Untitled-3Amyotrophic literal sclerosis (ALS) merupakan bagian dari kelompok penyakit sel-sel saraf motor yang bersifat degeneratif dengan perjalanan penyakit yang cukup cepat

Oleh : ADILLA PRASETYO WIBOWO
[email protected]

Penyakit amytrophic lateral sclerosis (ALS) atau yang dikenal juga dengan penyakit Lou Gehrig belakangan ini banyak disebut karena menjadi alasan bagi banyak orang di ber­bagai belahan dunia untuk mel­akukan Ice Bucket Challenge.

Dokter spesialis saraf dari RS Islam Pondok Kopi, Gea Pandhita, mengatakan, prevalensi ALS masih terbilang kecil di Indonesia. Meski­pun belum ada data jelas terkait penyakit ini, tetapi diperkirakan prevalensinya kurang dari 2 per- 100.000 penduduk yang didiag­nosis setiap tahunnya.

“Kalau di Amerika Serikat, ada 5.000 orang per tahunnya yang terdiagnosis dengan ALS, tetapi di Indonesia masih belum ada datanya,” ujarnya.

ALS rata-rata terdiagnosis di usia 40-50 tahun dan paling banyak dijumpai pada pria. Fak­tor terbesar penyebab penyakit ini adalah genetik. Artinya, sejak lahir seseorang yang terkena ALS sudah memiliki gen pembawa yang meningkatkan risikonya terkena ALS.

Baca Juga :  Melamun Bikin Otak Jadi Rileks, Benarkah? Yuk Simak 5 Penjelasannya

Penyakit ini juga dapat ditu­runkan, meskipun belum jelas peningkatan risikonya bila me­miliki keturunan ALS. Pasalnya, penurunan ALS belum tentu be­rasal dari orangtua, tetapi bisa juga dari keturunan generasi se­belumnya.

Penyakit ini terbilang mema­tikan karena jika tidak diobati sejak terdiagnosis, kemungkinan seseorang untuk bertahan hidup hanya sekitar tiga tahun. Namun, bila diobati, perjalanan penyakit bisa lebih lama.

Meski demikian, hingga saat ini pengobatan hanya mengatasi gejalanya, bukan untuk meny­embuhkan penyakit. “Penyebab utama kematian dari orang den­gan ALS adalah karena tersedak, karena kemampuan menelannya menurun, namanya pneumonia aspirasi,” jelas Gea.

Kemampuan menelan me­mang merupakan sasaran dari penyakit ALS karena melibatkan otot yang dikendalikan oleh saraf motorik. Tubuh memiliki banyak jenis saraf yang dilibatkan dalam proses berpikir, mengingat, mer­asakan, penglihatan, pendenga­ran, dan fungsi tubuh lainnya.

Baca Juga :  Meski Sudah Sembuh Dari Batuk, Namun Masih Merasakan Sakit Tenggorokan, Ini Kata Dokter

Pada ALS, saraf yang dis­erang adalah saraf motorik yang berfungsi untuk mengantarkan rangsang pada otot untuk mel­akukan gerakan. Gerakan yang dikontrol oleh saraf motorik, misalnya gerakan memegang benda atau berjalan.

ALS merupakan penyakit saraf yang unik karena gejalanya berasal dari kerusakan saraf di tengah proses penghantaran im­puls saraf. Gea mencontohkan, jika terjadi stroke maka kerusa­kan saraf ada di saraf pusat, dan neuropati kerusakan terjadi di saraf tepi. Meskipun gejalanya sama-sama bisa dirasakan oleh tangan, tetapi karena sumber kerusakannya berbeda, maka ge­jalanya pun akan berbeda.

Sementara pada ALS, gejalan­ya akan lebih beragam karena kerusakan terjadi di saraf mo­torik yang merupakan sambun­gan dari saraf pusat menuju ke saraf tepi. (*)