Untitled-15

BOGOR TODAY — Sebanyak 872.354 siswa SD/MI/SDLB dan sederajat akan mengikuti ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) 2015 di Jawa Barat. “Jumlah pesertanya (UASBN) total ada 872.354 siswa dengan total sekolah penyelenggara ada 23.838 sekolah,” kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Asep Hilman, di Bandung, Minggu (17/5/2015). Jumlah tersebut, kata Asep, terdiri dari peserta sekolah dasar (SD) sebanyak 778.351 orang, peserta madrasah ibtidaiyah (MI) sebanyak 90.626, peserta dari sekolah dasar luar biasa (SDLB) 398 orang, dan peserta dari Paket A sebanyak 2.979 orang. “Adapun jadwalnya sendiri akan dilaksanakan pada tanggal 18 hingga 20 Mei 2015. Untuk ujian susulannya pada tanggal 28-30 Mei 2015 mendatang,” kata dia.

Ketika disinggung tentang persiapan UASBN di Jawa Barat, Asep mengatakan secara umum persiapan telah berjalan baik dan lancar. “Kami telah mendistribusikan soal-soal UASBN, khususnya ke wilayah-wilayah yang berada jauh dari titik bongkar milik provinsi,” kata dia.

Ia mengatakan, untuk wilayah-wilayah yang terhitung dekat, soal UN juga sedang didistribusikan. Oleh karena itu, pihaknya optimistis penyelenggaraan UN tingkat SD pun akan berlangsung tanpa kendala.

“Untuk UASBN atau UN SD sudah selesai persiapannya. Kemarin sih tinggal Depok, Kabupaten Bogor, Kota Bogor dan Bekasi yang sedang ‘loading’ soal. Dan hari ini sudah selesai,” kata dia.

Baca Juga :  Rabu Pagi Masyarakat di Indonesia Dapat Menyaksikan Planet Merkurius Dengan Mata Biasa

Terpisah, Kadisdik Kota Bogor Edgar Suratman, mengatakan, jumlah siswa SD yang melaksanakan UN hari ini ada sekitar 19 ribuan. “Tidak ada sistem online, semuanya paper test. Untuk kesiapan sudah final, tidak ada kendala. Soal juga sudah sampai di Bogor sejak Sabtu,” kata dia, Minggu (17/5/2015).

Sementara Kadisdik Kabupaten Bogor, Dace Supriyadi menjelaskan, siswa SD yang melaksanakan UN hari ini berjumlah 104.825 siswa dari 86.811 SDN dan 18.104 sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI). “Soal UN juga sudah kita terima dari Provinsi sejak Sabtu dan sudah sampai di subrayon masing-masing sekolah.

Dace juga mengatakan seluruh sekolah menjalankan UN dengan paper based test. “Karena kalau SD kan hitungannya ujian sekolah, jadi soal yang buat itu provinsi,” terangnya.

Dihantui Kurang Guru

Edgar juga bercerita bahwa Kota Bogor mengalami kekurangan sedikitnya 400 guru tingkat Sekolah Dasar (SD). Hal itu mengakibatkan 190 dari 293 SD negeri tidak memiliki Kepala Sekolah. Pemerintah Kota Bogor berencana melakukan penggabungan sekolah.

Tidak mengherankan jika kualitas sekolah dasar di Kota Bogor belum merata karena kekurangan tenaga pengajar. Menurut Edgar, kekurangan pengajar untuk SD ini baru bisa terpenuhi paling cepat pada dua tahun mendatang.

Baca Juga :  7 Tradisi Unik Sambut Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Berbagai Daerah

Idealnya, papar Edgar, harus ada sekitar 500 tenaga pengajar untuk memenuhi jumlah SD. Kenyataannya, Kota Bogor hanya memiliki 1.385 pengajar. Itu pun, sebagian besar bukan PNS, tetapi honorer.

Terpisah, Sekda Kota Bogor, Ade Syarip Hidayat mengatakan, bahwa kekurangan tenaga pengajar tersebut disebabkan salah satunya regenerasi guru tidak seimbang.

“Beberapa tahun terakhir, penerimaan guru sedikit. Hal tersebut tidak seimbang dengan jumlah pengajar yang pensiun atau pindah mengajar,” katanya.

Untuk itu, Pemkot Bogor berencana akan melakukan penggabungan sekolah pada tahun ini. Diharapkan dengan langkah ini bisa mengurangi kesenjangan antar sekolah, guru, dan kepala sekolah.

Di beberapa wilayah, seperti di Kecamatan Bogor Tengah, Bogor Selatan, dan Bogor Barat ada beberapa sekolah yang jaraknya berdekatan, sedangkan jumlah siswanya tidak terlalu banyak dan bisa dilakukan penggabungan. “Bisa saja empat sekolah yang berdekatan dimerger jadi dua sekolah,” katanya.

Ade menambahkan, bila saat ini penggabungan sekolah tersebut masih dalam pengkajian. Setidaknya ada 52 SD negeri, berdasarkan pengkajian akan dilakukan penggabungan pada tahun ini.

(Yuska Apitya Aji)