C1---040615-Sport-Today

JIKA sepakbola memang bukan perkara bola panjang atau bola pendek, maka sudah sepantasnya sepakbola juga tidak mempersoalkan tinggi atau pendeknya seorang pemain

Oleh : ADILLA PRASETYO WIBOWO
[email protected]

Agaknya, kata “pendek” sering dilekati dengan makna yang kurang baik. Dilihat dari makna denotasinya, kata “pendek” juga memberikan pandangan yang kurang baik. Postur badan tinggi tampaknya menjadi idaman banyak orang. Buktinya, yang beredar di pasaran adalah adalah obat atau metode peninggi badan dan bukan sebaliknya.

Sepakbola juga sering meributkan soal tinggi atau pendeknya seorang pesekbola. Kita bisa berdalih bahwa sepakbola tidak terlalu mempersoalkan tinggi badan. Na­mun rasanya dalih tadi lenyap seketika saat perkara “postur tubuh” dikambinghitamkan atas sebuah kekalahan. Barangkali maksud­nya baik, untuk meyakinkan penikmat dan penyaksi sepakbola tanah air kalau tidak ada yang salah dengan kemampuan, teknik dan mental.

Masalahnya cuma satu: kurang tinggi, badan kurang tegap. Dan kalau sudah me­nyangkut masalah ukuran fisik, siapa yang bisa disalahkan? Pelatih fisik kesebelasan? Orangtua yang melahirkan? Atau Tuhan yang menciptakan?

Membincang tinggi atau pendeknya seorang pesepakbola mirip dengan membi­carakan hal yang tak pasti. Tak ada ukuran yang benar-benar mematok angka berapa se­hingga pesepakbola dapat disebut berbadan tinggi ataupun pendek. Barangkali, satu-satu­nya ukuran yang bisa digunakan adalah riset-riset yang dilakukan oleh sejumlah lembaga seperti The International Centre for Sports Studies (CIES).

Hasil penelitian lembaga yang berafiliasi dengan University of Neuchatel di Swiss ini menjelaskan bahwa, jika dirata-ratakan, tinggi badan pesepakbola di lima liga terbesar Eropa (Prancis, Jerman, Italia, Inggris dan Spanyol) pada musim 2013/2014 mencapai 181,98 cm. Jumlah ini menurun jika dibandingkan den­gan musim 2010/2011 yang mencapai angka 182,11 cm dan 182,19 cm di musim 2011/2012.

Menjelang final Liga Champions hari Sabtu (6/6/2015) depan, beberapa pesepakbola ber­tubuh pendek direncanakan ikut berlaga. Se­but saja Lionel Messi (170 cm), Xavi Hernandez (170 cm), Andres Iniesta (170 cm) ataupun Car­los Tevez (173 cm). Bentuk fisik yang agaknya juga bisa mengingatkan kita kepada pesepak­bola-pesepakbola masa lampau seperti Diego Maradona (165 cm), Ariel Ortega (170 cm) atau­pun Michael Owen (173 cm).

Jika badan yang tinggi menjadi salah satu tolak ukur kesempurnaan fisik, maka tak heran bila orang-orang bertubuh pendek sering dijadikan sebagai lelucon. Namun le­wat keberadaan para pesepakbola bertubuh pendek, asumsi orang-orang pendek yang identik dengan orang-orang menyedihkan in­gin diganti dengan cerita tentang orang-orang pendek yang menjungkirbalikkan “ketidak­berdayaan” tadi.

Dengan keberadaan mereka, kita diha­dapkan pada dongeng yang bercerita tentang bagaimana seorang penjaga gawang dengan tinggi 193 cm dikalahkan orang yang dalam dunia sepakbola bisa dikategorikan berbadan kerdil. Cerita-cerita yang sebenarnya tidak mempedulikan kemampuan bersepakbola, tetapi lebih kepada dongeng yang menyoal anatomi. Namun, yang perlu digarisbawahi, apapun yang disublimasikan ke dalam sebuah dongeng, semuanya adalah kebohongan.

Maradona tidak menjebol gawang Peter Shilton dengan tubuh cebolnya. Selain dengan gol tangan Tuhan, ia mencetak gol dengan ber­lari sendirian membawa bola sejauh kira-kira 60 meter sambil melewati lima orang pemain Inggris. Messi yang hanya lebih tinggi 5 cm dibandingkan Maradona juga tidak menjebol gawang Bayern karena tubuhnya tak sempur­na jika dibandingkan dengan postur pemain lawan. Ia mengalahkan Manuel Neuer dengan sepakan keras dari luar kotak penalti dan aksi solo run yang membikin Jerome Boateng ter­jungkal.

Seandainya Maradona ataupun Messi ti­dak bertubuh pendek, jika mereka berdua tetap berhasil mencetak gol seperti tadi beri­kut rekor-rekor lainnya, nama mereka tetap akan ada di daftar pesepakbola kelas atas. Dan sebaliknya, jika Xavi terlalu terpaku ke­pada tubuh besar lawan-lawannya sehingga tidak pernah bisa menyajikan umpan-ump­an brilian kepada para penyerang agaknya sependek apapun ia, para penggila Barce­lona tidak akan bersusah-susah memperse­mbahkan koreo pada pertandingan perpisa­hannya.

Sepakbola memang sering dijadikan seb­agai dongeng tentang berbagai kemustahilan. Tentang orang-orang yang tadinya direme­hkan namun sanggup mengalahkan mereka yang kerap dijagokan. Namun, jika sepakbola juga bercerita tentang kemenangan dan keka­lahan, maka seorang pesepakbola tidak per­nah kalah karena tinggi badan dan tidak per­nah menang karena postur tubuh.