arema_vs_persela-gonzales_3MALANG, Today – Pemain sepakbola nasional Cristian Gonzales yang terakhir merumput di klub Arema Cronus, Malang, harus turun kasta dan bermain di kelas pertandin­gan antar kampung alias “tarkam”.

Hal itu dilakukan pemain naturalisasi asal Uruguay itu, demi mendapat penghasilan karena terhentinya kompetisi Indonesia Super League (ISL).

“Seminggu yang lalu, Gonzales main tarkam di Jakarta bersama pemain lainnya. Lumayan ada uang tambahan untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Eva Norida Siregar, istri Cristian Gonzales, kepada Kompas.com, di Malang.

Menurut Eva, saat ini pun Cristian Gonzales tetap ber­harap ada yang mau mengundangnya untuk bermain sepak bola ‘tarkam’ lagi.

“Gonzales, saya, dan anak-anak saya pada sedih, galau, gelisah semua. Karena tak ada pendapatan untuk menghidu­pi kebutuhan keluarga. Yang lebih menyedihkan, saya dan Abang sudah empat bulan tak bisa menyantuni anak yatim yang sudah lama kita bantu,” kata Eva lagi.

Walaupun tak lama lagi Bulan Ramadhan akan datang, Gonzales tetap berharap ada tim tarkam atau tim apapun yang mengundangnya untuk bermain bola.

“Karena kami sekeluarga sangat susah dan sedih seka­rang. Apalagi jelang lebaran. Pemasukan hanya 25 persen dari manajemen Arema. Untuk memenuhi kebutuhan 75 persennya, saya harus bekerja keras,” kata Eva.

Ada 13 anak yatim yang harus dibantu secara rutin. Sejak empat bulan, sudah tak pernah membantu mereka. Karena untuk kebutuhan sendiri saja sudah susah.

Eva berharap, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi membuka hati dengan cara mencabut pembekuan dan semua tim dan pe­main bisa mendapatkan rejekinya dari ber­main sepak bola.

“Semoga Pak Menpora membuka hatinya dengan mencabut pembekuan. Itu yang kami harapkan pada pemerintah,” pungkasnya.

(Imam/net)