HL-(2)

BAGAI menggarami air di lautan. Itulah penilaian yang diarahkan pada mereka yang bermimpi bersihnya Sungai Ciliwung. Gambaran kelam masa depan sungai ini, menjadi potret hitam putih yang seolah tak lagi memiliki warna hidup. Pekerjaan membersihkan sungai Ciliwung pun, dianggap sebagai perbuatan sia-sia.

Oleh : RIFKY SETIADI
[email protected]

Kondisi kerusakan sungai Ciliwung yang membentang dari dataran tinggi Jawa Barat hingga Teluk Jakarta, semakin parah. Kondisi kritis itu bahkan cenderung sema­kin meningkat. Menurut inventarisasi Kementrian Lingkungan Hidup, kondisi kritis Daerah Aliran Sungai (DAS) tahun 1984 terhitung sebanyak 22. Di tahun 1992, DAS Kritis menjadi 39, dan pada 1998 jumlah DAS Kritis terus meningkat menjadi 55 DAS dan bahkan menjadi 62 DAS di tahun 2010. Sungai Ciliwung termasuk ke dalam salah satu DAS kritis di Indonesia dan tengah mengalami kerusakan serius pada semua segmen.

Hilangnya spesies ikan menjadi salah satu indikator keparahan rusaknya Sungai Ciliwung. Dari 33 spesies ikan yang teridentifikasi hidup di sungai Ciliwung, hanya tersisa sekitar 20 jenis saja. Berbagai jenis ikan yang hilang dari sungai penting di wilayah Bogor-Jakarta ini diantaranya ikan gobi dan jenis seperti ikan arelot, ikan soro, ikan berot hingga ikan belida yang kini semakin sulit dijumpai dan hanya dapat ditemukan di sun­gai Cisadane saja. Padahal, menurut data yang pernah dihimpun oleh Biologi LIPI menyebutkan di era 1910-an jumlah ikan spesies ikan yang hidup di sungai Ciliwung diperkirakan bisa mencapai 187 jenis.

Berbagai informasi bahkan menyebutkan ber­bagai jenis ikan seperti menga, ikan bawal, ikan patin, ikan gehed (sejenis ikan mas), sili, baung lilin, baung kuning, gurame dan buntal air tawar ikut menghilang dari aliran sungai ini. “Banyak ikan-ikan asli Ciliwung yang sebenarnya dapat di­manfaatkan oleh masyarakat untuk memberikan nilai tambah ekonomi maupun menjadi spesies khas dari sungai ini, entah untuk dikembangkan maupun untuk olahraga memancing atau bahkan menjadi konsumsi,” ungkap Ruby Vidia Kusumah, aktivis Komunitas Peduli Ciliwung (KPC-Bogor) sekaligus peneliti pada Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok. Ancaman nyata lingkungan di aliran sungai yang mengalir dari daerah Pun­cak di Jawa Barat hingga Jakarta ini semakin tak tak terhindarkan. Kondisi lingkungan kualitas air menurun akibat pencemaran limbah domestik dan industri dan siklus hidrologis yang fluktuatif. Padatnya pemukiman dan peruntukan industri di sepanjang aliran sungai ini, telah menyebab­kan berkurangnya lokasi-lokasi bagi sungai untuk melakukan sistem pulih dirinya sendiri. Salah satu lokasi ‘sistem pulih diri’ sungai Ciliwung adalah ketika aliran sungai melintas di Kebun Raya Bogor. Lokasi ‘sistem pulih diri’ ini sekaligus merupakan lokasi reservat yang baik yang secara layak dapat menjadi habitat bagi spesies-spesies biota yang ada di Ciliwung.

Baca Juga :  7 Air Hujan Ternyata Dapat Menyehatkan Loh, Apa Saja Manfaatnya? Yuk kita intip

Kenyataan miris bahkan diungkapkan oleh Pusat Pengelolaan Ekoregion Jawa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang me­nyatakan dari sembilan sungai di Pulau Jawa, SungaiCiliwung menempati urutan pertama seb­agai daearah aliran sungai terburuk dalam rilis In­deks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) berbasis DAS. Sembilan DAS tersebut yaitu Bengawan Solo, Brantas, Ciliwung, Cisadane, Cimanuk, Citarum, Citanduy, Progo, dan Serayu. “Air di sungai-sungai tersebut tidak layak. Kualitas air masih berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat,” kata Kepala PPE Jawa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sugeng Priyanto.

