medium_STA_Sekuritas_1

JAKARTA, Today – Pertumbuhan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung lesu hingga Mei 2015. Kebijakan kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) ditambah pelambatan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2015 berdampak negatif untuk laju IHSG.

Direktur PT Investa Saran Mandi Hans Kwee, mengatakan, proyeksi laju IHSG masih konsolidasi dengan kecenderungan fluktuaktif pada Juni 2015. Sejumlah sentimen eksternal masih membayangi laju IHSG pada Juni 2015. Selain itu, tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga mewarnai laju IHSG. Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menunjukkan rupiah berada di kisaran 13.211 per dolar AS pada 29 Mei 2015.

Baca Juga :  Hotel Grand Savero Bogor Sediakan Promo Paket Akad Nikah Murah Hanya Rp 5 Juta

Pada awal Juni 2015, pelaku pasar juga menanti rilis data inflasi dan neraca perdagangan yang merupakan indikasi awal pertumbuhan ekonomi. “Yunani ada peluang gagal bayar pada Juni. Tekanan rupiah akibat kenaikan dolar Amerika Serikat dan aliran dana asing keluar dari pasar modal juga masih mempengaruhi laju IHSG,” kata Hans.

Hans memperkirakan, IHSG berfluktuasi di level 5.200-5.450. Sementara itu, Reza menuturkan, gerak IHSG juga cenderung masih lesu. Apalagi ada momen puasa pada Juni sehingga membuat volume perdagangan saham cenderung berkurang.

Baca Juga :  Peternak Ayam Petelur di Bogor Babak Belur, Harga Telur Pecah

Reza pun merekomendasikan sejumlah saham yang dapat diperhatikan pelaku pasar. Saham-saham itu antara lain PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

(Apri)