alfian mujaniKALIMAT sederhana ini sering diucapkan siapapun. Namun se­orang khatib di Mas­jid PLN Pontianak menjelaskan penger­tian berkah ini sangat menarik. Menurut dia, jika seorang pelancong minum air putih satu gelas lalu rasa hausnya hilang, memang begitu­lah fungsi dasar air. Tetapi jika air putih itu selain hilang rasa haus juga menghilangkan penyakit, itu namanya air berkah, yakni nilai tambah yang luar biasa.

Dalam konteks berbangsa, seorang presiden, gubernur, walikota, bupati bisa disebut pemimpin yang berkah jika mereka mampu menjaga rakyatnya dari rasa lapar, membawa rakyatnya dari kebohohan ke alam ilmu pengeta­huan, dan menjamin ketentraman hidup. Tetapi jika mereka hanya mampu meraih penghargaan Nobel, apalagi hanya Adipura, lalu memperkaya diri dan kelompoknya, boleh jadi kepemimpinan mereka itu laknat yang akan menyulitkan mere­ka sendiri kelak di Mahkamah Illahiyah.

Khatib itu menguraikan banyak contoh-contoh yang terkait dengan makna kata berkah. Jika apa yang kita lakukan tidak berkah, kata Khatib, maka kita akan diminta pertanggungjawaban di Mahkamah Akhirat yang tak memungkinkan kita menghadirkan pengacara. Saya sempat terhenyak dan ber­pikir keras, jangan-jangan yang dilakukan se­lama ini tidak berkah…!