gianluigi-buffon-juventus-5636

LAGA final Liga Champions akhir pekan ini mungkin akan bermakna spesial untuk kiper Juventus, Gianluigi Buffon. Setelah naik turun yang dilalui dalam kariernya, Buffon mencoba untuk meraih kesuksesan lagi di Berlin

Oleh : ADILLA PRASETYO WIBOWO
[email protected]

Penampilan terakhir Gianluigi Buffon di final Liga Champions tak berakhir meny­enangkan. Kegagalan itu membuat Buf­fon lebih termotivasi untuk memenangi final tahun ini.

Tahun 2003 lalu, Buffon bersama Juventus menembus final Liga Champions. Bianconeri ber­hadapan dengan sesama tim dari Italia, AC Milan. Tapi Buffon gagal membawa Juve menjadi juara karena kalah adu penalti dari Milan.

Setelah 12 tahun, Buffon kembali lagi ke final Liga Champions. Juve akan menantang Barcelona di laga final yang akan digelar di Olympiastadion, Berlin, Sabtu (6/6/2015) mendatang.

Di antara skuat Juve saat ini, Buffon adalah satu-satunya pemain yang tersisa dari final tahun 2003 lalu. Sementara Andrea Pirlo saat itu ada di kubu Milan.

Kendati penampilan terakhirnya di final ta­hun 2003 lalu berakhir dengan kekalahan, Buffon tak sepenuhnya menyesalinya. Kegagalan itu jus­tru menambah semangat kiper 37 tahun itu untuk meraih gelar Liga Champions pertamanya.

“Saya melewatkan itu (piala kompetisi Eropa) dari rak saya. Tapi pada akhirnya, saya senang belum mendapatkannya karena saya punya moti­vasi bermain untuk sesuatu yang prestisius,” ujar Buffon seperti dikutip Telegraph.

“Ini adalah pertandingan penting dalam hid­up kami dan punya sejarah penting karena su­dah 12 tahun sejak final melawan Milan. Final ini datang secara tak terduga dan, tidak seperti dulu, sekarang kami bukan favorit.”

“Saya selalu ingin memulai sebagai favorit, tapi kami punya senjata untuk membuat peker­jaan Barcelona menjadi kian sulit,” lanjut kiper Italia itu.

“Jika kami tidak berhasil, itu akan jadi keke­cewaan besar. Meski bukan favorit, kami ingin memenangi trofi ini dan kami akan masuk ke lapangan untuk bermain dan memastikan kami tidak akan menyesal,” katanya.

Buffon pernah berada di puncak dunia saat memenangi Piala Dunia 2006 bersama tim nasi­onal Italia. Trofi itu diangkatnya usai memenangi laga final melawan Prancis di Olympiastadion, Berlin. Sepulang dari Jerman, meski berstatus se­bagai juara dunia, Buffon harus berkompetisi di Serie B. Juve kala itu turun kasta sebagai bentuk hukuman atas kasus Calciopoli.

Tapi cuma semusim Buffon dan Juve tampil di Serie B. Mereka langsung promosi ke Serie A di musim 2007/2008. Sejak musim 2011/2012, Juve mendominasi Serie A dan Buffon ikut berperan besar mengantar timnya memenangi empat scu­detto secara beruntun.