DSC_0642“YA mau bagaimana lagi? Kompetisi telah berhenti sedangkan saya harus mencari nafkah untuk istri dan juga anak. Jadi tidak apa-apa bermain tarkam. Selama masih halal saya rela melakukannya,” Nova Zainal

Oleh : Adilla Prasetyo Wibowo
[email protected]

Masih belum menentunya iklim kompetisi pertand­ingan sepakbola di Tanah Air, memaksa para pemain sepakbola profesional yang menggan­tungkan hidupnya dari sepakbola untuk terus bermain di liga-liga antar kampung (tarkam).

Di Bogor, berawal dari pertandingan segitiga Trofeo Charity Match yang meli­batkan dua punggawa Kota Hujan, Per­satuan Sepakbola Bogor (PSB), Persatuan Sepakbola Indonesia Kabupaten Bogor (Persokabo) serta Garuda All Star yang bermaterikan pemain nasional.

Setelah itu, banyak pemain QNB League yang tetap bermain liga tarkam di Bogor. sebut saja nama-nama seperti Gunawan Dwi Cahyo dan Asep Berlian. “Keahlian saya hanya bermain sepak­bola. Hanya itu saja tumpuan hidup saya sekeluarga,” kata Gunawan usai laga Tro­feo Charity Match.

Selain itu, pemain gaek Nova Zainal juga ikut turun main di tarkam. Ber­mandikan keringat tak membuat Nova Zainal lupa menebar senyuman hangat. Padahal tampak jelas sekali raut wajah yang lelah sehabis bertanding, namun ia tetap meluangkan waktu untuk me­nyapa penonton bahkan membiarkan beberapa orang fans untuk berfoto ber­sama dirinya.

Baca Juga :  Atlet Kabupaten Bogor Kembali Sumbang 29 Medali Emas di PON XX Papua

Nova mungkin nama pesepak bola yang tidak terlalu populer di Indonesia. Ia kalah beken dengan rekan seangkatan­nya seperti Bambang Pamungkas, Ismed Sofyan, Kurniawan Dwi Yulianto, hingga Evan Dimas yang masih terbilang hijau di ranah sepak bola Tanah Air.

Namun, semua itu dianggapnya an­gin lalu. Di usia yang tidak muda lagi Nova masih saja bermain sepak bola. Berbagai macam klub pernah ia perkuat, mulai dari Persikota Tangerang, Persis Solo hingga PPSM Sakti Magelang yang saat ini berkiprah di Divisi Utama Liga Indonesia.

Selama berkarier sebagai pemain sepak bola nasional, pria berusia 38 ta­hun tersebut belum pernah merasakan nikmatnya menjadi juara di kompetisi tertinggi. Bahkan Nova tak pernah seka­lipun membela timnas Indonesia. Ini merupakan realita yang harus diteriman­ya dengan lapang dada.

Semenjak PSSI dan PT Liga memutus­kan menghentikan kompetisi musim ini, pria asal Garut itu harus pontang-panting mencari penghasilan lain. Ia pun rela jadi pemain antar kampung (tarkam) demi mencari sesuap nasi dan juga melanjut­kan hidup.

Baca Juga :  Kepulangan Eriska Agustina Atlet Tarung Drajat Asal Cisarua Peraih Medali Emas di PON XX

“Ya mau bagaimana lagi? Kompe­tisi telah berhenti sedangkan saya ha­rus mencari nafkah untuk istri dan juga anak. Jadi tidak apa-apa bermain tarkam. Selama masih halal saya rela melakukan­nya,” kata Nova seusai bermain tarkam di lapangan Latus, Ciputat.

Tentunya bermain tarkam tidaklah mudah, sebab kualitas lapangan yang ada pasti di bawah standar nasional. Bahkan tak jarang rumput-rumput han­ya tumbuh pada beberapa titik di la­pangan. Selain itu tanah yang tidak rata menjadi hal yang lumrah. Tak heran kalau faktor keamananan selalu dikesa­mpingkan.

Melihat fakta seperti itu, pria kela­hiran 1977 tersebut tak merasa takut. Ia mengatakan sebelum terjun ke dalam kompetisi sepak bola profesional sudah pernah merasakan kerasnya permainan tarkam. Nova menyebut tidak kaget den­gan atmosfer pertandingan tarkam.

“Dulu saya sempat bermain tarkam, jadi saya tidak kaget dengan cara ber­mainnya. Selama ini orang berpikir ber­main tarkam itu berbahaya, tapi menu­rut saya itu merupakan anggapan yang berlebihan. Saya tidak mematok harga tinggi untuk bermain. Hanya Rp 1 juta – Rp 1,5 juta bila ada tim tarkam yang ingin mengajak saya bergabung bersama tim­nya,” tutup Nova.