Untitled-14

BOGOR, TODAY – Merasa tergang­gu dengan aktivitas perusahaan tambang PT Gunung Salak Rek­nusa (GSR), ratusan warga Desa Antajaya, Kecamatan Tanjungsari mengontrog Gedung Dewan Per­wakilan Rakyat Daerah (DPRD) Ka­bupaten Bogor, Kamis (4/6/2015).

Koordinator aksi, Erwin men­gatakan, eksploitasi penambangan batu andesit di kawasan Gunung Kandaga itu telah menyengsarakan warga bisa menghilangkan mata pencaharian warga.

“Kalau gunung itu dihancurkan, warga desa akan sengsara. Karena mayoritas warga itu hidup dari per­tanian dan sumber mata air ratusan hektar sawah milik warga berasal dari gunung itu,” jelas Erwin.

Baca Juga :  Perumda Tirta Pakuan Gebyar Diskon Bagi Pelanggan Baru, Dari Rp 1,5 juta cuma Rp 800 Ribu

Selain untuk mengairi sawah, air yang berasal dari Gunung Kandaga itu juga digunakan warga untuk keperluan sehari-hari sep­erti mandi, minum dan memasak. “Pasti kesulitan kami kalau sumber mata air itu hilang,” tutur Erwin.

Warga juga mengkhawatirkan dampak yang jauh lebih buruk dari eksploitasi gunung itu jika terus berlanjut misalnya tanah longsor. “Karena mereka juga membuka lahan untuk jalan angkutan hasil tambang,” tambah Erwin.

Erwin melanjutkan, aktivitas serupa juga terjadi di gunung lain yang ada di Kecamatan Tanjungsari dan Sukamakmur. Diantaranya Gunung Aseupan, Gunung Laya, Gunung Kembar, Gunung Gadung, Gunung Kepuh dan Gunung Sang­ga Buana.

Baca Juga :  Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor Kunjungi Kampung Labirin

“Makanya kami minta Pem­kab jangan cuma memikirkan soal meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tapi tolong dengar­kan aspirasi warga,” pintanya.

Warga juga mendesak agar izin perusahaan tambang itu dicabut. “Itu sekitar 300 hektare yang akan di hancurkan, jadi kami minta pemerintah lebih melihat masa depan warga, kalau gunung itu hancur bagaimana nasib warga nantinya,” lanjut Erwin.

(Rishad Noviansyah)