lidoBOGOR TODAY – Menindaklanjuti temuan para peneliti dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertani­an Bogor (IPB), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan penyisiran di Danau Lido, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Ming­gu(7/6/2015). Hasilnya, tim khusus KLHK menyimpulkan Danau Lido tercemar lim­bah timbal.

Tim dari KLHK dibuat bingung dengan temuan ini. Pasalnya, tidak ada industri di sekitar danau Lido, Bogor, Jawa Barat. Ka­dar timbal di danau itu diduga berasal dari sawah. “Bisa saja dari sawah. Karena pesti­sida misalnya, atau bahan lain,” kata Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Karliansyah, Minggu (7/6/2015).

Tim Kementerian LH dan instansi terkait mengecek Danau Lido kemarin pagi. Mereka menelusuri kawasan sekitar hingga radius 2 Km. Tak ada industri atau sungai yang mengarah ke danau. Hanya ada persawahan. “Ada drainase-drainase kecil yang sumbernya dari sawah,” jelas Karliansyah.

Karliansyah menambahkan pihaknya mengambil sampel air danau dan sawah sekitarnya. Diharapkan, dalam waktu 5 hari, hasil laboratorium sudah bisa diketahui.

Pengecekan ini dilakukan setelah IPB mempublish penelitian yang menyebutkan Lido tercemar timbal. Penelitian tersebut dilakukan pada bulan Mei-Juni 2014 lalu. Kandungan timbal (Pb) di area sawah berkisar 0,190 mg/L, dan di area keramba jaring apung sebesar 0,083 mg/L. Sementara menurut aturan, batas aman adalah 0,03 mg/L.

“Kami belum tahu kemungkinan sumber pencemaran, sebab nggak ada industri di sekitar danau,” kata Karliansyah.

Baca Juga :  Logo Resmi Hari Sumpah Pemuda 2021

Karliansyah mengaku tidak bisa menyimpulkan pencemaran berdasarkan warna air. Harus ada pengecekan lebih lanjut di laboratorium. Maka itu, tim mengambil sampel untuk kemudian dicek di laboratorium. “Tidak bisa disimpulkan dengan hanya melihat warna air. Apalagi kadar timbal. Kami cek ke laboratorium dulu. Hasilnya bisa didapat kira-kira 5 hari,” tambahnya.

Sebelumnya, Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan pencemaran logam berat di Danau Lido, Bogor yang diakibatkan oleh tingginya kandungan timbal (Pb). Sebelumnya, pencemaran juga sudah ditemukan di Danau Toba, Sumatera Utara.

Karliansyah mengungkapkan, pengecekan kondisi Danau Toba dilakukan oleh kementerian pada tahun 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa danau yang jadi obyek wisata itu kini tercemar pakan ikan. “Jadi di Danau Toba banyak keramba apung dari perusahaan dan masyarakat adat. Dari keramba tersebut, banyak pakan ikan yang terendapkan,” kata Karliansyah.

Pakan ikan itu memiliki berbagai kandungan organik mulai dari nitrogen hingga fosfor. Pengendapan itu mengakibatkan sinar matahari sulit menembus permukaan danau. “Limbah organik tinggi itu butuh oksigen untuk mengurai. Tanpa oksigen, ikan-ikan di sana mati,” ujarnya.

IPB juga telah membuat kesimpulan ada kadar timbal (Pb) yang tinggi di Danau Lido. Zat itu sudah memberikan dampak negatif pada larva chironomid di danau. Lalu apa efeknya pada manusia?

Dr Majariana Krisanti sebagai salah seorang peneliti mengatakan, timbal yang tinggi di Danau Lido telah menimbulkan kecacatan morfologi terhadap larva chironomid, yaitu larva sejenis serangga yang bentuk tubuh dewasanya mirip nyamuk tetapi tidak menggigit.

Baca Juga :  Kue Dongkal, MakananTradisional Indonesia yang Mulai Langka

“Juga ditemukan kandungan Pb yang cukup besar (90,44 sampai 427,78 mg/L) dalam tubuh larva chironomid,” terang Maja, Sabtu (6/6/2015).

Lalu, apa dampak timbal yang masuk dalam kategori itu terhadap manusia? “Secara alamiah kandungan Pb di air yang tidak terpolusi adalah di bawah 0,003 mg/L. Kami gunakan baku mutu dari PP tersebut untuk menyesuaikan dengan batasan yang dibuat pemerintah,” jelasnya.

“Pada umumnya logam berat tidak langsung bersifat lethal (mematikan). Akan tetapi bersifat akumulasi pada tubuh organisme, dapat dilihat dari hasil penelitian kami. Selain itu bersifat teratogenik (menyebabkan kecacatan) seperti hasil penelitian kami pada larva chironomid. Kami tidak menelusuri lebih lanjut dengan jenis biota air lainnya. Demikian juga untuk manusia. Kehati-hatian diperlukan mengingat pengaruh Pb ini tidak langsung terlihat dalam bentuk kematian,” sambung MajA.

Sejauh ini, Maja belum bisa memastikan dari mana sumber pencemaran timbal itu. Namun dari berbagai riset di tempat lain, kemungkinannya bisa bermacam-macam. “Penelitian terhadap sumber Pb cukup banyak. Bisa secara alamiah maupun akibat kegiatan manusia. Dari kegiatan manusia antara lain aktivitas industri metal, aki, bahan kimia dalam proses pembuatan bahan bakar minyak, beberapa jenis cat, dan berbagai kegiatan lain,” jelasnya.

(Yuska Apitya Aji)