557365c5889a9_2015-06-06T212009Z_1305951772_LR1EB661N997E_RTRMADP_3_SOCJIKA menilik perjalanan Barcelona menuju tangga juara Liga Champions, pan­taslah jika kemudian mereka jadi juara. Sebab sebelum­nya, Los Cules lebih dulu mengalahkan para jawara liga Eropa musim lalu

Oleh : ADILLA PRASETYO WIBOWO
[email protected]

Dimulai dari fase grup saat Barca bertemu Paris Saint Germain (PSG), Ajax Amsterdam, dan APOEL. Ketiganya adalah jawara di tiga liga berbeda yakni Prancis, Belanda, dan Siprus musim lalu.

Barca lolos sebagai juara grup usai menyingkirkan Ajax dan APOEL dengan torehan 5 kemenangan dan satu seri. PSG mendampingi mereka sebagai runner-up grup. Di babak 16 besar ada jawara Inggris, Manchester City, yang mereka hadapi dan kemudian dikirim pulang usai menang agregat 3-1.
Berlanjut ke perempatfinal, PSG yang sempat menyulitkan di fase grup kalah di laga kandang dan tandang, masing-masing dengan skor 1-3 dan 0-2. Bayern Munich pun tak berkutik di hadapan Barca. Menang 3-0 di leg pertama semifinal, Blaugrana melaju ke final meski kalah 2-3 di leg kedua.
Terakhir jawara liga yang jadi “korban” Barca adalah Juve yang mereka bekuk dengan skor 3-1 di final, Minggu (7/6/2015) dinihari WIB tadi sekaligus mengantarkan mereka ke trofi Liga Champions kelima.

Barcelona menjalani musim yang luar biasa setelah memenangi tiga gelar juara. Kunci di balik sukses besar tersebut terletak pada Lionel Messi, Luis Suarez, dan Neymar yang punya kontribusi besar dalam gol-gol Blaugrana.

Setelah memenangi persaingan dengan Real Madrid di Liga Spanyol, Barcelona lantas mengungguli Athtletic Bilbao untuk bisa merebut gelar trofi Copa del Rey. Sementara beberapa jam lalu mereka meraih keunggulan 3-1 atas Juventus di final Liga Champions 2014/2015.
Jadilah Barcelona meraih treble winner. Sebuah ulangan keberhasilan atas apa yang sudah pernah diraih bersama Josep Guardiola di musim 2008/2009 lalu.

Barcelona kini tentunya tak sama dengan Barca enam tahun lalu. Selain pelatih yang berbeda, perubahan besar lainnya adalah soal gaya bermain. Barca-nya Luis Enrique bermain lebih direct. Skema yang punya tingkat keberhasilan tinggi karena dukungan trio pemain di lini depan.
Enrique berhasil memadukan Messi, Suarez, dan Neymar menjadi lini depan paling menakutkan di dunia saat ini. Lihat saja jumlah gol ketiganya di musim ini yang mencapai jumlah 122 gol.

Messi menjadi yang paling subur di antara ketiganya dengan torehan 58 gol dan 27 assist, sementara Neymar ada di urutan kedua dengan 39 gol serta delapan assist. Si pendatang baru, Suarez, menjalani musim debut yang gemilang setelah ikut menyumbang 25 gol dan 21 assist.
Tiga penyerang yang sering disebut dengan MSN itupun sudah berhasil mematahkan rekor trio pemain tersubur di Eropa yang sebelumnya dipunya Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan Gonzalo Higuain. Trio Real Madrid itu membuat 118 gol di sepanjang musim 2011/2012.
Juventus mengakui perbedaan kualitas tim dengan Barcelona jadi pembeda di final Liga Champions dinihari tadi. Pengalaman besar yang dipunyai Blaugrana juga disebut Andrea Barzagli memegang peran besar.

Barzagli mengakui start timnya tak apik karena langsung kebobolan di menit ke-4. Namun berhasil bangkit, menyamakan kedudukan, dan beberapa kali merepotkan Barca. Catatan statistik menunjukkan hal ini.

Meski kalah penguasaan bola 39%-61%, Juve tetap mampu melepaskan 14 tembakan di mana enam mengarah ke gawang. Sementara Barca punya 18 percobaan dan delapan tepat sasaran. Pada akhirnya, kemampuan Barca menuntaskan peluanglah yang lebih baik.
“Kami tahu kualitas mereka, kami mengerahkan segala yang kami punya di lapangan dan Barcelona layak mendapatkan kredit atas talenta yang mereka punyai. Kami menjaga kepala kami tetap tegak, meski kalah di sebuah final selalu sulit untuk diterima. Sulit untuk menganalisis pertandingan saat ini,” kata Barzagli dikutip Sky Sport Italia.

“Kami memang tidak memulai dengan baik, tapi menegaskan kepada diri kami untuk terus bertahan di laga ini yang kami lakukan dengan menyamakan kedudukan dan selama 10 menit terakhir benar-benar menakuti Barcelona. Pada akhirnya kualitas mereka membuat perbedaan. Tidak ada satupun yang suka mengalami kekalahan, jadi ini sulit untuk diterima,” lanjutnya.

Dengan kekalahan ini, Barzagli gagal mengulang kenangan manis bersama tim nasional Italia kala menjuarai Piala Dunia 2006 di stadion yang sama. Namun demikian, bek 34 tahun itu menegaskan hasil malam tadi tak mengubah memori bersama Gli Azzurri.

Bagi eks pemain Vfl Wolfsburg itu, kekalahan dari Barca justru jadi sebuah pengalaman berharga untuk Juve ke depannya. Dia berharap timnya bisa kembali ke final dalam waktu dekat. “Tidak, kenangan Piala Dunia akan bertahan selamanya. Saya sempat berharap mewujudkan mimpi lain. Itu tidak terjadi tapi kami menjaga diri kami tetap tegar,” katanya.

“Kami mencapai final, yang tidak terlalu sering terjadi. Barcelona juara empat kali dalam 10 tahun dan semoga kami bisa melakukan itu juga. Itu butuh pengalaman. Anda perlu melaju per babak setiap waktunya dan klub ini sedang berkembang. Jadi kami semua ingin kembali bermain di final secepat mungkin,” tutup Barzagli.