11176285_565519883588013_1633643085_nKemasan produk merupakan salah satu unsur penting yang mempengaruhi banyaknya permintaan konsumen dan banyaknya penjualan terhadap produk UKM. Namun, masih banyak para pengusaha yang berfikir bahwa kualitas sebuah produk serta bagaimana cara pemasaran produk tersebut jauh lebih penting untuk meningkatkan penjualan jika dibandingkan dengan fokus pada kemasan produk. Ya, bisnis makanan tidak melulu soal kualitas rasa. Kemasan juga penting. Maklum saja, masyarakat zaman sekarang sedang gandrung mengunggah foto makanan mereka karena tampilannya yang unik di sejumlah akun jejaring sosial seperti Instagram, Path dan lain sebagainya.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Produk dari Chocorife misalnya. Sang pemilik usaha, yakni Fajrin Ramdhani, menjual cokelat marshmallow dan cokelat crunchy dengan memasukkan produknya ke dalam jar. Usaha ini baru saja dia jalankan di pertengahan tahun 2014. “Anak muda saat ini suka foto-foto makanan. Itu yang membuat saya membuat makanan dengan tampi­lan unik,” katanya.

Dani mengaku cara pembuatan cokelat marsh­mallow ini terbilang mudah. Dia hanya mencamp­urkan marshmallow berbagai rasa dengan lelehan coklat. Sedangkan untuk produk cokelat crunchy hanya mencampurkan sereal dengan cokelat leleh. Setelah itu produk dimasukkan ke dalam jar dan diberi merek.

Dengan konsep berjualan dengan kemasan sep­erti ini, bisnis kudapan cokelat miliknya mendapat respon bagus dari konsumen. Dalam sehari dia bisa memproduksi sekitar 20 jar sampai 50 jar cokelat. Harga jualnya dibanderol Rp 25.000 per jar. Dia mengaku bisa mengantongi omzet hingga Rp 20 juta per bulan. Laba bersih yang bisa dia raih seki­tar 20−30 persen.

Produk lainnya adalah kudapan dalam buatan Bunchbead. Usaha yang dimotori oleh Ferdha Agi­syanto di Malang ini menawarkan lima varian cake in the jar yakni red ocean, wood pines, tropical sparkling, chocolate devil dan strawberry short­cake. Dengan penataan sedemikian rupa, kudapan menarik ini banyak diminati para mahasiswa.

Laki-laki yang lebih akrab disapa Pepeng ini mengaku menjadi pengusaha cake in the jar perta­ma di Malang. Pepeng bilang, cake in jar miliknya berbeda dengan lainnya karena mereka mempu­nyai resep kue dan fla khusus serta meng­gunakan bahan baku pilihan. Dia men­gombinasikan kue tart dan fla dengan berbagai isian lainnya seperti mars­mallow, cokelat atau buah-buahan yang dimasukkan dalam botol selai.

Pepeng menjual produknya di kafe miliknya di Malang. Rata-rata jumlah produksinya sekitar 200 jar per hari. Harganya dibanderol mulai dari Rp 17.000−Rp 25.000 per jar. Total omzet penjualan bisa mencapai Rp 50 juta hingga Rp 70 juta per bulan.

Mereka memprediksi dalam tiga tahun ke de­pan kudapan dalam kemasan jar ini masih akan digandrungi para produsen untuk men­arik konsumen. Fajrin bilang, agar tetap bisa bersaing, dia terus melakukan inovasi dan berpromosi di me­dia sosial. (KTN)