o-TRANSGENDER-ARTISTS-facebookKetika bayi lahir, dokter akan mengatakan, “bayinya laki-laki” atau “perempuan”. Jenis kelamin seksual seseorang memang didasarkan pada faktor biologinya; kromosom, anatomi, dan hormonal. Tetapi jender, yakni perasaan terdalam sebagai pria, wanita, atau keduanya, seringkali tak sesuai dengan jenis kelamin

Oleh : ADILLA PRASETYO WIBOWO
[email protected]

Walau secara le­gal kita hanya mengenal dua jenis kelamin, pria dan wanita, tapi secara medis sebenarnya ada banyak keragaman seksual. Keengganan masyarakat untuk menerima orang-orang yang pun­ya preferensi seksual berbeda ini kerap menimbulkan tekanan jiwa bagi orang yang memilikinya.

Transjender atau orang yang merasa jenis kelaminnya tidak sesuai dengan apa yang mereka rasakan, seperti halnya orang yang punya orientasi seksual sesama jenis, sering membutuh­kan konseling dari psikolog atau psikiater.

Banyak dari mereka yang merasa depresi dan cemas karena akan dikucilkan oleh masyarakat. Namun kecemasan terbesar adalah mereka akan ditolak oleh orang yang mereka cintai.

Baca Juga :  7 Air Hujan Ternyata Dapat Menyehatkan Loh, Apa Saja Manfaatnya? Yuk kita intip

“Banyak orang yang harus menghadapi kecemasan atau depresi ketika mereka merasa tidak dapat menjadi siapa mere­ka yang sebenarnya,” kata Helen R.Friedman PhD, psikolog yang banyak menangani identitas jender dan transjender.

Selain bergulat dengan diri sendiri, diskrimnasi yang mereka terima juga bisa memicu depresi, penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang, bahkan gang­guan mental yang membutuhkan terapi.

Bagi sebagian, keputusan untuk menjadi diri sendiri mem­bawa rasa lega dan kebanggaan. Charles (Chloe) Anderson, ada­lah transjender wanita di Floria, AS. Selama bertahun-tahun ia membenci dirinya sendiri dan takut tak ada seorang pun yang bisa memahami dirinya. Akh­irnya ia mengikuti sesi konseling dan berani membuka dirinya.

Keluarganya memang tidak mendukungnya, tapi Anderson merasa hidupnya lebih baik. Ia lalu mengikuti terapi hormonal dan makin yakin untuk men­gubah identitasnya secara legal. “Itu memberi rasa kebanggaan. Mengetahui bahwa pada level paling dasar saya bisa menerima diri saya apa adanya sungguh membantu saya membangun hidup baru,” kata Anderson.

Baca Juga :  Bahan Kimia Sintetis di Plastik Tingkatkan Risiko Kematian Dini dan Ibu hamil

“Kebahagiaan dan kelegaan yang dirasakan seseorang begitu mereka hidup dengan jender yang sebenarnya akan mem­bantu mereka maju dalam aspek hidupnya yang lain,” kata Fried­man.

Mantan atlet Olimpiade cabang olahraga dekatlon Bruce Jenner juga baru-baru ini meng­guncang dunia maya saat ia me­nampilkan identitas barunya sebagai wanita bernama Caitlyn Jenner.

“Saya merasa sangat bahagia setelah upaya bertahan yang san­gat lama untuk bisa hidup menja­di diri sendiri. Selamat datang ke dunia, Caitlyn. Tidak sabar untuk mengenalnya/aku,” tulis Caitlyn di akun twitternya.

Ketika belum memutuskan untuk menjadi seorang wanita, Caitlyn menyatakan bahwa ia harus mengungkapkan kebohon­gan setiap hari. Identitas yang dirasakannya bahwa ia adalah seorang wanita adalah sebuah rahasia. “Selalu ada rahasia, na­mun Caitlyn tidak memiliki raha­sia,” ujarnya. (*)