takluk-persikabo-sorot-aksi-wasit_1

Selain pemain dan pelatih yang dipusingkan denganberhentinyakompetisi, para produsen kaus bola pin turut terkena pulung. Mereka merugi sampai ratusanjuta rupiah

Oleh : Adilla Prasetyo Wibowo
[email protected]

Sanksi FIFA terhadap PSSI ternyata tidak hanya berimbas pada klub dan pemain sepakbola Indonesia saja. Para pelaku bisnis yang menggan­tungkan hidupnya dari sepakbola pun ter­kena dampaknya.

Salah satunya adalah para pengusaha kaos bola yang telah meneken kontrak dengan klub-klub yang berlaga di Indone­sia Super League (ISL) dan Divisi Utama. Akibat dihentikannya liga, mereka men­gaku mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.

Marketing Communications Maniak Baju Bola (MBB), Muhamad Ikbal Hakiki menuturkan pihaknya sendiri telah melaku­kan kerjasama dengan tujuh tim ISL dianta­ranya seperti Pelita Bandung Raya (PBR), persebaya.

Baca Juga :  Gibas Sukses Gelar Pertandingan Muaythai, Wakil Walikota : Ganti Tauran Dengan Prestasi

Selain itu, ada sembilan tim Divisi Utama seperti Persikabo Bogor untuk pembuatan kaos tim, tas, jaket dan lainnya.Pihaknya mengaku telah menggelontorkan uang ra­tusan juta rupiah untuk meng-endorse tim-tim tersebut, dengan harapan bisa melaku­kan promosi jika para tim tersebut berlaga yang disiarkan televisi. Namun setelahkan bagi pihaknya.

Dengan tidak adanya liga, lanjutnya, artinya kesepakatan kerjasama batal dan tidak ada promosi. Dengan tidak adanya promosi berarti berdampak pada penjua­lan, yang seharusnya orang tahu jadi tidak tahu.

Baca Juga :  Gibas Sukses Gelar Pertandingan Muaythai, Wakil Walikota : Ganti Tauran Dengan Prestasi

“Jelas rugi, karena kita sendiri mengen­dorse tim ini kan mempunyai target untuk promosi. Minimal promosinya bisa masuk televisi lah, istilahnya orang mengenal MBB itu apa,” katanya, Kamis (4/6/2015).

Dikatakannya, puluhan kodi kaus yang sudah diproduksi terpaksa kembali digu­dangkan dan urung dikeluarkan. ”Jika liga dihentikan, jelas akhirnya kaos yang jum­lahnya berkodi-kodi ini hanya masuk dalam gudang,” jelasnya.

Saat ini, lanjut Ikbal, pihaknya hanya bisa memproduksi baju hanya untuk ba­han jualan saja di toko. Ia berharap kisruh persepakbolaan Indonesia cepat selesai, dan usaha yang telah dirintis sejak 2013 ini bisa hidup kembali.