MSN_amine-Renders

BAIK La Blaugrana maupun Bianconeri sama-sama ingin meraih trofi tertinggi di benua Eropa dengan berusaha keras saling menjegal untuk meraih gelar Liga Champions untuk yang kali kedua dalam sejarah klub catalan itu

Oleh : ADILLA PRASETYO WIBOWO
[email protected]

Luis Enrique benar-benar menyihir Barcelona menjadi tim terkuat di Eropa setelah tahun lalu tidak mendapatkan gelar sama sekali, satu gelar La Liga Spanyol sudah ada di tangan Azulgranas pekan kemarin setelah mempercundangi Altletico Madrid di kandangnya sendiri dengan skor tipis 0-1, gol dicetak oleh Lionel Messi. Kita patut memberikan pujian kepada trio Messi~Neymar~Suarez (MSN) pada musim ini karena tiga penyerang utama La Blaugrana ini sudah mengkoleksi total lebih dari 100 gol di semua kompetisi. Khusus pada Messi memang sedikit mencolok daripada dua tandemnya itu karena pemain terbaik dunia ini sudah mencetak 41 gol di La liga dan 10 gol di Liga Champions. Barca mencapai partai final Liga Champions setelah melewati hadangan beberapa klub bola besar di Eropa sebut saja Bayern Munchen, PSG dan Manchester City. Pertemuan Pep Guardiola melawan mantan klubnya pada semifinal Barcelona kontra Bayern Munchen menjadi pembuktian akan kecerdikan Luis Enrique dan Lionel Messi yang begitu jenius dalam mematahkan strategi pelatih terbaik dalam sejarah klub Catalan itu. Di sisi lain, Massimiliano Allegri sukses membawa Nyonya Tua mengarungi musim kompetisi ini dengan harapan treble winners di tangan. La Vecchia Signora telah meraih title trofi Liga Italia Serie A pada pekan 34 setelah mengalahkan Sampdoria dengan skor 0-1, menjuara Liga Italia dengan empat sisa pertandingan itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan tim-tim besar di Italia. Il bianconeri tampil perkasa pada babak grup hingga partai final Liga Champions, Carlos Tevez dkk mampu menyingkirkan beberapa tim raksasa Eropa yaitu Borussia Dortmund, AS Monaco dan Real Madrid. Khusus kemenangan Juventus atas El Real memperlihatkan kepada kita bagaimana kuatnya pertahanan tim Italia ini dalam menahan gempuran para penyerang Los Blancos. Mantan pelatih Juventus, Marcello Lippi memprediksi jalannya laga final Liga Champions antara Barcelona kontra Juventus bakal berjalan ketat. Menurut pria berambut putih ini, Barca yang Lionel Messi akan memaksimalkan trisula mautnya di lini depan. Sementara itu Juventus akan seperti layaknya tim-tim Italia yang mengandalkan pertahanan grendel dengan menaruh empat sampai lima pemain dengan melakukan serangan balik cepat yang dikomandoi Carlos Tevez dan Alvaro Morata. “Barcelona akan tetap jadi favorit juara, tapi mereka tidak akan seperti berjalan di taman. Ketika tim sudah mencapai final maka karakteristik tim tidak akan berubah. Barca belum menemui pertahanan seperti dimiliki Juve yang juga memiliki serangan balik mematikan ketika mereka mempunyai bola,” katanya. Menurutnya, Barcelona menjadi favorit karena punya pemain bagus di semua lini dan barisan depan. Meski skuat Juventus tidak seperti Barca, tapi Juve masih punya salah satu kiper terbaik di dunia. “Kedua tim sama-sama juara di Liganya dan akan main di final piala domestik lalu baru Barcelona dan Juventus akan bertempur pada 6 Juni memperebutkan piala paling bergengsi. Jadi belum saatnya bicara tentang treble winner,” tandas pria yang berhasil membawa Italia juara Piala Dunia 2006. Pakai Jersey Utama Kabar baik untuk Barcelona. The Catalans diperkenankan untuk memakai jersey utamanya dalam final Liga Champions. Untuk laga final Liga Champions 2014/2015, UEFA sudah menetapkan kalau Juventus akan bertindak sebagai tuan rumah sementara Barcelona menjadi tim tamu. Karena jadi tuan rumah, Juventus berhak memakai jersey utama mereka yang berwarna hitam dan putih dalam corak garis vertikal. Meski bertindak sebagai ‘tamu’ Barcelona ternyata tidak harus memakai seragam kedua mereka. Karena warna jersey utama kedua tim sangat kontras. Sejak Liga Champions berubah format di tahun 1992, Barcelona sudah maju empat kali ke final. Di seluruh laga tersebut Barca selalu tampil dengan seragam utamanya dan menjadi juara di tahun 2006, 2009 dan 2011. Satu-satunya kegagalan jadi juara adalah di tahun 1994 ketika kalah 0-4 dari AC Milan. Sementara di tahun 1992 Barca jadi juara Piala Champions dengan memakai seragam oranye, di mana mereka mengalahkan Sampdoria dengan 1-0. Di tahun 1986 Barcelona kalah dari Steaua Bucure ti di final saat memakai seragam biru, sementara di 1961 Barca tunduk di tangan Benfica 2-3 dalam seragam utama mereka. Untuk Juventus, final terakhir Liga Champions mereka adalah di tahun 2003. Tampil dengan seragam putih-hitam ketika itu, Bianconeri kalah adu penalti oleh AC Milan. Di tahun 1996 Juventus justru jadi juara saat memakai jersey berwarna biru, mereka mengalahkan Ajax Amsterdam 4-2 juga lewat penalti.