Untitled-14

Kekurangan hormon tiroid bisa menyebabkan anak tidak tumbuh dengan baik dan mengalami keterbelakangan mental atau mengalami hipotiroid kongenital

Oleh : ADILLA PRASETYO WIBOWO
[email protected]

Untungnya, hal ini bisa dicegah jika dilaku­kan Skrining H i p o t i r o i d Kongenital (SHK). Dokter Spesialis Penyakit Dalam- Konsultan Endokrin dan Metabolik Diabetes Achmad Rudijanto mengungkapkan, SHK harus dilakukan pada bayi berusia 3-5 hari.

Pada usia tersebut, ka­dar tiroid bayi sudah tidak bercampur dengan tiroid ibu. Jangan tunggu gejala muncul. Jika bayi hipotiroid dan terlambat ditangani, maka akan menyebabkan keterbelakangan mental yang permanen.

“Kalau segera dideteksi, setelah lahir bisa diberi hor­mon tiroid. Itu masih bisa menyelematkan otak bayi yang sejak dalam kandun­gan agak terganggu. Ka­lau lewat, perkembangan otaknya sudah menetap begitu, tidak bisa kembali lagi,” ujar Rudi, Selasa (26/5/2015).

Hormon tiroid berfungsi mengatur metabolisme tu­buh manusia. Jika mengala­mi kekurangan, maka me­mengaruhi fungsi seluruh jaringan dan organ tubuh.

Dampak kekurangan hormon tiroid bisa dialami bayi sejak dalam kandungan karena sang ibu pun men­galami kekurangan hormon tiroid. Kekurangan hormon tiroid pada ibu hamil salah satunya karena ibu kurang konsumsi iodium. Sayangn­ya, belum banyak ibu yang menyadari pentingnya SHK.

Direktur Bina Kesehatan Anak Kementerian Keseha­tan, Elizabeth Jane Soepardi mengatakan, pemerintah juga sudah memiliki pro­gram SHK. Sayangnya, pro­gram SHK baru dilakukan di 14 provinsi di Indonesia atau belum merata. Di luar program pemerintah, biaya SHK pun cukup terjangkau yaitu sekitar Rp 48.500.

Baca Juga :  Bahan Kimia Sintetis di Plastik Tingkatkan Risiko Kematian Dini dan Ibu hamil

SHK dilakukan dengan tes darah yang diambil dari bagian tumit bayi. “Kalau ketahuan hipotiroid , lang­sung minum obat. Ada yang seumur hidup dan semen­tara,” kata Jane.

Cakupan SHK di Indone­sia terbilang masih sangat rendah jika dibanding nega­ra lain seperti Tiongkok (54 persen), Filipina (50 pers­en), Vietnam (24 persen), dan Srilanka (80-90 persen).

Diperkirakan lebih dari 1,7 juta orang di Indone­sia berpotensi mengalami gangguan tiroid dengan rasio kasus HK 1:2736. Bila tidak dilakukan intervensi, diperkirakan 16-26 tahun mendatang sekitar 24 ribu- 39 ribu penduduk Indone­sia berpotensi menyandang keterbelakangan mental.

ASI Eksklusif

Air susu ibu (ASI) meru­pakan makanan terbaik bagi bayi dan diberikan minimal pada 6 bulan pertama kelahi­ran bayi. ASI mencukupi se­mua kebutuhan nutrisi bayi, seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral.

ASI juga mengandung zat kekebalan tubuh dari ibu yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit. Sayangnya, sering kali pem­berian ASI selama 6 bulan pertama dicampur dengan susu formula. Alasannya, ASI sudah tidak keluar dari payudara ibu atau tidak cukup memenuhi kebutu­han bayi.

Baca Juga :  15 Oktober Diperingati Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia, Intip Yuk Sejarah Singkatnya

Pengajar Departemen Ilmu Gizi Fakultas Keseha­tan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), San­dra Fikawati mengatakan, hal itu sering terjadi karena kurangnya pengetahuan ibu hamil mengenai manfaat luar biasa dari pemberian ASI eksklusif. “Banyak yang ternyata tidak tahu pent­ingnya ASI eksklusif. Sete­lah tahu, kemudian menye­sal. Saya tidak mau banyak ibu-ibu menyesali tindakan­nya,” kata Fika.

Menurut Fika, semua ibu bisa memberikan ASI eksklusif dengan lancar jika asupan gizinya baik sejak mengandung maupun sete­lah melahirkan. Setiap ibu pun harus memiliki niat yang kuat untuk tetap mem­berikan ASI eksklusif dan tetap berusaha ketika ASI mulai sulit keluar. “Jangan ketika ASI tidak keluar lang­sung memberikan bayi susu formula,” kata dia.

Pada 6 bulan pertama kehidupan, sistem imun bayi belum sempurna dan organ pencernaannya be­lum matang sehingga mem­butuhkan asupan gizi yang mudah dicerna. ASI juga mengurangi risiko bayi terk­ena alergi.

Banyak penelitian men­gungkapkan, pemberian ASI juga membuat bayi me­miliki risiko lebih rendah terkena penyakit degener­atif, seperti darah tinggi, diabetes, dan obesitas.

Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan ini pun ter­masuk dalam pentingnya asupan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan bayi. Gizi yang baik pada awal ke­hidupan menentukan masa depan anak.(*)