373951501p

SAAT krisis moneter 1997–1998, perusahaan keluarga Teddy Tjokrosaputro terpukul. Waktu itu, hampir semua bisnis gulung tikar. Meski demikian, Teddy tidak kapok menjajal bisnis anyar. Hasilnya ia kini sukses mendirikan PT Subafood Pangan Jaya, produsen bihun jagung kenamaan. Lantas, seperti apa kisahnya?

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Bihun jagung, mungkin, hanya produk sederha­na. Namun, ternyata, pengolah produk ini mam­pu meraih sukses besar. Adalah Teddy Tjokrosa­putro tokoh yang berhasil mengenalkan produk olahan sederhana ini ke khalayak di Tanah Air.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Demikian pula dengan kisah perjalanan bisnis Teddy Tjokrosaputro, Direktur Utama PT Subafood Pangan Jaya. Kakek dan neneknya adalah pengusaha batik ternama bermerek Batik Keris. Sebagai generasi ketiga, ia memilih tidak melanjutkan usaha tekstil meski tetap mewarisi darah bisnis dari kakek dan neneknya. Teddy lebih memilih menggeluti bisnis makanan ketimbang batik.

Melalui PT Subafood Pangan Jaya, ia berhasil men­jadi produsen bihun jagung yang sukses. “Produk bihun jagung ini merupakan yang pertama di Indonesia, bah­kan di dunia. Boleh dibilang, kami pionir di bisnis ini,” katanya. Tak heran bila Subafood berhasil meraih be­berapa penghargaan berkat inovasi produk pangan ini.

Bukan itu saja, setiap tahun, kapasitas produksi sekaligus penjualan bihun jagung selalu naik 100 pers­en. Saat ini, kapasitas produksi Subafood sebanyak 1.200 ton per bulan atau sekitar 14.400 ton per tahun. Adapun market share bihun jagung Subafood sudah 20 persen. “Dengan harga eceran tertinggi (HET) rata-rata Rp 11.000 per kilogram, bihun jagung kami bisa men­embus pasar dan diminati,” kata Teddy. Bihun ini pun sudah didistribusikan ke 25 provinsi dengan lebih dari 30.000 gerai.

Baca Juga :  Musyawarah Kecamatan PK KNPI Pamijahan Dibanjiri 77 Pendaftar

Uniknya, Teddy justru mengawali karier bisnisnya bidang properti, bukan makanan. Setelah menyele­saikan pendidikan di University of Southern California, Los Angeles, Amerika Serikat, tahun 1995, dia pulang ke Indonesia dan membantu orang tuanya mengurus bisnis keluarga di bidang properti. “Saya belajar men­jalankan bisnis melalui perusahaan keluarga sekitar dua hingga tiga tahun,” kata suami Shelly Verywan ini.

Saat krisis moneter 1997–1998, perusahaan keluarga Teddy terpukul. “Waktu itu, hampir semua bisnis gu­lung tikar, termasuk bisnis properti,” katanya. Meski begitu, ia tidak kapok menjajal bisnis properti.

Sekitar tahun 1999, lelaki kelahiran Solo, Jawa Ten­gah, 18 Agustus 1974 ini kembali merintis usaha di bidang properti. Kali ini, dia menjalankan usaha secara pribadi. Dengan mengibarkan bendera PT Andalan Propertindo, Teddy menggarap sebuah proyek trade center di Solo, Jawa Tengah. “Isi trade center ini rata-rata pedagang batik. Usaha ini masih berjalan hingga sekarang,” kata bapak dua anak ini.

Ternyata, Teddy tidak puas hanya memiliki bisnis di bidang properti. Tahun 2004, ia merambah bisnis makanan dengan mendirikan PT Subafood Pangan Jaya. Pilihannya jatuh pada usaha pengolahan jagung. “Saya memilih jagung karena merupakan tanaman pangan kedua setelah beras. Itu saja. Namun, saya juga berpikir, jagung ini cocoknya diolah jadi apa. Tidak mungkin, kan, kita jualan jagung bakar,” jelasnya.

Lantas, Teddy mengumpulkan tim untuk memikir­kan olahan jagung yang bisa disukai masyarakat. Akh­irnya, tercetus ide untuk mengolah pati jagung menjadi bihun. “Masyarakat kita sudah dekat dengan olahan pangan jenis mi ini. Nah, dengan bihun jagung ini, kami pikir bisa terserap masyarakat dengan mudah,” kat­anya. Selama setahun, Teddy bersama tim melakukan penelitian.

Baca Juga :  Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Kembali Raih Tiga Penghargaan Emas dalam ISDA 2021 Sekaligus

ButuhEdukasi

Akhirnya berdirilah pabrik olahan jagung di daerah Tangerang, Banten, pada bulan Juni 2005. Tahun 2006, Subafood mulai memproduksi bihun jagung dengan kapasitas 100 ton per bulan. “Tidak semulus yang dibay­angkan. Kami cukup bekerja keras untuk melakukan edukasi ke masyarakat. Maklum, waktu itu, kan, belum ada produk bihun jagung di pasaran. Yang ada bihun beras,” jelasnya. Seiring dengan pengenalan masyara­kat terhadap produk, kapasitas dan penyerapan bihun jagung Subafood terus meningkat setiap tahun.

Teddy bilang, sejauh ini, usahanya itu banyak men­galami kendala. “Harga jagung cukup fluktuatif,” ka­tanya. Bila harga sedang tinggi, tentu kondisi ini me­nyusahkan lantaran bihun jagung merupakan produk yang membidik semua kalangan. Harga jualnya tidak mungkin tinggi. Terkadang, Subafood juga mengalami kendala pasokan bahan baku yang kurang rutin. Tapi, Teddy bilang, persoalan itu masih bisa dihadapi.

Dalam perjalanannya, Teddy tidak hanya mengandal­kan bihun jagung. Dia mulai melakukan inovasi produk. Antara lain dengan memunculkan produk bihun jagung instan aneka rasa, sorgum, mi kering, dan makaroni jag­ung. Selain itu, ia juga mulai memproduksi olahan di luar bahan baku jagung, seperti terasi dan merica bubuk.

Bihun jagung yang diproduksi Subafood juga men­gundang banyak pengekor. “Bila tahun 2006 hanya ada dua produsen bihun jagung, sekarang sudah ada 23 pro­dusen,” jelas Teddy.

Teddy pun tak tinggal diam. Dia terus melakukan ekspansi. Selain memunculkan produk baru, Subafood juga memperluas pasar. Mulai tahun 2010, Subafood mengekspor aneka produk olahan dari jagung ke Belan­da, Malaysia, dan terakhir ke Brunei Darussalam.

(KTN)