coklat-monggo-pendiri

Cokelat sudah biasa menjadi oleh-oleh mereka yang berlibur atau bertugas dari luar negeri. Kini, beberapa produsen cokelat lokal juga ingin menjadikannya oleh-oleh khas daerah. Di beberapa kota, ada cokelat lokal yang sudah populer. Di Yogyakarta, misalnya, ada Cokelat Monggo, di Bandung dan Garut terkenal dengan Chocodot, di Makassar ada Cokelat Makalate, dan Lampung ada Kakoa.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Sebagai pembeda, cokelat lokal ini juga menjual inovasi dengan meramu cokelat dengan aneka rempah dan buah lokal. Cokelat Monggo dan Kakoa mengisi cokelat dengan jahe, mete, pala, mangga, dan durian.

Bahkan, Cokelat Monggo baru saja mengelu­arkan cokelat rasa rendang. “Kami mengadap­tasi rasa lokal,” kata Thierry Detournay, pendiri Cokelat Monggo.

Baca Juga :  Frida Aulia Indonesia Tampil di Fashion Show  Launching Batik Khas Parepare

Total Jenderal, Cokelat Monggo punya 20 varian rasa, Selain rasa, kemasan juga dibuat berbeda. Kakoa, misalnya, mengemas cokelat dengan kemasan motif batik.

Pembelian 6 varian rasa lengkap bisa di­masukkan dalam boks bertali nan unik. “Kami berencana menggunakan zip bags yang sangat cocok dengan produk ini,” ujar Sabrina Mus­topo, Pendiri Kakoa. Selain dijual di kota asal, cokelat lokal ini juga berusaha memperbesar pasar dengan membuat jaringan reseller dan masuk ke ritel modern.

Cokelat Makalete saat ini dari Makassar su­dah menyebar ke Padang, Palembang, Band­ung, Kebumen, Yogyakarta, Surabaya, Lam­pung, Samarinda, dan Gorontalo.

“Tidak ada ongkos kirim untuk minimal pembelian 10 batang cokelat,” tutur Irwan Miri, Pemilik Cokelat Makalate. Chocodot dari Garut sudah merambah ke Bali dan Yogya­karta. Cokelat Monggo malah sudah masuk ke pelbagai hotel dan cafe, seperti Ritz Carlton, JW Marriot, The Phoenix, R&B Grill, Zango, Mediterrania, Indische, Via-Via Cafe, Kamuela dan Dijon.

Baca Juga :  Frida Aulia Indonesia Tampil di Fashion Show  Launching Batik Khas Parepare

Yuswohadi, Pengamat Pemasaran me­nyarankan produsen jangan bernafsu memper­luas pemasaran ke banyak daerah. “Hal ini jus­tru membuat nilai limited produk tersebut tak lagi tinggi,” ujarnya.

Pieter Jasman, Ketua Umum Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) ber­harap fenomena ini mendorong konsumsi cokelat dalam neg­eri naik jadi 1 kg/ kapita/ tahun dari sekarang 0,8 kg. “Serapan lo­kal bisa lebih dari 20% produksi,” katanya.

Nah, apak­ah Anda ter­tarik mencip­takan cokelat unik di deareh Anda masing-masing? (KTN)