IMG-20150301-WA0107

BANYAK orang bisa memainkan gitar. Tetapi tidak banyak yang mampu menyatukan keahlian ini sebagai kegiatan bersama. Para pemetik dawai ini tak hanya berbagi keahliannya bermain gitar, tapi juga memberi irama tersendiri di kancah musik Bogor.

.

Oleh : RIFKY SETIADI
[email protected]

Ada irama berbeda saat komunitas Bogor Guitar Funatics (BGF) melakukan Gathering ke-8 di Wajan Bekas Cafe tahun ini. Acara yang digelar pada Sabtu (09/05/2015) dihadiri oleh Maestro Bass Indonesia, Indro Hardjodikoro yang tampil manis dan memukau dengan gaya khas permainan Indro. Pemusik yang mulai tertarik bermain bass sejak SMA ini, hadir dengan membawakan 1 lagu berjudul ‘Your Love’ dari album terbarunya “Cerita Baru”. Album yang menceritakan perjalanan Indro selama bermusik hingga menjadi musisi profesional ini, secara konsep mempresentasikan instrumen seperti yang dihadirkannya dalam Gathering BGF ke-8. Selain ‘Your Love’ juga dibawakan lagu ‘Psycopath’ dari album solonya yang pertama, “Feels Free” yang digarapnya bersama para musisi seperti Demas Narawangsa (drum), Lal Intje Makkah (keyboard/ synthesizer), Tohpati Ario Hutomo (guitar), Irfan Chasmala (keyboard), dan Oele Pattiselano (guitar). Kehadiran Indro di event yang penuh kehangatan itu juga dilengkapi dengan permainan solo bebas yang mengundang decak kagum. Indro tampaknya makin kental dalam permainan corak jazz fusion. Warna yang merupakan hasil dari perjalanan musiknya selama ini. Pilihan Indro terhadap instrumen bass memang tidak keliru. Karena menurut Indro, perkembangan bass di Indonesia saat ini tidak terlalu jauh dengan di luar negeri dimana standar permainan para pemainnya sudah mengalami peningkatan signifikan. Berbeda dengan perkembangan gitar yang diakuinya masih belum selaras dengan di luar negeri. “Pokoknya Indonesia berani diadu deh. Saya berani jamin itu. Apalagi saat ini banyak komunitas musik maupun komunitas bass yang sedikit banyak membantu perkembangan para musisi di sini,” tandas lelaki kelahiran Jakarta, 14 Desember 1968 di tengah para gitaris Bogor. Acara Gathering ke 8 anggota BGF memang telah memberi harmoni baru dalam perkembangan dan geliat musik di Bogor.

Baca Juga :  Bahan Kimia Sintetis di Plastik Tingkatkan Risiko Kematian Dini dan Ibu hamil

6281280958438-1425017579BGF memang sering menggelar berbagai aktivitas bagi anggota dan para pecinta musik umuumnya. Berbagai kegiatan diantaranya menggelar diskusi, sharing, klinik, jam session dan acaraacara musikal berorientasi gitar dan bass yang bertujuan untuk saling berbagi ilmu dan menggali potensi para anggotanya. “Banyak hal membuat saya membentuk komunitas ini. Salah satunya agar terbina tali silaturahmi di antara para gitaris dan bassist di wilayah Bogor,” jelas Riki Noviana yang berusaha menyatukan para penghobi gitar dalam satu wadah Bogor Guitar Funatics (BGF) ini. Selain itu, komunitas ini juga berfungsi sebagai tempat untuk membina kreativitas bermain gitar dan seni musik anak muda Bogor. BGF merupakan wadah berkumpulnya para gitaris dan bassis yang berdomisili di seluruh wilayah Bogor, dari semua tingkatan usia, dan semua genre musik. Terbentuknya perkumpulan ini berawal dari obrolan santai di grup Blackberry Messanger/WhatsApp pada 30 Agustus 2014 yang ditindaklanjuti para anggotanya melalui pertemuan di kedai- kedai kopi dan studio musik. Latar belakang dibentuknya BGF didasari karena adanya kecenderungan sentimen kedaerahan berlebihan yang mengakibatkan munculnya rasa kurang percaya diri bagi salah satu pihak atau pengeksklusifan diri bagi pihak lainnya. Dengan adanya BGF, para gitaris dan bassis yang berada di seluruh wilayah Kabupaten dan Kotamadya Bogor diharapkan bisa berjalan bergandengan dan tidak lagi dibatasi oleh tembok pemisah. Penggunaan kata ‘funatics’ sendiri menurut Riki mempunyai arti tersendiri, yaitu sebagai kata pelesetan penggabungan dari kata ‘fun’ dan ‘fanatics’. “Karena kami ingin ada sisi kesenangannya (fun), maka digabunglah antara fun dan fanatics jadi ‘funatics’,” paparnya. Tak hanya itu, BGF juga mengharapkan agar berkembang menjadi wadah sosial, yang mampu menjadi sarana partisipasi dan kepedulian gitaris dan bassist di wilayah Bogor. Mereka berharap memberikan sumbangsih karya, kreativitas, pemikiran, dan ilmu pengetahuan bagi seni musik di Indonesia. Salah satu cara mereka adalah dengan aksi sosial dan pengerjaan album, yang menjadi agenda utama mereka. Saat ini anggota BGF sudah mencapai sekitar 150 orang dimana beberapa di antaranya merupakan gitaris/bassis sejumlah band ternama Indonesia dan juga band yang sudah dikenal di seputar Bogor. Sebut saja Koko Seurieus, Adnil Faisal (The Bangor, eks Base Jam dan eks Evo), Ei Repvblik, Iyak bassis Cupumanik, Acoy ‘Rocker Kasarunk’, Marcell Hadisaputro (Dean Guitars endorsee), Shena Kesna Band, Hilman ex Masker, Ebel Listya dan Nesya (D’Bamby), Abel dan Cimot dari Jasmine. Bahkan ada juga dari kalangan media seperti Riki Noviana (managing editor GitarPlus.net) dan Dhani Ramdani (music director Kisi FM). Kekuatan gerak komunitas ini telah menjadi irama hebat yang sanggup menggetarkan gerakan kaum muda menuju arah positif. BGF juga patut menjadi kebangaan, dengan irama yang harmoni demi kemajuan musik. Melalui gitar, mereka mendendangkan satu nama dan tekad yang sama: Bogor!

Baca Juga :  Perempuan Ini Bikin Shock Orang Tua Karena Mengaku Sebagai Penari Telanjang