10838670_273787569411680_1453046715_nDulu, ngopi identik dengan kalangan tua. Kini, kebiasaan menyeruput kopi sedang menjadi tren kalangan muda untuk menemani kongkow bersama rekan. Tak heran jika kedai kopi modern tumbuh subur di Tanah Air. Nah, setahun belakangan, ada satu macam kopi yang sedang hangat diperbincangkan, yakni cold brew coffee alias kopi seduh dingin. Namun, ini bukan kopi biasa yang dicampur dengan es batu agar dingin, cold brew merupakan salah satu metode menyeduh kopi. Seperti apa?

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Selain nikmat, secangkir kopi memberi rasa tenang dan minimal dipercaya efektif se­bagai pengusir kantuk. Kand­ungan kafein yang ada dalam minuman kopi bisa membawa efek me­nyegarkan bagi tubuh. Banyaknya kha­siat yang terkandung dalam kopi juga membuat minuman berwarna hitam punya banyak penggemar.

Bila rata-rata kopi diseduh dengan air panas, cold brew coffee merupakan kopi diseduh dengan air bersuhu ka­mar atau air dingin. Waktu penyedu­han bisa berlangsung antara 12 jam–24 jam. Setelah diseduh, hasilnya adalah kopi konsentrat yang dapat dinikmati dengan tambahan susu atau es.

Konon, dengan metode seduh ini, kadar asam pada kopi menurun. Dus, orang-orang yang biasanya tak suka kopi karena menimbulkan sakit perut atau maag, bisa menikmati cold brew coffee. Sebenarnya sudah ada beber­apa kedai kopi yang menyajikan kopi dingin ini. Akan tetapi, baru awal tahun lalu, produk kopi cold brew dipasarkan dalam kemasan botol dan dijual ritel.

Adalah No Sleep Coffee yang men­jadi pelopor produk cold brew coffee di Jakarta. Merek kopi dingin ini diper­kenalkan Riska Ilmii, Ardianto Putra, Gian, dan Pulung Aldila. Riska bercer­ita, mereka berempat bertemu ketika masih sama-sama kuliah di Malaysia dan merupakan penggemar kopi. Bah­kan Pulung sempat belajar pembuatan cold brew coffee di luar negeri.

Ketika kembali ke Indonesia, mer­eka sepakat memasarkan cold brew coffee secara ritel dengan merek No Sleep Coffee. Ada dua varian kopi din­gin seduh No Sleep Coffee, yakni long black dan ice latte. Harga kopi siap mi­num dalam setiap kemasan berukuran 300 ml adalah Rp 25.000 per botol.

Ada pemain lain yang turut mera­maikan tren cold brew coffee yaitu Reza Syah. Pria berusia 36 tahun ini memulai usahanya sejak Oktober ta­hun lalu. “Awalnya saya tak menemu­kan cold brew coffee yang rasanya pas di lidah. Lalu saya coba buat sendiri dan ternyata banyak yang suka,” tutur dia.

Jual Online

Menurut Reza, kopi seduh dingin bukanlah produk baru di Amerika dan negara lain di Asia. Namun, di dalam negeri, produk ini baru muncul seta­hun belakangan. Masih banyak juga masyarakat yang belum mengetahui produk ini. Dus, sebagai pemain baru, ia pun harus rajin mengedukasi ma­syarakat. Di sisi lain, ia yakin produk ini bisa diterima karena di berbagai ke­dai kopi, konsumen pun sering meme­san kopi dingin yang dicampur es batu.

Pertama-tama Reza hanya membuat konsentrat dari kopi yang diseduh den­gan air dingin. Konsentrat dalam ke­masan botol 600 ml itu, kata Reza, bisa dibagi menjadi delapan gelas kopi jika ditambah dengan susu atau es batu.

Namun, peminat konsentrat itu terbatas pada penggemar kopi pahit. Setelah itu, konsumen minta dibuat­kan produk yang bisa langsung dinik­mati dari kemasan tanpa harus disaji­kan lagi. Reza pun membuat beberapa varian cold brew coffe, yaitu ice milk latte, red velvet, vanilla latte, dan ba­nana chia seed latte. Beragam varian itu banderol harganya Rp 49.000 hing­ga Rp 129.000 per botol.

Meski tergolong produk baru, pelaku usaha optimistis cold brew cof­fee bisa diterima masyarakat. Mereka optimistis kopi seduh dingin ini bukan tren sementara. “Bisnis minuman kopi merupakan bisnis yang berumur pan­jang karena kopi sudah ada sejak dulu, dan akan terus ada,” kata Riska. Apa­lagi, masyarakat kian kreatif meracik varian kopi.

Pertumbuhan pasar untuk kopi seduh dingin juga didukung oleh per­tumbuhan kelas menengah di negeri ini. Maklum, kelas menengah den­gan kantong yang lebih tebal gemar melakukan eksplorasi terhadap ber­bagai hal, termasuk memenuhi seler­anya dalam

menikmati kopi.

Produk cold brew coffee ini juga praktis. “Konsumen tinggal pesan, lalu kami antar dan mereka bisa minum tanpa harus diseduh lagi,” ujar Riska. Pria berusia 26 tahun ini menambah­kan, ia dan teman-teman butuh waktu cukup lama untuk mempersiapkan bisnis No Sleep Coffee. Setelah tahu metode penyeduhan kopi dengan air dingin, mereka butuh enam bulan un­tuk mendapatkan formula atau resep yang pas.

