smartfren-hadirkan-ponsel-4g-di-awal-2015-Hje

Smartfriend akan luncurkan produk teranyarnya yang menggunakan layanan tekhnologi komunikasi berbasis 4G. Ponsel 4G ini adalah ponsel pertamanya di Indonesia

Oleh : Guntur Eko Wicaksono
[email protected]

Operator telekomunikasi Smartfren bekerja sama dengan PT Haier Electronic Appliances Indonesia (Haier) untuk merakit ponsel 4G pertamanya di Indonesia. Namun, saat ini mereka mengaku belum memutuskan nama untuk produk tersebut. Kepala Divisi Smartphone Smartfren Telecom Sukaca Purwokardjono mengatakan sebutan ini masih dapat berubah. “Sekarang kita bisa lihat ini adalah salah satu produk 4G LTE yang akan kita luncurkan nanti. Perangkat ini akan meluncur dalam beberapa minggu ke depan,” ujarnya di sela-sela kunjungan ke pabrik perakitan PT Haier Electronic Appliances Indonesia, di Cikarang, Kamis (21/5/2015) Saat ini, pabrik perakitan di Haier itu menyediakan satu line produksi untuk perakitan ponsel. Satu line tersebut ditaksir bisa memproduksi maksimal 1.000 unit ponsel setiap hari. “Sekarang baru ada satu line, tapi kami rencananya akan menambah dua line lagi,” kata dia. Perakitan yang dilakukan di dalam negeri ini merupakan upaya memenuhi aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang sedang diproses oleh pemerintah. Ponsel Andromax rakitan Haier ini pun, menurut Bussines Planning Manager Haier Indonesia Surachman, sudah mencapai TKDN 28,8 persen. “Kalau (ditetapkan aturan) TKDN 30 persen kami ya, alhamdulillah. Kalau 40 persen juga bagus. Sementara ini TKDN (Andromax Q) tersebut sudah 28,8 persen, tapi itu cukup,” tegasnya. Soal perakitan tersebut, menurut Sukaca, ongkosnya saat ini hampir sama dengan ongkos perakitan di Tiongkok. Perakitan di Indonesia tidak lebih murah karena belum banyak industri pendukung perakitan di Tanah Air, misalnya untuk baterai atau modul kamera. Sukaca yakin, ongkos produksi di dalam negeri pelan-pelan akan berubah menjad i lebih murah seiring munculnya produsen baterai atau modul kamera. “Kalau dari sisi produk, baik dibuat di Indonesia atau China itu sama saja. Dari sisi harga, ongkos di kedua negara tersebut hampir sama. Harga ini bedanya belum signifikan karena industri pendukung belum tumbuh. Misalnya kalau sudah ada produksi baterai atau mod

Baca Juga :  Atap Warung Angkringan Disapu Angin Kencang, 1 Pohon Tumbang Hingga Papan Reklame Terhempas