11055527_1579623542321888_408108171_nPerkembangan dan inovasi di bidang seni dengan sentuhan teknologi modern semakin berkembang, terutama di negara-negara maju. Salah satunya adalah teknologi pembuatan figur tiga dimensi (3D) customized. Produk yang dihasilkan merupakan perpaduan kemajuan teknologi, desain grafis, foto dan kreativitas. Tidak seperti patung action figures atau cosplay yang di jual berupa produk jadi, tapi produk ini bisa dipesan dengan wajah dan konsep yang diinginkan konsumen.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Harry Liong, salah satu pengusaha figur 3D di Jakarta dengan merek Sugacubes 3D Studio menjelas­kan, action figure adalah patung yang karakternya diambil ber­dasarkan film, komik, videogame, atau acara TV. Nah, kalau produk figur 3D ini siapa saja boleh menjadi objek figurnya. Produk figur 3D juga tidak bisa digerakkan, sementara action figure sebagian anggota tubuh seperti tangan atau kaki bisa digerakkan.

Bisnis figur 3D customized ini masih cukup jarang ditemukan di Indonesia karena keterba­tasan teknologi serta tenaga ahli. Pembuatan­nya menggunakan teknologi 3D printing lewat tiga kali proses produksi. Teknologi 3D print­ing ini di Indonesia sudah cukup lama eksis, namun penggunaannya masih bersifat teknis seperti keperluan alat kedokteran atau maket bangunan, belum sampai di industri kreatif. Nah, teknologi ini baru digunakan baru-baru ini di sektor kreatif.

Tren figur 3D sudah mulai tren di Amerika Serikat (AS) sejak tahun 2013 silam dan baru mulai dikenal di Indonesia sejak awal tahun ini. Lantaran membutuhkan modal yang cu­kup besar, saat ini sebagian besar pelaku usaha memproduksi di luar negeri.

Muljadi Honggo, pengusaha figur 3D lewat brand Klikminime dari Jakarta mengatakan, dia menjalin kemitraan dengan perusahaan Qminime dari Hong Kong untuk menjalankan bisnis ini. Produk 3D figure ini unik dan belum banyak ditemukan khususnya di Jakarta. Itu­lah sebabnya, ia mengagumi karya artistik ini, hingga berani memasarkannya.

Andalkan teknologi

Ada tiga produk yang di jual di Klikmin­ime, yakni patung karikatur 3D, foto kaca 3D, dan boneka muka 3D. Dalam sebulan, Mul­jadi mampu memproduksi 25 buah 3D figure dalam tenggang waktu 35 hari. Harga jualnya berkisar dari Rp 1,55 juta hingga Rp 6 juta per unit. “Saya bisa meraup omzet sebesar Rp 35 juta per bulan,” kata Muljadi.

Untuk produksi, Mulyadi bilang, semua masih dilakukan di luar negeri. Desain badan sudah ada template dari perusahaan di Hong Kong yang bekerjasama dengannya. Semen­tara, untuk pembuatan kepala dan wajah, Klikminime mengikuti foto yang dikirimkan konsumen yang akan dibuatkan dalam versi karikaturnya.

Yudi, pemilik usaha My 3D Figure juga bekerjasama dengan produsen di luar negeri yakni di Taiwan. Pria lulusan Asia Pacific Insti­tute of Information Technology (APIIT) di Ma­laysia ini memang memiliki hobi mengoleksi action figure sehingga tertarik untuk berbisnis yang terkait dengan hobinya tersebut.

Yudi menjelaskan, proses pembuatan figur 3D ini memakan waktu hingga tiga minggu. Pa­tung badan terbuat dari polymer clay atau tanah liat. Sedangkan untuk kepala terbuat dari poly­ester resin atau resin fiber. “Untuk bagian tubuh­nya sudah ditentukan oleh pabrik, jadi proses pembuatannya bisa lebih singkat,” kata Yudi.

Sementara Harry, membawa bisnis figur 3D ini ke Indonesia dengan mencoba menjalank­an semua proses produksi di tempat usahanya sendiri di Jakarta. Investasi mendatangkan me­sin 3D printing yang cukup mahal membuat usaha ini belum banyak dilirik di Indonesia. Nilainya mencapai miliar rupiah.

Dia menjelaskan, bahan baku pembua­tannya menggunakan pasir komposit alias sandstones dan melewati tiga langkah utama. Pertama, konsumen difoto dalam sebuah studio foto dengan puluhan kamera untuk menangkap semua detil yang mengelilingi objek 360 derajat. Kedua, hasil foto dua dimensi dijadikan data digital dan diolah menggunakan software khusus menjadi data tiga dimensi.

Data objek akan diperhalus, dan bisa dimodifikasi sesuai permintaan. “Pelang­gannya bisa meminta misalnya badan­nya mau dikuruskan atau digemukkan, jadi hal ini juga berlaku sama seperti edit­ing foto di Photoshop,” ucap Harry.

Kemudian langkah ketiga, melalui data digital, data siap untuk dicetak di mesin 3D printing yang menghasilkan cetakan. Kemudian dengan ce­takan ini, dibentuk figur 3D dengan ba­han baku sandstone tersebut. Tahap akhir, patung yang sudah jadi diberi warna agar tam­pak lebih hidup, seperti di foto.

M e n u r u t Harry, tingkat akurasi hasilnya mencapai 90% sehingga wa­jah mirip dengan aslinya. Produk ini pun hasilnya tahan lama, selama tidak terjatuh atau terkena sinar matahari langsung.

(KTN)