Opini-DjasepudinERA para pemimpin muda di beberapa kota terus mengemuka. Mereka memberi fajar harapan di tengah dominasi kepemimpinan tua yang cenderung lambat dan konservatif. Tidak hanya muda dari segi usia, para pemimpin muda juga menawarkan semangat perubahan yang penuh dengan ide-ide kreatif untuk menyelesaikan masalah yang kian pelik.

Oleh: DJASEPUDIN

Bila Surabaya memi­liki Tri Rismaharini, DKI Jakarta pernah memiliki figur Jokowi- Basuki, Bandung menuju juara bersama Ridwan Ka­mil, maka Kota Bogor memiliki Bima Arya. Bersama Usmar Hari­man, Wakil Walikota Bogor, Bima diharapkan bisa memimpin semangat perubahan agar Bogor makin tersohor.

Tidak terlalu berbeda dengan kota-kota besar lainnya di Nusantara, Kota Bogor pun memiliki permasalah mendasar yang sulit terpecahkan. Apalagi secara geografis Bogor berada di muka DKI Jakarta. Permasalahan di Jakarta dan Bogor saling memengaruhi. Celakanya, dari pelbagai masalah itu Bogor kerap mendapat cap negatif dari warga dalam dan luar Bogor.

Bukan kabar anyar bila kita kerap mendengar bahwa, Bogor kota sejuta angkot, Bogor surga para pedagang kaki lima, Bogor area nyaman pengemis dan anak-anak jalanan, sampah menyeruak di mana-mana, taman dan ruang terbuka untuk publik makin me­nyempit, bangunan cagar budaya kian berkurang, serta birokrasi yang cenderung ingin dilayani.

Sadar akan beragam masalah itu Kang Bima, demikian Walikota Bima Arya kerap disapa, sejak dilantik pada 7 April 2014 mulai bergerak cepat. Putra Bogor kela­hiran, Paledang, Bogor 17 Desem­ber 1972 ini melakukan upaya-upa­ya kreatif agar pelbagai masalah itu bisa diminimilisasi.

Akan tetapi, mungkin karena Kang Bima pun kader salah satu partai politik, maka segala tindak-tanduknya kerap dipandang miring. Jika diam saja di Balaikota beberapa warga berteriak “Turun atuh ka masarakat, ulah cicing wae di Balekota!” Sebaliknya, keti­ka Kang Bima kukurusukan menemui warga untuk mengetahui masalah secara langsung malah mendapatkan sindir satir bernada nyinyir “Wah, pencitraan éta mah, hayang kapuji.”

Sebagai manusia biasa tentu saja Kang Bima sempat dibuat lieur. Bahkan, karena belum ter­biasa dengan jadwal kerja yang amat sibuk Kang Bima sempat seminggu terbaring sakit.

Kang Bima sadar, Bogor bukan milik dan tanggung jawab waliko­ta semata. Bogor mesti dihadapi dengan semua pihak yang sama-sama punya mimpi. Untuk mewu­judkan impian itu semua pihak harus sama-sama berjuang. Ka cai jadi saleuwi ka darat jadi salebak, semua warga seiring sejalan ber­jalin berkelindan meperjuangkan tujuan.

Baca Juga :  MENDIDIK DENGAN HATI

Menurut Kang Bima ada lima program kerja prioritas yang su­dah dan terus digencarkan jajaran Pemkot Bogor. Satu, menata trans­portasi dan angkutan umum; dua, menata pedagang kaki lima; tiga, menata pelayanan persampahan dan kebersihan; empat, ruang pub­lik, pendestrian, taman, dan ruang terbuka hijau; lima, reformasi bi­rokrasi dan pelayanan publik.

Beruntung, lima program ker­ja prioritas itu selain diterapkan di lapangan juga selalu diumumkan di dunia dalam jaringan (daring). Warga Bogor atau warga manapun bisa mengomentari, mengawasi, memuji, dan mencaci tindakan Kang Bima dalam membenahi Bo­gor. Kang Bima sadar, peran sosial media (sosmed) tak bisa dinafikan begitu saja.

Berkaitan dengan itu, pada tahun lalu, tepatnya Sabtu, 17 Mei 2014, bertepatan dengan 40 hari Kang Bima resmi menjadi Walikota Bogor, para penggerak sosmed yang umumnya bergiat dalam akun facebook dan twitter diundang ke Rumah Dinas Walikota Bogor untuk mengadiri acara “Ngawang­kong sareng Kang Bima Arya.”

