alfian mujaniKHALIL Gibran berkata: “Suatu hari kutulis di pintu ru­mahku ‘Tinggalkan Kemunafikanmu di Luar, Lalu Masuk­lah ke Dalam Ru­mahku.’ Ternyata tak seorangpun berkun­jung ke rumahku.”

Kalimat pendek Gibran ini, sangat menusuk dan jelas pesannya. Kita tak perlu membahas alasan Gibran menulis itu. Kita juga tak perlu mem­pertanyakan apakah Gibran sendiri terbebas dari kemunafikan, salah satu penyakit hati paling serius itu.

Yang kita ingin ambil adalah hikmah dari ucapan Gibran, bahwa memang sulit men­cari orang yang tampilan lahir sama dengan warna batinnya. Omongannya sama dengan suara hatinya. Kita sangat sulit bersikap tulus ikhlas. Mengapa? Karena persaingan duni­awi membuat kebanyakan umat manusia ke­takutan menghadapi kekalahan. Supaya tak terlihat kalah, maka seseorang menampil­kan diri dengan dua atau lebih wajah yang menipu. Di depan tersenyum, di belakang manyun dan diam-diam menikam. Di depan bilang iya, di belakang justru menggalang perlawanan. Inilah dunia kita saat ini.