Untitled-12

BANK sampah saat ini mungkin bu­kan suatu istilah yang terlalu asing di masyarakat. Sebagian masyarakat sudah memahami dan bahkan memanfaatkan bank sampah. Di berbagai daerah, bank sampah telah menunjukan fungsinya se­bagai lembaga ekonomi masyarakat yang berperan sebagai pemacu peningkatan pendapatan masyarakat.

Di beberapa sekolah, saat ini bank sampah sudah dikembangkan sebagai unit yang mendukung kegiatan pembelajaran tentang lingkungan. Sekaligus menum­buhkan kesadaran terhadap para siswa tentang perlunya menangani sampah yang merupakan ancaman polusi lingkungan.

Di Kota Bogor, bank sampah juga mu­lai bergeliat. Menurut catatan Dinas Ke­bersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Bo­gor, saat ini sudah terbentuk 11 unit bank sampah yang dikelola oleh berbagai elemen masyarakat. Kedepan direncanakan akan ditumbuhkan minimal 1 unit bank sampah di setiap kelurahan. Bank sampah bisa berfungsi lebih efektif apabila melakukan kegiatan Reduce, Reuse dan Recycle (3R).

Pengembangan Bank sampah sebagai bagian dari konsep TPS 3R, sekarang men­jadi pilihan yang terus dilakukan DKP untuk mengurangi beban pengangkutan sampah ke TPA Galuga. Terutama di wilayah yang belum terlayani oleh angkutan sampah. Melalui TPS 3R masyarakat diajak un­tuk memilah dan mengurangi sampah di sumber, agar volume sampah yang harus diangkut ke TPA bisa berkurang. Sampah cukup ditangani sendiri oleh warga.

Pembangunan sebagian TPS 3R diini­siasi oleh warga masyarakat dan sebgaian lain oleh DKP. Terhadap semua TPS 3R, DKP memberikan dukungan dalam berba­gai bentuk, seperti pembangunan sarana dan prasarana serta memberikan bebera­pa jenis peralan pendukung. Diantaranya seperti alat pembuat kompos.

Baca Juga :  Tenggak Miras Oplosan 4 Sopir Angkot Tewas, Satu Kritis

Untuk bisa mengembangkan TPS 3R menurut Kepala Bidang Pembinaan Pengelolaan Sampah DKP, Ir. Dian Herdiawan, masyarakat perlu mengubah cara pan­dangnya terhadap sampah. “Sekarang ini sampah sudah bisa dilihat sebagai sesuatu yang berkah dengan menjadikannya seba­gai komoditas ekonomi,” katanya.

Apa yang dikatakan Dian, sudah ban­yak terbukti. Misalnya seperti yang di­lakukan oleh komunitas Salam Rancage di Tanah Baru. Mereka telah memanfaatkan sampah, terutama kertas koran sebagai pengganti rotan. Dengan bahan itu mere­ka mampu menghasilkan beragam barang anyaman koran yang bernilai jual.

“Produk kami diantaranya sudah ada yang diekspor ke Italia dan Singapura,” kata Aling Nurnaluri, pengelola Salam Ran­cage yang menjadikan kegiatan mereka sebagai gerakan pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar Tanah Baru. Sudah lebih dari seratus orang yang terlibat pada kegiatan mereka dan karena itu mereka memperoleh tambahan penghasilan.

Saat ini di Kota Bogor sedikitnya sudah dibangun 13 unit TPS 3R, yang akan terus dikembangkan jumlahnya. Tiga dianta­ranya berada di RW X Perumahan Griya Katulampa, dan RW XVII Perumahan Muti­ara Bogor Raya di Kecamatan Bogor Timur, serta di RW 06 Kelurahan Kertamaya Ke­camatan Bogor Selatan. “Meskipun sudah banyak kelompok atau perorangan yang mengelola TPS 3R dan yang juga berhasil menjadikan sampah menjadi komoditas bisnis, kami masih terus berusaha mem­perbanyak TPS3R,” kata Dian.

Hal itu dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan cakupan wilayah pe­layanan kebersihan dan mendukung penye­diaan fasilitas pengurangan sampah perko­taan. Untuk kebutuhan tersebut masih perlu disediakan lahan bagi pengelolaan sampah 3R, dan pada tahun lalu telah dilakukan pe­nyediaan lahan di 2 lokasi, yaitu di Kelura­han Ciparigi dan Kelurahan Cibadak.

Baca Juga :  36 SD di Kota Bogor Siap Laksanakan Pembelajaran Tatap Muka

Selain memperbanyak jumlah, kede­pan DKP berencana mengembangkan fungsi TPS 3R. “Kedepan TPS 3R akan dikelola menjadi sebuah kawasan hijau,” lanjut Dian, sehingga TPS 3R tidak saja menjadi tempat pengelolaan sampah yang bersih tetapi juga hijau dan nyaman. Lokasi TPS 3R yang rata-rata memiliki la­han relatif luas, sangat layak ditata dengan menambahkan taman-taman di sekitarnya, agar bisa menjadi tempat yang enak dilihat dan nyaman dikunjungi. Tidak bau dan tidak kotor, seperti gambaran umum tempat pembuangan sampah selama ini.

Selain itu menurutnya akan dikem­bangkan pula konsep green waste, yang akan memanfaatkan TPS 3R sebagai TPS penghasil energi bio gas. “Sampah organik yang ditampung di TPS akan diolah sede­mikian rupa sehingga dapat diubah men­jadi energi listrik,” katanya. Dengan begitu produk yang dihasilkan TPS 3R menjadi lebih beragam.

TPS 3R selama ini pada umumnya su­dah bisa menghasilkan pupuk kompos dan berbagai barang hasil daur ulang sampah, serta penjualan material tertentu yang bisa didaur ulang dalam skala indusri. Dengan konsep green waste, TPS 3R juga bisa menghasilkan bahan bakar gas. Dalam skala besar, bukan mustahil pengelolaan sampah bisa menjadi bagian dari solusi mengu­rangi ketergantungan manusia pada energi berbahan fosil yang dihasilkan alam. Itu sebuah bukti lain, sampah bisa mendatang­kan berkah bagi kehidupan.

(Adv)