HL-1---Evrawood-(2)

Sekarang era wirausaha Banyak orang tertarik menjadi pengusaha sejak muda. Bahkan, sejak duduk di bangku sekolah. Wahyu Adji Setiawan, salah satunya. Sejak duduk di bangku SMU, Adji, panggilan akrabnya, sudah biasa berjualan untuk menambah uang sakunya. “Saya jual barang-barang mode dari Bandung, seperti kaos, celana dan tas,” kata dia.

Oleh : Apriyadi
[email protected]

Tak hanya sesama mahasiswa, usaha Adji juga tercium oleh dosennya. Sekitar 2006, salah satu dosen menawari pria kelahiran Kebumen, 10 Maret 1986, ini order untuk membuat tas seminar sebanyak 200 unit, tapi hanya dalam seminggu. Tanpa pikir panjang, Adji lantas menyanggupinya dan memesan tas ke Tang gulangin, sentra produksi tas di Sidoarjo, Jawa Timur. Dari sinilah, Adji melihat kemudahan berbisnis tas dibanding kaos. “Konveksi banyak kendalanya, selain banyak ukuran, sering terjadi revisi yang membuang banyak waktu dan tenaga,” tutur dia. Akhirnya, dia memutuskan banting setir bidang usaha, yakni pembuatan tas. Terjun ke dunia bisni s sejak muda, Adji cukup gesit menangkap pasar. Tak susah baginya memutar haluan, dari bisnis konveksi ke tas. Order pembuatan tas segera menghampirinya. “Banyak perusahaan di Surabaya yang memesan tas ke saya, baik tas untuk bepergian maupun tas untuk umroh atau haji,” kenang dia.

Namun, seiring berjalannya waktu, dengan makin banyaknya pesanan, Adji mulai menemui masalah dengan perajin. “Untuk mendapatkan perajin ini gampang- gampang susah,” serunya. Dalam pengamatannya, perajin suka tak tepat waktu dan sering mendahulukan proyek yang lebih besar. Dari masalah itu, Adji mengambil solusi mengatur para perajin dengan sejumlah perjanjian kontrak. “Salah satu pasalnya, jika terjadi keterlambatan, kami akan mengutip denda,” ujar dia. Sebagai pengusaha, Adji tak boleh berhenti berpikir. Pemikirannya harus terus berkembang demi kemajuan bisnisnya. Dari pembuatan tas travel ini, dia tertarik untuk mengembangkan brand tas milik sendiri. “Idealisme saya sangat tinggi saat itu, ingin punya merek dengan desain sendiri,” jelas dia.

Maklum, Adji ingin merasakan tantangan dengan tas merek sendiri. “Akan lebih menyenangkan dalam desain, kami harus kreatif, tidak seperti tas pesanan yang desainnya monoton,” ungkap suami Icha Art yas Annariswati ini. Setelah membuat konsep dan mempunyai c alon pembeli, awal 2010, Adji mulai produksi tas merek Or tiz. Berbeda dengan tas travel, Ortiz merupakan t as kasual yang khusus dipasarkan ke Singapura dan Malaysia. “Jadi, standar kualitasnya internasional,” kata Adji. Untuk Ortiz ini, Adji mendapat kontrak dari pembeli sebanyak 6.000 tas selama setahun. Sayang, belum genap setahun berbisnis tas merek sendiri, hantaman datang. Pertengahan 2010, Adji mendapat somasi dari pemilik merek sah Ortiz, yakni sebuah perusahaan mode ternama dari Spanyol. Salah satu pasal dalam somasi tersebut menyebutkan, jika dalam waktu dua bulan tak ada penarikan produk, akan diberikan sanksi berupa denda sebesar Rp 7 miliar.

Tak mau membayar denda, Adji pun segera menarik semua produk yang telah bere – dar. Dia pun terpaksa membayar denda kepada distributor sebesar Rp600 juta karena tak bisa memenuhi kontrak yang telah disepakati. “Dari situ, saya baru tahu, pendaftaran paten yang diakui secara internasional harus di Singapura,” ujar dia. Akibat dari peristiwa itu, Adji terpaksa berhenti produksi selama dua bulan. “Tagihan dari vendor dan pemasok banyak yang tak terbayar,” kata dia. Tak ingin terpuruk lebih lama, dia pun memberanikan diri mendatangi vendor dan pemasoknya untuk meminta pembayaran mundur. Karena keperc ayaan telah terbangun, t ak hanya pembayaran mundur, mereka juga memberi pinjaman berupa bahan baku untuk memulai produksi lagi. Awal 2011, Adji membangun kembali bisnisnya. Kali ini, dia mematenkan merek Evrawood, langsung ke Singapura. Dia merekrut orang-orang baru sebagai tim Evrawood.

Selain itu, Adji fokus pada kualitas, baik dari segi bahan maupun cara pembuatannya. “Kami menonjolkan kekuatan. Dalam kampanye produk , kami memberi garansi kerusakan hingga tiga tahun,” tutur pria 29 tahun ini. Selain di Indonesia, saat ini, tas kasual urban Evrawood sudah dipasarkan di beberapa negara, seperti Jerman, Belanda, Singapura, dan Malaysia. Setiap bulan, kapasitas produksi pabrik tas ini bisa mencapai 1.000 unit. Jika di Indonesia produk Evrawood dijual mulai Rp 400.000, untuk pasar lu ar negeri harga jualnya berkisar Rp 1,8 juta–Rp 2,5 juta.

(KTN)