Ia mengatakan kualitas air yang paling buruk dari sembilan DAS tersebut dengan skala 0-100 adalah Sungai Ciliwung. Sementara yang tertinggi adalah Sungai Progo. “Itu baru dilihat dari aspek air. Padahal ada aspek lain yang juga bisa men­gukur IKLH-nya,” ujarnya. Aspek atau komponen selain air kata dia, juga ada aspek udara, lahan dan keanekaragaman hayati. Pada aspek sumber­daya air digunakan indikator kualitas air sungai dan kekritisan air. Pada aspek udara digunakan indikator kualitas udara ambien dan pengatur kualitas udara. Pada aspek lahan menggunakan indikator tutupan vegetasi dan lahan kritis. Se­dangkan pada aspek keanekaragaman hayati di­gunakan indikator keamanan ekosistem pengawet keanekaragaman hayati. “Seluruh air sepanjang Ciliwung berada di bawah baku mutu kualitas air. Sampah dan limbah selain mencemari juga men­gurangi habitat ikan asli. Karena tercemar, ma­syarakat pinggir sungai juga kehilangankesempa­tan pemanfaatan air,” tangap M. Muslich, aktivis Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Bogor.

Penyusuran sungai Ciliwung yang dilakukan KPC Bogor pada 2011 mencatat berbagai kondisi dan data yang perlu disikapi bersama. Dari keg­iatan susur tersebut tercatat 134 titik sebaran sam­pah, 103 titik perumahan dan/atau villa di bantaran Ciliwung, 87 titik anak sungai atau muara sungai, 163 titik mata air, 94 jembatan baik besar maupun kecil, 21 titik delta, 24 tempat pemancingan/kolam ikan, dan 353 titik buangan limbah baik dari in­dustri maupun rumah tangga yang tersebar dari daerah Cibinong, Citayam hingga Stasiun Depok Lama dan Pondok Cina, Depok. “Tidak jarang kami menyaksikan warga membuang sampah ke CIliwung ketika KPC sedang beraksi memulung di sungai. Dari situlah KPC mencari cara untuk mengajak peduli dan tidak lagi membuang sam­pah ke Ciliwung. Akhirnya tercetuslah ide untuk menyelenggarakan lomba mulung,” tambah Ang­git Saranta, anggota KPC Bogor.

Baca Juga :  Facebook Berencana Mengubah Citra Perusahaan Dengan Nama Baru Pekan Depan

Lomba mulung ini diikuti oleh kelurahan yang dilewati oleh Sungai Ciliwung. Ada beberapa kri­teria yang dinilai dalam lomba mulung: 1) jumlah warga yang mengikuti lomba; 2) jumlah karung berisi sampah anorganik yang berhasil dikum­pulkan; 3) kreativitas dan dukungan dari warga. Dari kirtieria tersebut, kelurahan yang mendapat­kan poin tertinggi akan menjadi pemenang dan mendapatkan piala bergilir dari Walikota Bogor serta sejumlah uang tunai yang disediakan pani­tia.

Hari ini, Sabtu (30/05/2015) upaya membersi­hkan Sungai Ciliwung tetap dilakukan secara kon­sisten oleh Komunitas Peduli Ciliwung dan Pem­kot Bogor sebagai bagian dari gerakan di Hari Jadi Bogor Ke-533 dalam Lomba Mulung Sampah Cili­wung. 13 Kelurahan se-Kota Bogor siap mengikuti dan men-sukseskan Lomba Mulung ke-7 bertema “Hayu Urang Koroyok Runtah Ciliwung”. Seban­yak 3000 warga yang berada di sepanjang 26 km aliran sungai Ciliwung, ditargetkan mengangkat sampah di 45 titik pemulungan. Selanjutnya sam­pah dipusatkan di 25 titik pengangkutan, lang­sung diangkut kendaraan yang telah disiagakan oleh DKP Kota Bogor. “Kami menghimbau kepada seluruh masyarakat Kota Bogor, khususnya yang ada di bantaran sungai Ciliwung untuk berparti­sipasi ikut serta dalam rangka lomba Mulung Cili­wung,” jelas Uju Juwono, Kepala Bidang Kebersi­han DKP Kota Bogor.

Sebelumnya dalam enam kali penyelengga­raan lomba mulung, ribuan warga Kota Bogor telah mengangkat sampah sebanyak 11.435 ka­rung ukuran 25-50 Kg. Pada penyelenggaraan tahun 2014 kemarin, 1987 warga mengangkat 2089 karung berisi sampah an-organik dari Cili­wung. Kesetiaan dan konsistensi gerakan ini, layaknya air yang menetes di batu, terus perla­han, tabah dan konsisten hingga akhirnya mam­pu melubangi batu. Fakta ini telah menyingkap kenyataan, menjernihkan mimpi dan harapan, mewujudkan sungai Ciliwung yang bersih bu­kanlah pekerjaan sia-sia