megawati-(1)

JAKARTA, TODAY—Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri mengaku kesal dengan pejabat yang senang atas perpanjangan kontrak perusahaan asing yang meraup kekayaan Indonesia. Kekesalan putri Bung Karno ini di­tumpahkan saat dia memberikan kuliah umum di Lemhannas.

Mega menumpahkan keke­salannya mulai dengan cerita ayahnya, Soekarno, ketika ditemui miliarder Aristotle Onassis untuk menyewa Papua Barat pada 1964. Orang terkaya dunia dari Yunani itu, ingin investasi pertambangan. Istilah menyewa itu dianggap oleh Mega sebagai bentuk pengerukan kekayaan Nusantara untuk asing.

“Ayah saya pernah bertemu dengan Onasiss, hanya untuk menyewa yang namanya Papua Barat. Bayangkan, kalau saya langsung berpikir menyewa Papua Barat. Art­inya, ya akan mengambil kekayaan kita,” kata Mega dalam kuliah umum di Lemhannas, Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis (28/5/2015).

Mega lalu membandingkan Onasiss yang tawarannya ditolak Bung Karno dengan kondisi saat ini. Ketika pejabat dianggap Mega merasa senang saat berhasil memperpanjang kontrak perusahaan asing untuk menggali kekayaan Indonesia bukan untuk bangsa In­donesia. “Artinya, sama saja investor minta perpanjangan dan para pejabat Indonesia senang. Saya bingung, ndak tahu ya, saya kok kesal ya,” ujar Mega.

Hal itu membuatnya bertandatanya, apakah tidak ada anak bangsa yang mampu mengolah kekayaan Tanah Air untuk bangsa sendiri? “Memang tidak ada apa, kita punya banyak orang pintar untuk mampu menggali apa yang kita gali untuk kebutuhan rakyat banyak,” kata Mega.

Kemudian Mega membandingkan hal tersebut dengan Timur Tengah saat proses demokratisasi berjalan di sejumlah negara di Arab tersebut. Namun ia menyinggung Arab Saudi yang dianggap diktator dan otoriter akan tetapi mampu menguasai kekayaan neg­erinya untuk bangsanya sendiri dan kini raky­atnya menjadi makmur.

“Kalau ada kata-kata bagus, Arab Springs, sepertinya semuanya pemerintahan di Arab itu otoriter dan diktator. Untuk bisa terjadi demokratisasi, dibuat apa yang terjadi di Irak dan Libya,” ucap Mega. “Sebenarnya di balik proses itu kehendak untuk menguasai sumber daya minyak. Oleh sebab itu, kenapa harga minyak sekarang hancur? Karena Arab Saudi melihat seperti itu tak mau menurut Amerika. Dia terus saja memproduksi min­yaknya. Jadi perlu dibuat telaah sangat tajam mengenai masalah Timur Tengah ini,” tam­bahnya kepada ratusan peserta kuliah umum.

Baca Juga :  5,392 dari 84,729 Balita di Kota Bogor Mengalami Stunting

Menurut Megawati, ada yang hilang dalam demokrasi Indonesia saat ini. Ia menyinggung soal 4 kali amandemen UUD dan posisi MPR yang tidak lagi menjadi lembaga tertinggi.

“Setelah reformasi, lembaga-lembaga ini terutama MPR itu diturunkan menjadi sama. Saya menjadi pengikut waktu itu mengatakan melalui fraksi saya, itu jangan diubah,” kata Mega.

“Karena kita suka sekali mengucapkan singkatan sehingga substansi menjadi hi­lang. Padahal MPR itu adalah Majelis Per­musyawaratan Rakyat. Majelis itu lalu mau disamakan dengan Dewan Perwakilan. Apa salahnya ini?” tambah Mega.

Mega mengaku bukan ahli tata negara na­mun merasa logika posisi Majelis dan Dewan tak bisa disamaratakan. Hal ini yang mem­buat Mega merasa ada yang hilang dari De­mokrasi Indonesia.

