image(1)

Budidaya ikan Lele kian diminati para peternak karena pasarnya yang terus berkembang. Seperti yang dilakoni oleh Rizki Nugraha. Usaha yang dimulai dengan bermodalkan empat ekor ikan ini, kini tumbuh menjadi budidaya dengan empat kolam Lele.

Oleh : Guntur Eko Wicaksono
[email protected]

Ya, Lele merupakan salah satu jenis ikan yang sanggup hidup dalam ke­padatan tinggi. Ikan ini memiliki tingkat konversi pakan menjadi bo­bot tubuh yang baik. Dengan sifat seperti ini, budidaya Lele akan sangat mengun­tungkan bila dilakukan sec ara intensif.

Berawal dari iseng mengonsumsi Lele yang Ia pelihara di kolam kecilnya, sekarang telah menjadikan lahan usaha sampingan untuk Rizki Nugraha atau biasa dipanggil Iqiw (20). Ia men­gaku, membudidayakan Lele dirumahnya su­dah sejak 2014. “Tadinya iseng melihara empat ekor yang mau bertelur, eh gataunya anaknya jadi banyak dan pas udah gede ternyata luma­yan menguntungkan,” ungkap Iqiw kepada BO­GOR TODAY.

Bertempat di Jalan Raya Ciapus, Gang Padmo Soedarmo RT 02 / RW 07 No 14, Iqiw menjalani bisnis budidaya lele dengan dibantu saran oleh ayah tercintanya. Ia juga mengaku banyak ham­batan dalam memelihara Lele.

Kendala yang dihadapi oleh Rizki adalah dalam hal pemeliharaannya yang ia nilai gam­pang-gampang susah. “Memelihara lele tuh gampang-gampang susah, tapi ga sedikit juga yang mati kalau kurang atau kelebihan ngasih pakannya dan juga ribetnya harus ngukur kadar air di kolam jangan sampe si lele stres,” terang­nya.

“Tapi semua itu bisa dilalui karena sudha ter­biasa. Dari empat ekor, sekarang punya empat kolam. Keuntungan yang di dapat untuk satu kali panen adalah Rp5 jutaan,” pungkasnya.

Lele Sangkuriang

Pelaku budidaya Lele lainnya adalah Muklis. Berlokasi di Desa Cibanteng, Kecamatan Dra­maga, Kabupaten B ogor, Jawa Barat, Muklis me­milih jenis Lele Sangkuriang. Menurutnya, budi­daya ini dapat mengembalikan investasi dalam jangka waktu cepat, asalkan memenuhi dua syarat, yakni manajemen usaha dan teknolo gi tepat guna.

Ia menjealskan, dari sisi manajemen adalah bagaimana mengelola usaha agar efisien dan efektif dengan memberikan untung optimal. Manajemen tersebut meliputi pengelolaan perkolaman, bisnis dan sumber daya manusia. “Ini sangat menentukan keberhasilan usaha budi daya seseorang,” katanya.

Mukhlis merupakan salah satu peternak lele sangkuriang yang cukup berhasil di desanya. Se­lama tiga tahun ia menggeluti budi daya ikan ber­kumis tersebut hingga kini dia telah memiliki 37 kolam pembenihan dan 30 kolam pembesaran.

Ia mengatakan, ikan lele sangkuriang sudah dapat dipanen dalam waktu tiga bulan, sedang­kan ikan gurami, emas dan nila membutuhkan waktu lebih lama yakni 8 hingga 9 bulan untuk bisa dipanen.

Efisiensinya budi daya ikan lele sangkuriang menjadi dasar Muklis memilih menggeluti budi daya ikan asal Afrika tersebut. Menurut dia, budi daya ikan lele sangkuriang lebih menjan­jikan dibanding budi daya lele dumbo. “Masa panen lele sangkuriang lebih cepat dibanding­kan lele dumbo dan ikan t awar lain,” katanya.

Dijelaskannya, ikan lele sangkuriang memi­liki nilai gizi yang tinggi dibanding ikan air tawar lainnya, karena mengandung Omega3.

Ia menambahkan, setiap dua hari kolam yang dikelola sudah dapat dipanen. Hal terse­but dikarenakan pengaturan penanaman dan banyak kolam. Saat ini ia sudah menghasilan 75 ribu benih dan 8 ton ikan lele sangkuriang per bulan dengan omzet menc apai Rp150 juta.

Jumlah tersebut, katanya, belum dapat memenuhi kebutuhan pasar lele sangkuriang, karena tingginya permintaan yang sehari dari satu pasar mencapai 1 ton. Permintaan ikan lele sangkuriang dari Jakarta dan Bo gor cukup ban­yak, yakni sebesar 200 ton per hari. Sementara kemampuan petani maksimal hanya 30 persen per hari.

(Guntur Eko Wicaksono)