asdMIDDLE East Respiratory Syndrome (MERS) kembali menjadi topik panas masyarakat Indonesia. Di dua negara Asia, yakni Korea Selatan dan Thailand, virus ini dengan cepat membunuh masyarakat. Para pakar memprediksi, virus ini bisa menyebar ke Indonesia melalui banyak media.

YUSKA APITYA AJI ISWANTO
[email protected]

Menteri Kesehatan (Menkes), Nila F Moeloek, mendadak di panggil Presiden Jokowi. Nila diminta untuk menyurati seluruh pemerintah daerah agar meningkatkan status kewaspadaan terhadap virus MERS.

Dalam edarannya, Nila mengingatkan jamaah haji Indonesia agar tidak berfoto bersama unta selama berada di Tanah Suci Mekah. Hal itu untuk mencegah terjangkit virus MERS. “Saya titip kepada calon haji, jangan foto-foto bareng unta.

Agar terhindar dari penularan penyakit MERS,” ujarnya kepada wartawan di sela-sela acara peresmian katarak centre di klinik Hasri Ainun Habibie, Jalan Semeru, Bogor Barat, Kota Bogor, Minggu (21/6

/2015 ).

Menkes mengatakan, penyakit MERS me­mang rentan menyerang orang yang berusia lanjut, apalagi banyak calon jamaah haji asal Indonesia yang berusia lanjut.

Dia juga mengimbau kepada calon ja­maah haji untuk selalu menggunakan masker selama beribadah di Mekah dan berperilaku hidup bersih. «Untuk pencegahannya ada Kantor Kesehatan Pelabuhan karantina. Lalu kita jaga dengan scanner, kalau ada wisa­tawan yang ketahuan demam harus dilapor­kan dan dalam waktu 14 hari harus kita ob­servasi,» katanya.

Sejauh ini, pihaknya belum menerima laporan soal adanya orang Indonesia yang terjangkit MERS. Sedangkan, seorang warga Surabaya yang sebelumnya terjangkit MERS, hasilnya negatif.

Dia menjelaskan, hingga saat ini belum ada kasus MERS yang masuk Indonesia. Na­mun pihaknya tetap akan melakukan tinda­kan pencegahan agar virus penyakit perna­fasan itu tidak masuk ke Indonesia.

Satu orang pasien asal Oman yang bera­da di Thailand positif terinfeksi Middle East respiratory syndrome (MERS). Atas temuan itu, pemerintah Thailand langsung bertindak cepat untuk mencegah penyebaran lebih luas.

Baca Juga :  Ratusan Pengusaha Kafe dan Restoran Bakal Kibarkan Bendera Putih

Kepala Badan Penelitian dan Pengem­bangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Tjandra Yoga Aditama mengatakan semua negara, termasuk Indonesia, harus meniru langkah cepat Thailand bila men­emukan kasus MERS. “Thailand langsung melakukan pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit,” kata Tjandra melalui keterangan tertulis, Minggu, 20 Juni 2015.

Thailand, ucap Tjandra, langsung melakukan karantina pada 59 orang yang pernah kontak dengan pasien positif MERS tersebut. Pasien itu sebelumnya datang ke Thailand untuk berobat dan langsung menu­ju rumah sakit dari bandara. Mereka yang dikarantina adalah tiga anggota keluarga pasien, petugas kesehatan yang menangani pasien, sopir taksi yang membawa pasien dari bandara, penumpang yang duduk dua baris depan dan belakang pasien di pesawat, serta seluruh awak pesawat.

Selain itu, Thailand juga langsung men­gaktifkan Emergency Operation Center. Se­belum kasus ini, sepanjang 2015 Thailand sudah pernah memeriksa 36 MERS-CoV, semua uji laboratorium menunjukkan hasil negatif.

Pasien dari Oman mengeluh sakit sejak 10 Juni 2015. Dia datang ke Thailand untuk berobat pada 15 Juni 2015. Pasien langsung dibawa ke rumah sakit dan dimasukkan dalam ruang isolasi. Tindakan ini tak ter­jadi di Korea Selatan pada kasus pertama di mana pasien baru pulang dari Arab Saudi. Epidemi MERS segera menyebar luas di neg­eri ginseng itu.

Pasien Thailand awalnya masih dirawat dengan diagnosis pneumonia. Setelah tiga hari, baru lah dilakukan pemeriksaan dahak yang mengarah pada gejala MERS. Uji labora­torium menunjukkan hasil positif.

Dengan temuan MERS di Thailand, WHO mencatat ada 1.334 kasus MERS di 26 negara. Sebanyak 471 di antaranya berujung pada ke­matian. “Jarak Thailand kurang dari tiga jam terbang dari Indonesia, ada hal penting yang dapat kita pelajari dari sana,” kata Tjandra melalui keterangan tertulis, Minggu, 21 Juni 2015.

Pertama, kata Tjandra, pasien MERS di Thailand berasal dari Oman, salah satu neg­ara jazirah Arab. Artinya, jazirah Arab tetap jadi tempat yang perlu diwaspadai. Meski­pun kasus MERS di Korea Selatan sudah menurun, penularan dari jazirah Arab terus terjadi. “Ini harus jadi perhatian jamaah um­rah dan haji kita.”

Baca Juga :  Layanan Tirta Pakuan Kota Bogor Tetap Buka, Disesuaikan dengan PPKM Level 4

Selanjutnya, pasien itu berusia 75 tahun. Usia tua, ucap Tjandra, memang menjadi fak­tor resiko MERS-CoV. Sementara itu, jemaah umrah dan haji sebagian besar adalah para lanjut usia. Tjandra mengimbau agar petugas dan keluarga pengiring dapat waspada akan faktor tersebut.

Tjandra mengatakan pasien yang sudah sakit sejak 10 Juni 2015 itu sengaja datang ke Thailand untuk berobat. Dia mendarat di Bangkok pada 15 Juni 2015, tapi tak terde­teksi pada pemeriksaan di bandara. “Hal ini kembali mengkonfirmasi bahwa pemerik­saan di bandara tak 100 persen dapat mem­bendung masuknya MERS ke suatu negara,” ujar Tjandra.

Untungnya, dia melanjutkan, dari ban­dara pasien langsung menuju rumah sakit sehingga langsung dapat dilakukan pemerik­saan. Pasien itu pun segera dimasukkan ke ruang isolasi untuk mencegah kemungkinan penularan. Tindakan serupa tak dilakukan di Korea Selatan sehingga MERS langsung me­nyebar luas di negeri ginseng itu.

Di Indonesia sendiri, hingga saat ini, belum ada laporan kasus positif MERS. Se­belumnya, seorang anak buah kapal Cina dirujuk ke RS Umum Sutomo Surabaya karena diduga menderita MERS. Uji labo­ratorium menunjukkan hasil negatif dan pasien itu telah dipulangkan. Sementara itu, data MERS-CoV yang dilaporkan pada World Health Organization dari 26 negara menca­pai 1.334 kasus. Sebanyak 471 kasus berujung pada kematian.

Terpisah, Kadinkes Kota Bogor, Rubae­ah, mengatakan, sejauh ini belum ada kasus MERS di Kota Bogor. “Tapi, edaran itu kami apresiasi. Pekan depan kita akan sebarkan edaran tersebut ke seluruh agen umroh dan haji. Kalau rumah sakit di Kota Bogor, masih negatif belum ada temuan MERS,” kata dia. (*)