3718272_20131219122942YASA Paramita Singgih dikenal sebagai salah satu pengusaha muda dibawah 20 tahun. Lahir dari keluarga sederhana, membuatnya selalu menghar­gai kerja keras. Belum kuliah usahanya sudah kemana- mana. Semuanya dimulai dari angka nol besar alias tanpa modal uang. Yang berbeda padan­ya hanyalah kasih sayang keluarga. Dia tumbuh menjadi anak yang menginginkan kebahagiaan orang tuanya dan itu semangatnya.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Di kelas 3 SMP, dia melihat sang ayah menderita sakit jantung, ayahnya Marga Singgih, memberikannya satu titik balik. Ia pun mulai men­jadi pembawa acara guna mencari uang ja­jan sendiri. Yasa tak mau membebani kedua orang tuanya. Usaha pertamanya adalah melamar sebagai Master of Ceremony, beker­ja sebagai pembawa acara di sebuah pusat perbelanjaan. Dalam seminggu ia menerima uang Rp350.000 setiap kali tampil sehari.

Sehari setidaknya ada 3 kali tampil untuk kesempatan berbeda bermodal nekat. Jujur saja Yasa tak pandai bercuap- cuap menjadi pembawa acara. Apalagi saat itu dirinya ma­sih berbaju putih- biru. Tak cuma acara biasa tapi juga acara dewasa dibawakannya. Bukan usaha baik untuk anak di usia 15 tahun kala itu. Tak jarang Yasa harus membawakan aca­ra sebuah merek rokok yang diperuntukan kalangan 18 tahun keatas. Tetapi itu semua ada hikmahnya selain melatih mental.

Itu juga mendorongnya memilih memu­lai bisnis sendiri. “Karena terpaksa, ya, jadi bisa dan malah terbiasa,” pungkasnya.

Selepas masuk SMA Regina Pacis, Jakar­ta, barulah dimulai usahanya sendiri untuk mencari uang. Selepas kontrak sebagai pem­bawa acara selesai, ia mulai berbisnis lampu hias warna- warni selama enam bulan. Se­buah buku berjudul “the Power of Kepepet” karya Jaya Setiabudi, membuatnya terbakar berbisnis mandiri. Kala itu Yasa langsung menghubungi temanya yang memiliki usa­han konveksi (milik ayahnya).

“Halo Von, mau bikin baju sama bokap loe… Belom ada Von, besok gw DP dulu 500 ribu, kalo dalem 3 minggu belom ada design, Dp nya buat loe.” begitu kiranya reka adegan diperagakannya.

Singkat cerita ia menemui tiga orang yang ahli aplikasi desain. Dia yang tidak bisa mendesain, mulai berguru selama 7 hari. Hasilnya, ia masih tidak bisa sama sekali hingga hari terakhir desainnya harus dikirim. ia benar terdesak atau kepepet dan memu­tuskan menggunakan Microsoft Word untuk mendesain. Akhirnya ia pun mengirimkan sebuah desain yaitu gambar Ir. Soekarno. “Orang Indonesia ada ratusan juta, masa 24 orang aja gak ada yang beli,” ucapnya ter­tawa.

Setelah dua minggu kaosnya jadi, dia segera menjual kasonya dan hanya laku terjual 2 buah saja. Dari dua kaonya, satu kaosnya dibeli oleh ibunya sendiri karena kasihan. Dan lucunya, dia merasa semuanya menarik dan perasaan kepepet itu semakin jadi. Yasa lalu berlari ke Tanah Abang, mem­beli selusin pakaian kaos hingga menghabis­kan 4 juta. Dia harus bersusah payah mem­bawa kaos- kaos tersebut, melewati ribuan penjual dan pembeli yang tumpah jadi satu.

Baca Juga :  Efek Buruk Aborsi Bagi Kesehatan Mental Wanita

Di rumah, dia benar- benar terkejut atas keputusanya membeli banyak sekali barang. Ia harus memutar otak lagi untuk menjual­nya atau merugi besar- besaran. Beberapa kali menawarkan ditambah rasa percaya diri, ia mulai menjual produknya tanpa ada mar­keting khusus atau brand tersenidiri. Lama kelamaan, Yasa berhasil menutup modalnya dan mulai mencari cara menjual produknya sendiri. Dua kali bisnis kaos yang bermodal kepepet, Yasa mulai merencanakan bisnis­nya secara matang- matang.

Dia membuka bisnis minuman yang diberi nama “Ini Teh Kopi”, sebuah usaha kedai men­jual minuman kopi duren. Usahanya tersebut bisa dibilang sukses besar ditambah dengan namanya yang dikenal. Dari bisnis kaos, ia per­nah diwawancarai oleh majalah entrepreneur besar di Indonesia. Bisnis lainnya yaitu mem­buka toko online “Men’s Republic”.