“Saya bukan ahli tata negara tapi dengan logika berpikir saya, ketika para pendiri nega­ra ini, adalah majelis di mana rakyat melaku­kan musyawarah. Apa itu bukan demokrasi?” ujar Mega. “Itu demokrasi. Saya bilang, ada yang hilang dalam demokrasi kita,” tambah Mega.

Pertanyakan Fungsi Orangtua

Pada bagian lain Megawati merasa aneh banyak anak-anak yang terkena narkoba. Ia mempertanyakan fungsi orangtua dari anak muda yang terjerat narkoba.

“Mengapa anak-anak itu banyak sekali yang kena narkoba ya? Ibunya ke mana ya?” kata Mega. “Kalau sibuk, saya juga sibuk tapi kok kena anak-anak itu? Aneh buat saya,” tambahnya.

Mega berpendapat permasalahan tentang narkoba sama dengan persoalan HIV/AIDS di Indonesia yang kebijakannya menuai pro dan kontra. Walau begitu, menurut Mega, ma­salah narkoba bukan masalah kelompok atau orang tertentu tapi masalah bangsa.

“Ketika saya mencoba untuk berbicara narkoba dan HIV/AIDS, waktu menjadi pres­iden, kelihatan sekali menolak itu, di kami tidak ada. Ini bukan urusan kelompok, ini urusan bangsa,” ujar Mega.

Baca Juga :  Viral Pesepeda Jadi Korban Jambret Handphone, Netizen : Jangan Lapor Polisi, Lapor Damkar Aja

Kemudian Mega melontarkan pertan­yaan kepada ratusan peserta Lemhannas, tema perkuliahan umum tersebut terkait narkoba. Ia bertanya-tanya ketika polisi mengungkap kasus narkoba, mengapa tak menunjukkan seluruh barang bukti?

“Kok saya tidak pernah lihat fotonya ya? Kalau dibuka begitu, umpama 10 kg diambil 1 kg saja sudah berapa harganya? Ya itu kan pertanyaan, bolehlah,” ucap Mega yang disu­sul tawa para peserta kuliah umum.

Kemudian Mega menyinggung masalah keadilan di Indonesia, ia mengaku ayahnya Bung Karno tak pernah diadili di pengadi­lan tapi mendapatkan hukuman. Mega lalu membandingkan dengan Soeharto yang mendapatkan pengadilan namun karena sakit dan meninggal, pengadilan itu dihenti­kan.

“Kenapa dulu Ayah saya tidak diadili ya? Padahal bolak balik kita tanya kenapa, Pak Harto saja diadili. Memang hukum di Indone­sia ini tidak berkeadilan,” ucap Mega.

Mega juga mengaku mumet ketika mem­bicarakan persoalan Pilkada serentak tahun ini. Menurutnya, banyak persoalan mulai parpol yang pecah hingga revisi UU Pilkada.

“Saya bayangkan kalau ini semuanya be­gini, saya pikir sudahlah dulu. Tapi sekarang menurut saya selalu akan ada Pemilu. Pilkada serentak? Olala, sebagai ketua umum parpol terbesar sekarang ini, saya sendiri mumet,” kata Mega. “Biayanya belum, tanggalnya mundur maju,” tambahnya.

Ia pun bercerita ketika dirinya menan­yakan seorang anggota Polri terkait kesiapan polisi dalam pelaksanaan Pilkada serentak. Menurutnya, anggota Polri itu menyatakan kepolisian belum siap karena keterbatasan anggota. “Tanya ke polisi, siap nggak menga­mankan? ‘Ndak siap Bu’, kan mesti siap. Polisi kan jumlahnya 450 ribu anggota,” ujar Mega.

“Padahal saya dulu ingin polisi itu jadi sejuta supaya rasionya sebanding. Tapi ada yang tidak setuju, bla bla bla, ya tidak apa-apa. Kan cuma ngomong saja toh. Jadi mau­nya apa kita sekarang? Itu pertanyaan saya,” tambahnya.

(Yuska)