181424_620

WALIKOTA Bogor Bima Arya dan pemerintah pusat sepakat untuk membangun terminal Light Rail Transit (LRT) di Terminal Baranangsiang. Dia sangat mendukung rencana Presiden Joko Widodo mempercepat pembangunan jalur LRT ini.

ALFIAN MUJANI | IMAM BACHTIAR
[email protected]

Dipilihnya Baranangsiang agar akses lebih mudah untuk ter­integrasi dengan transportasi lainnya. Tadi yang diputuskan adalah Terminal Baranang­siang,” sebut Bima di Kantor Kemenko Per­ekonomian, Jakarta, Rabu (3/6/2015) siang.

Bima hadir pada acara rapat Koordinasi percepatan pembangunan LRT di.Kantor Kemenko Perekonomian bersama Meneg BUMN Rini M Soemarno, Menteri Perenca­naan Pembangunan Nasional (PPN) Andrinof Chaniago, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono.

Kemudian juga hadir Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Dirjen Ang­garan Kementerian Keuangan Askolani dan Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Hermanto Dwiatmoko.

Sebelumnya Presiden Jokowi me­nyaakan tekadnya untuk mempercepat LRT yang membentang dari Bogor hingga Dukuh Atas, dari Bekasi hingga Cawang. Rencana Jokowi ini disambut gembira oleh Walikota Bogor. Menurut Bima, moda transportasi publik yang tersedia antara Jakarta dan Bogor belum memadai.

Warga Bogor yang setiap hari berak­tivitas ke Jakarta masih belum dapat sa­rana transportasi yang layak. “Commut­er line sekarang itu sudah padat sekali. Keberangkatannya terjadi setiap 6 menit sekali. Volume commuters yang naik di kereta itu juga bisa 200.000. Makanya kita sangat butuh sekali ,” ungkapnya.

Meski demikian, Bima sempat men­gusulkan untuk digunakan terminal baru di area Tanah Baru. Karena menu­rutnya Terminal Baranangsiang sudah cukup padat diisi oleh transportasi lain.

“Kita sedang memecah konsentrasi dan beban kendaraan ke pinggir-ping­gir. Sekarang padat semua. Maka kita sampaikan opsi kedua, nanti LRT selain di Baranangsiang ada di Tanah Baru,” terang doktor Ilmu Politik lulsan Univer­sitas Nasional Australia ini.

Baca Juga :  Gubernur Jabar : Jembatan Gantung Terpanjang di Kabupaten Bogor Diharapkan Tingkatkan Kunjungan Wisata

Menurut Bima, pengguna yang se­lama ini memanfaatkan Terminal Ba­ranangsiang akan berkurang setengahn­ya bila dialihkan ke Tanah Baru. Lahan yang tersedia dan siap untuk dibebas­kan mencapai 5 hektare. “Pasti akan mengurangi, mungkin bisa setengahn­ya. Kalau di Baranangsiang semua kan padat sekali Kota Bogor,” jelas Bima.

Pembangunan LRT ini akan dimulai 17 Agustus 2015 mendatang. Rute pada tahap I adalah Cibubur-Cawang, Bekasi Timur-Cawang dan Cawang-Dukuh Atas. Sementara tahap II akan dilanjut­kan dengan line Cibubur-Bogor.

Tunggu Perpres

Pelaksanaan pembangunan LRT ini, ternyata masih menunggu Peraturan Presiden. Kini pemerintah sedang me­matangkan rancangan Perpres untuk penunjukan langsung pembangunan LRT kawasan Jabodetabek. Pekan de­pan akan diajukan ke Presiden Jokowi untuk ditandatangani.

Menteri BUMN Rini Soemarno men­gatakan, usai Perpres diterbitkan maka pada 17 Agustus mendatang proyek siap untuk groundbreaking. Rutenya adalah Cibubur-Cawang, Bekasi Timur-Cawang kemudian dari Cawang-Dukuh Atas. “Targetnya sih kalau semua lancar Agus­tus ini (groundbreaking). Perpresnya akan diajukan ke Presiden minggu de­pan,” ujar Rini usai rapat koordinasi di kantor Kemenko Perekonomian, Jakar­ta, Rabu (3/6/2015)

Rini menuturkan, lamanya penerbi­tan Perpres karena adanya penyesuaian dengan tata kota Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Khususnya dalam penem­patan stasiun.

“Semua pada dasarnya setuju dibàn­gun LRT dan MRT secepatnya. Cuma ada satu dua hal yang masih difinal­isasi dengan DKI sehubungan dengan stasiun-stasiun,” jelas mantan Menteri Perdagangan era Presiden Megawati itu.

Ia menambahkan, ada beberapa jalur yang akan dilewati oleh LRT meru­pakan jalur hijau. Sehingga ada sedikit pergeseran dari rencana. “Mengenai ru­ang yang perlu dipakai di satsiun karena mungkin ada jalur hijau di DKI yang mesti dilihat kita ubah sedikit. Tapi yang penting di dalam Perpres ini kan garis besarnya bahwa pembangunan LRT ini disetujui semua pihak,” terang Rini

Baca Juga :  5 Manfaat Air Lada Hitam Bagi Kesehatan, Nomor 3 Idaman Perempuan Banget

Dimulai 17 Agustus

Sementara itu, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) kontraktor yang ditunjuk untuk menangani megaproyek ini, menargetkan pembangun kereta ringan berbasis rel atau LRT Tahap I bisa dimulai tahun ini. Rute­nya, Cibubur-Cawang, Bekasi Timur-Cawa­ng kemudian dari Cawang-Dukuh Atas.

Pengembangan angkutan massal oleh perusahaan pelat merah ini tidak berhenti begitu saja, tapi dilanjutkan dengan Tahap II. Adhi Karya akan me­nyambungkan rute LRT itu sampai ke Bogor. “Fase II itu ada rute Cibubur-Bogor,” kata Direktur Operasi V Adhi Karya, Pundjung Setya Brata di Kemen­hub, Jakarta, Rabu (3/5/2015).

Saat ditanya kapan pembangunan Fase II dimulai, Pundjung belum mau berkomentar. Namun Pundjung me­nyebut pembangunan proyek LRT Fase I dimulai pada 17 Agustus 2015. Proses konstruksi berjalan selama 3 tahun. “Groundbreaking 17 Agustus,” ujarnya.

Untuk menuju proses groundbreak­ing, Adhi Karya sudah bertemu dengan Pemprov DKI hingga Kementerian Per­hubungan. ADHI masih meminta restu pemanfaatan lahan kepada Pemprov DKI. Lahan dalam jumlah besar diperlu­kan oleh Adhi Karya untuk membangun depo raksasa di Cibubur, Jakarta Timur.

Perseroan juga masih menyele­saikan dan menunggu turunnya Per­aturan Presiden (Perpres) penugasan. “Pembangunan tinggal tunggu Perpres. Ini sedang berjalan,” sebutnya.

Pemerintah Rabu (3/6/2015) meng­gelar rapat koordinasi terkait proyek pembangunan transportasi di kawasan Jabodetabek. Khususnya untuk pem­bangunan LRT.

Rapat dilangsungkan di Kantor Ke­menko Perekonomian Sofyan Djalil. Dimulai dari pukul 14.00 WIB dan di­hadiri oleh beberapa menteri terkait. “Rapat membahas LRT ,” kata Sofyan sebelum rapat. (*)