menyikapi Trofeo Charity Match di Stadion Persikabo, Bogor, Minggu (24/5/2015), di mana dalam pertandingan tersebut Persikabo keluar. Banyak pemain yang merasakan ini menjadi alternatif pemain untuk mendapatkan dana segar. Walaupun tak sebanyak dibandingkan bila liga itu bergulir namun turnamen seperti ini tentunya sangat membantu pemain untuk menyambung hidup. Gunawan Dwi Cahyo misalnya menyambut baik adanya turnamen seperti ini. Di tengah tuntutan hidup karena memiliki keluarga, ia pun mau menerima hal apa pun apalagi harus turun turnamen seperti ini, terlebih kemampuan dirinya hanya sebatas pemain bola saja. “Kita kan hidup dari sepakbola, kalau kompetisi berhenti, otomatis pemasukan juga berhenti. Mau bagaimana lagi, ditawari turnamen seperti ini saya mau saja, asalkan bisa menyambung hidup. Saya cukup apresiasi kepada orang yang peduli kepada nasib pemain dengan mengajak kita bermain di turnamen ini,” ujar Gunawan ditemui di lapangan seusai pertandingan. Hal sama juga diutarakan oleh pelatih Garuda All Star, Iwan Setiawan yang menilai turnamen ini banyak membantu pemain untuk bernafas dan bisa menambah pemasukan. Ia berharap konflik ini bisa terpecahkan dengan demikian kehidupan pemain di dunia bola Indonesia bisa kembali berjalan. “Turnamen seperti ini sekali lagi kalau boleh jujur banyak membantu kita-kita lah. Dengan diberhentikannya kompetisi maka tertutup nafkah para pemain. Ya jadinya dengan ada turnamen seperti ini maka adalah pemasukan sedikit-sedikit buat kita,” timpal arsitek Persela Lamongan ini. Tak hanya Gunawan, banyak pemain ISL pemain ISL macam Andritany Ardhiyasa, Nova Arianto, Diego Michiels, Mbida Messi, Ramdani Lestaluhu, Rahmat Afandi, dan Osas Saha, yang ikut turnamen ini. Sementara itu pihak promotor, Muhammad Ibnu Hakiki sengaja menyelenggarakan turnamen ini untuk menyentil kepada Kemenpora dan PSSI agar segera melakukan perdamaian, sebelum batas akhir pemberian sanksi FIFA kepada Indonesia yaitu tanggal 29 Mei 2015 “Sebenarnya ini acara spontanitas aja, acara ini memang sengaja menyentil dua kubu yang bertikai. Terlebih banyak elemen tak hanya pemain tetapi ofisial dan hal lain diluar sepakbola yang mati tak ada penghasilan akibat tak ada liga,” tambah Ibnu. Lebih lanjut banyak yang menarik dalam turnamen ini. Salah satunya hadiahnya yakni bahan sembako untuk para pemenang. “Yang menarik dari laga ini nantinya juaranya, topskor maupun pemain terbaik hadiahnya akan berbentuk sembako. Kenapa sembako karena sekali lagi ingin menyentil mereka tujuan mereka main bola ujung-ujungnya urusan perut. Bila pertandingan tidak ada mereka akan makan dari mana,” tandasnya. Terhentinya kompetisi sepak bola di Indonesia tak melulu berdampak buruk bagi pemain. Salah satu contoh positif datang dari bek berpengalaman Persita Tangerang Maman Abdurahman. Mantan penggawa Persib Bandung itu menyatakan, semenjak PSSI dan PT Liga Indonesia memutuskan tidak menggulirkan kompetisi di Tanah Air, ia jadi lebih banyak mendekatkan diri kepada sang pencipta. “Saat ini saya jadi sering berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berharap sama manusia sudah sering dikecewakan jadi saya lebih meminta pertolongan kepada Tuhan ,” kata Maman di Stadion Persikabo Bogor, Minggu (24/5). Meski demikian pria berusia 33 tahun tersebut tetap menginginkan bisa kembali bermain bersama rekan satu timnya. Sebab ia menilai bermain sepak bola merupakan gaya hidup yang tak bisa dilepaskan dari dirinya. “Saya rindu akan atmosfer kompetisi sepak bola di negara ini. Semoga kompetisi bisa secepatnya berjalan,” ujar pria bertinggi 1.74 meter itu.(*)

Baca Juga :  Kepulangan Eriska Agustina Atlet Tarung Drajat Asal Cisarua Peraih Medali Emas di PON XX