DSC_0758Kemelut di pentas sepak bola tanah air yang tak ber­kesudahan memaksa para pemain liga super dan divisi utama putar otak untuk menyambung hidup. Salah satunya dengan menjadi pemain sewaan dalam per­tandingan sepak bola an­tarkampung alias tarkam

Oleh : Adilla Prasetyo Wibowo
[email protected]

Pelatih Persela Lamongan, Iwan Se­tiawan, membebaskan anak asuhnya untuk bermain di turnamen tarkam atau antar kampung. Sebab, ia me­nilai para pemain Persela membutuhkan pemasukan untuk menyambung hidup.

Berhentinya kompetisi sepak bola di In­donesia membuat rugi semua tim, sehingga beberapa manejemen klub memutuskan kontrak atau meliburkan para pemainnya. Hal tersebut dilakukan guna mengurai beban finansial tim.

Polemik yang terjadi antara PSSI dengan Kemenpora menjadi penyebab utama ber­hentinya liga sepak bola di Tanah Air. PSSI bersama PT Liga Indonesia memutuskan ti­dak melanjutkan kompetisi disebabkan force majeure.

“Hak kami sudah dibayarkan semuanya, tapi pemain di liburan sampai batas waktu yang tidak tentukan. Dengan diberhentikan­nya kompetisi maka tertutup nafkah para pemain. Jadi saya bebaskan pemain untuk bermain di tarkam manapun,” kata Iwan di Stadion Persikabo.

Baca Juga :  Usai Harumkan Nama Kabupaten Bogor di PON Papua, Kepulangan Ayat Disambut Bak Pahlawan

Selanjutnya mantan pelatih Persija Jakar­ta itu meminta perseteruan Kemenpora den­gan PSSI segera usai. Menurutnya bila kedua belah pihak telah berdamai liga di Indonesia segera berjalan. “Menpora harus mencabut kembali pembekuannya kepada PSSI agar kompetisi bisa berjalan lagi. Kami rindu akan sepak bola,” ucapnya.

Tak heran bila beberapa nama beken yang biasa berlaga di Liga Indonesia ikut ber­lari-lari mengejar bola di lapangan desa. Mer­eka antara lain adalah pemain Persik Kediri Khusunul Yuli, Sandi Firmansyah, Rendi Irawan, pemain Semen Padang Jajang Palia­ma, dan pemain Persewa Wamena Supriyadi.

Dalam turnamen tarkam di Desa Banaran Wetan, Kecamatan Bagor, Kabupaten Ngan­juk, Minggu 7 Juni 2015 kemarin, Khusunul Yuli, Sandi Firmansyah, Rendi Irawan, dan Jajang Paliama bermain untuk klub Rajawali FC dari Desa Petak, Kecamatan Bagor. Ada­pun Supriyadi memperkuat tim Werungotok FC dari Kecamatan Nganjuk Kota.

Kualitas permainan mereka yang jauh di atas kemampuan pemain lokal menjadi hiburan tersendiri. Namun karena kurang mendapat dukungan rekan-rekannya se­tim, mereka kerap kerepotan saat hendak mencetak gol ke gawang lawan.

Baca Juga :  Kepulangan Eriska Agustina Atlet Tarung Drajat Asal Cisarua Peraih Medali Emas di PON XX

Supriyadi mengaku terpaksa menerima tawaran main tarkam karena butuh uang un­tuk keluarganya. Sejak PSSI menyetop kom­petisi di semua level dengan alasan force ma­jeure, pemasukan Supriyadi ikut berhenti. “Main tarkam ini itung-itung untuk pemana­san karena lama tak main,” katanya.

Namun saat ditanya berapa honor yang diterima dari klub tarkam untuk sekali tand­ing, dia menolak menjawab. Demikian pula pengurus klub Werungotok FC yang menge­bon Supriyadi juga tak bersedia berterus­terang.

Sedangkan official Rajawali FC lebih ter­buka menyampaikan kocek yang harus dike­luarkan untuk menyewa tiga pemain Persik. Ongkos yang ditetapkan per paket untuk tiga pemain yakni Khusnul Yuli, Sandi Fir­mansyah, dan Rendik Irawan dibanderol Rp 5 juta sekali tanding. “Untuk pemain Persik lima juta sekali tanding,” kata Putro Utomo, official Rajawali FC.