alfian mujaniNILAI tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikan (USD) ditutup di kisaran Rp 13.300. Sebelumnya, sempat naik tinggi hingga Rp 13.440 atau setara posisi pada Agustus 1998, saat negeri ini di­landa krisis moneter sangat hebat.

Mengapa kita se­lalu dipermainkan USD, sementara Singapu­ra negeri yang sangat kecil itu nyaris tak ter­ganggu sedikit pun? Mungkin karena bangsa kita kurang bersyukur. Diberi tanah yang subur dan air yang melimpah, tak diguna­kan untuk mengoptimalkan pertanian. Aki­batnya, beras impor, kedelai impor, singkong yang bisa ditanam di sembarang lahan pun kita impor. Mungkin kita dikutuk ‘’Langit.’’

Lagi-lagi kita tak pandai bersyukur, pu­nya mata uang rupiah malah gemar belanja menggunakan dolar. Impor itu artinya kita membeli aneka kebutuhan dari luar negeri dengan menggunakan dolar. Mestinya, negeri ini kembali menggalakkan pertanian agar bisa membeli pesawat dengan beras ketan, membeli mobil dengan singkong, dan meraup dolar dengan ikan dan udang. Kita ini memang sombong. Miskin tapi beli sing­kong pun pakai dolar.