Untitled-2Seharian berkutat dengan pekerjaan kantor akan membuat badan dan pikiran kita lelah. Belum lagi, kurangnya suplai gizi dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Fast food pun jadi andalan bagi sebagian kaum urban untuk menolak lapar.

Oleh : RIFKY SETIADI
Email: [email protected]

Tanpa disadari makanan jenis fast food mengundang bahaya “kolesterol” dan menumpuk di tubuh kita. Berbagai penyakit pun bermunculan, salah sa­tunya diabetes. Untuk menanggulanginya, kita bisa mulai melakukan pola hidup se­hat dengan mengontrol makanan yang kita konsumsi dan berolahraga. Olaharga yang sering dilakukan oleh sebagian masyarakat adalah lari. Tapi, amankah lari bagi pend­erita diabets?

Penelitian yang dilakukan pada 750.000 pelari marathon di Inggris men­unjukkan, risiko kematiannya hanya kurang 1 dari 100.000 pelari. Jauh lebih kecil dari kematian akibat kecelakaan ja­lan raya, risiko kematian karena diabetes, dan menurut saya jauh lebih kecil dari risiko kematian akibat kita banyak duduk di depan TV.

Dan perlu juga diingat, ketakutan risiko kematian karena lari maraton ini disebabkan, biasanya, kalau ini terjadi, akan diliput besar-besaran dan menjadi berita utama media massa. Lalu, Pe­nyebab kematian mereka, di samping ada kaitannya dengan jantung, hiponatremi, kadar natrium yang rendah dalam darah, akibat minum berlebihan saat kita berlari dapat terjadi. Kalau seorang pelari mara­ton minum terlalu banyak, air juga akan kembali dikeluarkan di antaranya melalui keringat dari kulitnya. Bersamaan den­gan keluarnya keringat ini natrium juga akan dibuang.

Baca Juga :  Bahan Kimia Sintetis di Plastik Tingkatkan Risiko Kematian Dini dan Ibu hamil

Dan, sebagai pegangan umum, bila Anda sedang berlari, kemudian Anda merasa tidak nyaman di dada, seperti rasa sakit, sesak, pusing, mual, muntah, maka seharusnya Anda berhenti. Sebai­knya setelah itu Anda konsultasi ke dok­ter langganan Anda. Dan minum berlebi­han juga tidak baik untuk Anda.

Manfaat maraton, khususnya lari bagi kesehatan sudah banyak dilakukan. Sep­erti olahraga lainnya, olahraga ini akan menurunkan risiko beberapa penyakit kardiovaskuler, seperti serangan jan­tung, stroke, hipertensi. Lari yang Anda lakukan beberapa kali dalam seminggu juga menurunkan risiko diabetes, patah tulang, insomnia, dementia, dan alzhei­mer. Tak hanya itu. Lari membuat Anda lebih bahagia, kulit jadi lebih halus, sendi jadi lebih kuat, risiko kanker menurun, penampilan tetap bugar, menikmati ma­kan lebih banyak, dan Anda akan hidup lebih lama. Lantas, risikonya? Seperti pertanyaan di atas?

Memang, apapun yang Anda lakukan pasti ada risikonya. Lari, maraton juga begitu, tetapi seperti saya singgung di atas, risiko kematian akibat serangan jan­tung, hiponatremi, pada pelari maraton itu hanya kecil. Yang lebih penting ada­lah Anda melakukannya, dan kalau ada keluhan-keluhan yang berkaitan dengan aktivitas itu yang Anda khawatirkan se­bagai kelainan jantung, sebaiknya Anda konsultasi. Tetapi perlu diingat, bahwa Anda akan dapat berlari, apalagi mara­ton, apabila kebiaaan hidup sehat lain seperti tidak merokok, tidur yang cukup, tidak mabuk, makan yang sehat, tidak berlebihan, menjaga berat badan, sudah Anda terapkan sebelumnya.

Baca Juga :  Studi Menyebut Nyamuk Aedes Aegepty Mengalami Penurunan Reproduksi Imbas Infeksi Bakeri

Anda tak akan mungkin berlari, mara­ton, kalau beban badan Anda yang ber­lebihan. Seperti mobil penuh muatan di tanjakan tajam, raung mesinnya akan memekakkan. Anda tidak akan mungkin berlari kencang, dalam waktu yang lama bila jantung, paru, otot-otot, sendi Anda tidak terbiasa dan siap melakukannya. Jadi, sebelum Anda berlari, Anda mem­biasakan diri lebih dahulu untuk banyak berjalan, jogging, kemudian baru berlari, dan marathon. Kalau Anda lari, maraton, diselingi dengan periode berjalan mung­kin lebih baik.

Oleh karena itu, walaupun pernah di­laporkan terjadinya kematian pada saat lomba berlangsung atau sesudahnya, risiko akibat maraton sangat kecil, kurang dari 1 per 100 ribu pelari. Jauh lebih kecil diband­ingkan kematian akibat kecelakaan di jalan raya, atau diabetes melitus, apalagi mer­okok. Anda jangan sampai ragu untuk mel­akukan aktivitas ini. Manfaat yang Anda dapatkan jauh lebih besar dari ancaman risikonya. Oleh sebab itu, bergeraklah, ber­larilah. Syaratnya, Anda harus berlatih dan membiasakannya sebelumnya. (*)