fery-450x300

Rencana revitalisasi Terminal Baranangsiang sepertinya bakal alot. Langkah PT Pancakarya Grahatama Indonesia (PGI) untuk berinvestasi di terminal utama Kota Bogor itu diserang dari segala penjuru. Padahal, PT PGI kebacut merogoh kocek tak sedikit. Rumor bahwa Menteri Agraria dan Tata Ruang, Ferry Mursyidan Baldan, memiliki kepentingan dibalik rencana revitalisasi Baranangsiang memang bukan kabar baru. Politikus Nasdem itu berkalikali melayangkan penolakan terhadap rencana PGI untuk mendirikan hotel dan mal di area ‘pelabuhan bus’ itu. Kemarin, Bekas Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu kembali bertandang ke Bogor. Kali ini, Ferry Mursyidan lebih gila. Ia menyambangi Bima Arya di Djuanda 7. Ia mendesak agar pentolan Balaikota Bogor itu membatalkan kontrak kerjasama dengan PGI. Ferry- sapaan akrabnya, berargumen, proyek Baranangsiang harusnya ditambah Ruang Terbuka Hijau (RTH) bukan mal dan hotel, yang akan membuat semrawut Kota Bogor. “Rencana tersebut malah memperkumuh, kumuh dalam artian bukan dari bangunannya tapi dari tata letak pembangunannya. Malah akan memperkeruh Kota Bogor,” timpal Ferry, seraya memasang muka serius. Anak emas Surya Paloh itu juga was-was, rencana PGI merubah wajah Baranangsiang hanya akalakalan kapitalisasi bisnis semata, tanpa memikirkan aspek sosial, terutama dampak lalulintas. “Fungsi dari terminal kan sebagai sarana publik, jadi jangan digabung dengan mal dan hotel. Akan merubah fungsi terminal sendiri dan mempertambah semerawut Kota Bogor,” tambahnya. Jebolan Ilmu Politik Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung itu mengaku, pihaknya meminta pemkot Bogor agar mencoret rencana kerjasama dengan PGI. “Saya sudah bilang ke Pak Wali Kota Bogor, jika memang ingin merubah terminal menjadi lebih modern harus tetap menjadi terminal. Jangan ditambah dengan fasilitas lain, nanti akan mengurangi luas,” tandasnya. Penelusuran BOGOR TODAY, sikap bengal Ferry yang ingin membatalkan sepihak kerjasama dengan PGI adalah dikarenakan intervensi sejumlah investor di sekitar Baranangsiang. Rencana PGI yang akan memprogres Baranangsiang sebagai mega bisnis bertaraf nasional itu mengusik ketenangan bisnis sejumlah komoditi, mulai dari penginapan, pusat perbelanjaan, jajanan hingga fasum (fasilitas umum) lain. Kabar inipun sempat terdengar di dapur Senayan. “Kalau saya sebenarnya lebih setuju jika revitalisasi itu dilakukan secepatnya. Apalagi yang ditunggu. Siapa yang mau investasi cumacuma sih. Yang perlu dikritisi disini adalah, siapa yang mau melaksanakan revitalisasi jika memang PGI ditolak? Ada yang siap jadi bandar?” ketus Anggota DPR RI Dapil Bogor, Diah Pitaloka, pekan kemarin. Soal progres Baranangsiang ini, Pemkot sebenarnya pecah kongsi. Bima Arya dan selir politiknya, Usmar Hariman, beda suara. Bima sengaja menggantung kerjasama dengan PGI. Sementara Usmar dan seluruh pentolan SKPD di Kota Bogor mendukung percepatan PGI menggerus megaproyek tersebut. “Ah, saya mah apa atuh, nggak punya keputusan untuk ketuk palu. Silahkan konfirmasi ke walikota langsung,” kata Usmar, nyeletuk, saat bercakap dengan BOGOR TODAY, kemarin siang.

Baca Juga :  Peternak Ayam Petelur di Bogor Babak Belur, Harga Telur Pecah

(Rizky Dewantara|Yuska Apitya)