Awalnya, No Sleep Coffee dita­warkan ke kerabat dan kenalan para pendirinya. Namun lama-kelamaan se­makin banyak yang pesan. Kalau dulu, barista No Sleep Coffee hanya mem­buat 80 botol kopi per minggu, kini or­der meningkat pesat jadi 1.000–1.500 botol saban bulan.

Menurut penuturan Riska, sepan­jang 2014, ia dan teman-teman bisa mengantongi omzet Rp 500 juta. Ada­pun margin keuntungan dari bisnis ini bisa mencapai 100%. “Seperti produk F&B lain, cold brew coffee ini margin­nya 100%,” cetusnya.

Riska bilang, produk ini sengaja di­jual secara ritel, bukan di kedai kopi agar bisa dinikmati lebih banyak kon­sumen. Di samping itu, jumlah kedai kopi sudah terlalu banyak. “Kalau mau bikin kafe juga, produk kami masih se­dikit jadi konsumen tidak punya alter­natif yang banyak,” katanya.

Selain memesan secara online, kon­sumen juga bisa menikmati No Sleep Coffee di beberapa restoran seperti Da­pur Ciragil, Senopati, Vaplab Kemang, Senayan Trade Center, Cipete, dan Va­per Chamber SCBD. “Kami kerjasama secara konsinyasi untuk konsumen yang mau langsung menyeruput No Sleep Coffee tanpa harus menunggu produk diantar,” tambah dia.

Kopi Nusantara

Cara yang sama juga dilakukan Reza dengan kopi Ray’s Bottle of Joe. Kapa­sitas produksi kopi seduh dinginnya saat ini mencapai 100 botol per hari. Perolehan omzetnya rata-rata Rp 50 juta per bulan.

Sejak awal, Reza memasarkan produknya lewat jalur online, terutama Instagram. Setiap kali Reza memperba­harui halaman Instagram Ray’s Bottle of Joe, pesanan yang masuk bertambah. “Kalau kami lama tidak update media sosial, pesanan bisa sepi,” kata dia.

Banyaknya produk kopi yang bere­dar di pasar bebas membuat konsumen selektif terhadap produk kopi. Rasa dan kualitas akan menjadi pertimban­gan mereka dalam memilih kopi yang akan diseruputnya. Sudah bukan raha­sia, bahkan sudah diakui dunia bahwa kopi nusantara punya kualitas yang tinggi dan rasa yang enak.

Hal ini diamini oleh para pengusaha cold brew coffee. Tiap produk kopi seduh dingin yang mereka buat se­lalu menggunakan kopi dalam negeri sebagai bahan baku utamanya. Riska mengklaim, No Sleep Coffee merupak­an satu-satunya produk cold brew yang memadukan beberapa jenis kopi. “Ka­lau produk lain hanya menggunakan satu jenis kopi, tapi kami mencampur tiga jenis kopi nusantara,” katanya.

Untuk varian long black coffee, jenis kopi yang digunakan ialah Ara­bica toraja, Arabica ijen, dan Arabica papua. Sementara itu, ice latte meng­gunakan biji kopi Arabica gayo, Ara­bica flores, dan Robusta temanggung. “Semua bahan baku No Sleep Coffee berasal dari dalam negeri, tak perlu impor,” cetus dia.

Berbeda halnya dengan produk Ray’s Bottle of Joe. Reza bilang kopi yang digunakan dalam produknya me­mang merupakan kopi dalam negeri, misalnya kopi toraja, kopi sidikalang, dan kopi gayo. Tetapi, cokelat, vanilla, dan chia seed yang digunakan dalam campuran kopi merupakan produk impor. “Kami ingin bahan terbaik, jadi mau tak mau harus kami impor agar ti­dak merusak rasa kopinya,” tutur dia.

Meski kopi yang jadi bahan baku merupakan produk lokal, tapi pera­latan untuk membuat cold brew coffee harus diimpor. Riska dan Reza bilang, alat seduh kopi, seperti cold press dan grinder didatangkan dari luar negeri. Dus, investasi untuk usaha ini pun ter­golong tinggi.

Riska dan teman-teman merogoh kocek Rp 70 juta untuk modal awal. Modal itu digunakan untuk membeli peralatan, bahan baku, dan kemasan botol kaca. Adapun dapur produksi di­lakukan di dapur pribadi sehingga mer­eka tak perlu menyewa tempat.

Sementara itu, Reza merintis usa­ha Ray’s Bottle of Joe dengan modal tak sampai Rp 50 juta. “Dulu kami tak perlu menyewa tempat untuk produksi,” ucapnya. Namun, seiring perkembangan usaha, Reza menyewa tempat di kawasan Kalibata sebagai lo­kasi produksi. Bila ditotal, nilai investa­si Reza mencapai Rp 140 juta.

Reza melanjutkan, cold brew cof­fee jadi peluang usaha yang menjan­jikan. Pasalnya, saat ini, produk kopi seduh dingin yang dijual secara ritel sangat terbatas. Dibandingkan dengan banyaknya penggemar kopi, jumlah produk yang beredar masih sedikit. “Peluang untuk pemain baru masih terbuka lebar,” ujar Reza.

Demikian pula Riska mengatakan bahwa potensi bisnis untuk produk ini sangat bagus. Di masa mendatang, Ris­ka berencana bekerjasama dengan jar­ingan supermarket seperti Ranch Mar­ket atau Kemchick untuk meluaskan pemasaran No Sleep Coffee. “Tahun ini kami juga akan menambah produk, yaitu biji kopi yang bisa diseduh send­iri karena ada penggemar kopi yang puas jika menyeduh sendiri kopinya sebelum diminum,” tutur dia. (KTN)