Para pegiat sosmed itu datang dari begaram latar aktivitas. Ter­catat ada yang bergerak dalam ranah sastera, Bogor Heritage, “Turun Tangan Bogor”, “I Love Bogor”, “Puzzle Sumit”, Koalisi Pejalan Kaki Bogor (KPKB), Wisata di Bogor (Widibo), dan sejumlah individu yang memiliki kecintaan pada Kota Bogor. Saya sendiri hadir pada momen itu sebagai pribadi, yang sedikitnya kerap mengamati kehidupan sosial-bu­daya masyarakat Sunda, termasuk urang Bogor.

Dari wangkongan yang dilaku­kan duduk ngampar di rumah dinas seberang Kebon Raya itu tercetus beragam masalah dan ta­waran jalan keluar. Dari maraknya tawuran hingga kasus pelecehan seksual. Mulai festival kesenian hingga anak jalanan yang tak me­miliki akta kelahiran. Tentang kemacetan, lapangan pekerjaan, kebersihan, dan makanan disam­paikan dalam riuangan tersebut.

Menyarikan pernyataan dan pertanyaan peserta diskusi Kang Bima berkesimpulan bahwa, kita mesti menjemput perubahan. Se­cara garis besar membangun Bo­gor ke depan akan menerapkan konsevatif secara fisik dan progresif secara karakter.

Konservatif secara fisik, dalam tataran ini keberadaan bangunan di Kota Bogor akan ditilik ulang. Sebab Kebun Raya yang menjadi identas Kota Bogor pun teran­cam menuju kepunahan. Sebab di sekeliling Kebun Raya disesaki bangunan tinggi-besar yang ber­dampak pada kualitas tanah, air, dan udara. Akibatnya spesies flora dan fauna di Kebun Raya mulai berguguran. Keberadaan Taman Kancana Bogor pun hendak ditin­jau ulang sebab area permukiman itu kini berubah menjadi kawasan dagang makanan.

Baca Juga :  MENDIDIK DENGAN HATI

Progresif secara karakter, mengandung makna bahwa, men­talitas warga Bogor mesti kuat dan mengedepankan nilai-nilai yang bisa meningkatkan kualitas hidup. Melihat masalah jangan terus mengeluh. Apa yang kita bisa lebih baik segera lakukan. Pu­nya ide-ide kreatif diskusikan dan laksanakan. Kang Bima berkata, dengan catatan baik untuk ber­sama Pemkot Bogor akan selalu mendukung.

Kang Bima menegaskan, dirinya 24 jam bersedia menemui warga. Akan tetapi, kata Kang Bima, bila semua permintaan dipenuhi, setiap 15 menit bisa mengadakan audiensi dengan berbagai pihak di Balaikota, mun kudu kitu mah iraha rek gawena? Meski begitu, jika warga ingin menyampaikan aspirasi dengan Sarjana Hubungan Internasional FISIP Unpar Bandung dan Doktor Ilmu Politik, Australian National University Canberra Australia itu dapat menemuinya setiap hari Jumat dan Minggu. Setiap Jumat pagi Kang Bima kukurusukan dengan warga melakukan beber­sih kota. Sedangkan hari Minggu Kang Bima berbaur dengan warga Bogor lainnya olah raga di seputar Kebun Raya, Sempur, atau Taman Kancana.

Saya, Anda, dan kita berharap, stigma Bogor kota sejuta angkot akan berubah menjadi Bogor kota sejuta taman. Bogor mesti men­jadi kota ramah pada anak-anak. Cagar budaya tetap terjaga. Wisata kuliner makin populer. Semua itu mesti didasari dengan reformasi birokrasi. Sebab tugas utama peja­bat adalah melayani sepenuh hati.

Karena itu pula momen “Nga­wangkong sareng Kang Bima Arya” mesti dioptimalisasi dan jangan sampai terhenti. Keterbu­kaan Kang Bima kepada warga, terutama dengan pegiat sosmed mesti menjadi pemicu dan pema­cu kita agar terus berbuat untuk Bogor. Menurut Kang Bima, itulah salah satu fungsi dari teknologi untuk transparansi, teknologi un­tuk efisiensi.

Menutup tulisan pendek ini, dalam rangkaian hari jadi ke-533 Bogor, saya kutip salah satu fi­losofi urang Bogor yang berbunyi, di nu kiwari ngancik bihari, seja ayeuna sampeureun jaga, fenom­ena yang terjadi hari ini tersimpan roh masa silam, tindakan yang di­lakukan sekarang akan berbuah di masa depan.

Koordinator Jaringan Sahabat Publik (JSP) Bogor;

AlumnusProgram Studi Sastra SundaUnpad ; tinggal di Nanggewer