DLLAJ..-(4)MACET di Kota Bogor masih menjadi bahasan utama obro­lan warung kopi hingga obro­lan di sofa empuk di ruangan ber-AC. Macet bukan lagi dise­babkan Sikomo atau curhat bal­ita sebelum bayi di-nina-bobok­kan. Macet harus diakui kian menjadi benih frustasi penggu­na jalan. Namun, apa kata Bos Dinas Lalulintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ)? Kita simak.

Raut Achsin Prasetyo siang kemarin memang sumringah. Menyambut wartawan koran ini, pentolan DLLAJ Kota Bo­gor itu berbagi cerita. Namun, mimiknya berubah serius saat membahas soal penangnan macet.

Menurutnya, Kota Bogor itu sudah tidak lagi macet. Tapi, perilaku manusianya lah yang membuat macet. “Parkir liar dan pelanggaran lain ha­rusnya tidak ada. Kami juga akan koordinasi dengan dinas lain yang bersangkutan, sep­erti parkir liar itu di trotoar kan ada dinas yang menangani itu Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Aair (DBMSDA),” kata dia, berseloroh.

Baca Juga :  Kabupaten Bogor Tercatat Sebagai Wilayah Persentase Vaksinasi Terendah, Gubernur Jawa Barat Bilang Begini

Kening Achsin nampak mengkerut saat disindir soal persiapannya menggelar pen­gamanan jalur menyambut Bo­gor Transportasi Summit (BTS).

Terlebih, pada acara itu di undang juga para inves­tor dalam bidang transpor­tasi. “Akan di diskusikan saat Bogor Transportasi Summit, mana yang bisa menjadi pelu­ang dibangun dahulu dengan masuknya investor ke Kota Bogor,”ujarnya,

Lebih lanjut Achsin menjelaskan, transportasi Kota Bogor kedepan dipercepat pembangunan infrastruktur serta pembangunan angkutan masal. “Mau bikin monorel atau program yang ada yang bisa dikerjakan akan dibicara­kan. Kami mengundang inves­tor yang bergerak dalam bi­dang transportasi dalam acara itu,” tambah Achsin.

Baca Juga :  Menunggu Program Rumah Tidak Layak Huni, Rumah Warga Kampung Cigeger Keburu Ambruk

Achsin mengaku, pihaknya sudah menyusun program, se­hingga nanti akan didahulukan yang memungkinkan untuk dikerjakan. “Akan tetapi hal ini perlu biaya yang tidak sedikit, oleh karena itu harus ada inves­tor. Selain itu harus ada peran serta masyarakat sehingga program berjalan sesuai. Ma­syarakat harus tertib, katanya orang Bogor benci kemacetan, makanya harus tertib dan sa­dar,” jelasnya.

Achsin menambahkan, ka­lau sudah ada dukungan ma­syarakat program akan lebih cepat terealisasi, sehingga kebijakan akan mengikuti. Ke­bijakan anggaran dan lainnya akan mengikuti kalau masyara­kat tertib. “Kebanyakan pelang­garan dilakukan oleh kalangan yang berpendidikan. Mobilnya yang bagus, jadi bukan hanya angkot saja yang melanggar. Kalau melanggarkan kan sama aja sama sopir angkot,” beber­nya.

(Guntur Eko Wicaksono)