Bangkit Bangkrut

Naik kelas dari sebelumnya cuma berjua­lan produk milik orang lain. Kini, seorang Yasa Singgih adalah salah satu pengusaha online sukses bersama Men’s Republic. Men­gambil pasar anak muda -pria pada khusus­nya. Ini membawa namanya kian berkibar di berbagai media masa. Dulu ketika berjualan kaos tanah abang yang ia miliki cuma Black­Berry sebagai modal. Usahanya kala itu ma­sih bermodal hutang tapi lama- lama bisa jadi modal.

Sebelumnya cuma ambil di Tanah Abang kini punya merek sendiri. Di tahun 2012, ia menjajal berbisnis cafe, membuka sebuah tempat nongkrong keci bernama Ini Teh Kopi. Di awalnya cukup ber­jalan apik hingga bisa mem­buka cabang. Usaha perta­manya terletak di kawasan Kebun Jeruk, selang enam bulan, Yasa membuka ca­bang di Mal Ambassador, Jakarta Selatan. Semangat tinggi tak dibarengi perhi­tungan matang. Usahanya berkembang terlalu cepat tapi hasilnya minus.

Bahkan uang dari bisnis kaos Men’s Republic terba­wa- bawa. Usahanya resmi ditutup, kedua cafe -nya itu ditutup dan juga habis modal tanpa sisa. Bangk­rut Yasa Singgih bahkan ikut menghentikan bisnis kaosnya. Dihitung- hitung Yasa merugi sampai 100 juta ketika dirinya masih di bangku SMA. Disaat bersamaan, sekolah ten­gah mempersiapkan uji­an nasional, begitu pula dirinya yang sudah kelas 3 SMA. Makanya urusan rugi atau membuka bis­nis kaos kembali dihen­tikan dulu.

Baca Juga :  Mitos atau Fakta Memakai Baju Basah Dapat Menyebabkan Flu, Begini Kata Dokter

“Karena tak punya modal lagi untuk mem­beli barang dan ada UN, jadi saya fokus untuk urusan sekolah saja. Us­aha baju saya hentikan sementara,” terangnya kepada awak media.

Selepas UN, tepat­nya di 2013, fokus Yasa ada pada bisnis aneka produk buat pria. Ya, Men’s Republic itu masih berdiri dan belum dijajah rasa kapok, bag­inya kehilangan uang 100 juta tak membuat­nya kapok dan berhenti berbisnis kembali. Yasa bermodal nama mulai membangun bis­nis tanpa modal. Kali ini, ia bertemu dengan satu pabrik yang memberinya 250 pasang sepatu. Itu diberikan un­tuk dijualkan dengan tenggat waktu selama dua bulan.

Kepepet membuat Yasa berpikir serius bagaimana agar semuanya terjual. Dijualnya sepatu itu bermodal brand atau mereknya. Menggunakan survei sebagai landasa, kali ini, Yasa tak mau bangkrut kembali seperti yang dulu- dulu. Dia mendapati pembeli rata-rata Men’s Republic adalah umur 15 tahun- 25 tahun. Untuk itu pula ia menyesuaikan harga produknya tak lebih dari Rp.500.000. Selain menjual sepatu ada pula produk lain seperi jaket, sandal, bahkan pakaian dan celana dalam.

Kisaran harga dipatoknya ada pada ang­ka Rp.195.000- Rp.390.000 per- itam. Fokus Yasa cukup agar itu bisa terjual melalui an­eka branding lewat online. Total ada enam pabrik bekerja sama dengannya di kawasan Bandung. Uniknya pabrik tempatnya beker­ja sama tak cuma membangun mereknya. Mereka juga bekerja sama dengan produk bermerek lain seperti Yongki Komaladi dan Fladeo. Ia sendiri mencontoh para pemilik merek tersebut.

“Merek-merek itu tak punya pabrik sama sekali, tapi penjualannya luar biasa, kan? Saya mau terapkan hal yang sama pada usa­ha saya,” kata dia.

Kini, perlu kamu ketahui, produk Men’s Republic telah menjual 500 buah pasang sepatu per- bulan. Tanpa ada pabrik Yasa mampu menghasilkan mozet ratusan juta rupiah. Soal laba bersih, tenang, dia sanggup untuk menghasilkan 40 persen dari sana. Tak puas pada produknya sekarang, masih ada pemikiran dibenaknya untuk menjual produk ikat pinggang, dan celana. Yang pal­ing pasti adalah ia akan terus mematangkan konsep bisnis sambil berjalan.

“Men’s Republic” adalah bisnis ketiganya yang berfokus pada penjualan secara online. Dia menjual produk yang dikhususkan un­tuk pria. Dia menjual baik produk miliknya sendiri atau produk milik orang lain. Ia juga berencana membangun Bilionary Versity, yaitu sekolah bisnis non- formal untuk para pengusaha muda. Dia berbisnis dengan ke­percayaan bahwa usia muda haruslah diman­faatkan baik- baik.

(Apri/pengusaha.us)