parselBOGOR TODAY – Isu kritis maraknya barang kadaluarsa di sejumlah mini­market mulai menyeruak. Buntutnya, Disperindag Kota Bogor mulai meny­isir sejumlah pusat perbelanjaan.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bo­gor, Bambang Budianto, melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan pen­gawasan pertokoan dan pasar terha­dap peredaran makanan dan parsel, kemarin.

Dalam kesempatan tersebut Bam­bang mengatakan, karena tingkat permintaan yang cukup tinggi pada saat bulan puasa dan menjelang leba­ran. “Biasanya banyak ritel yang tetap menjual makanan kemasan, parsel yang tidak layak edar atau tidak layak dikonsumsi dan tentunya hal itu akan sangat merugikan konsumen,” jelas Bambang.

Baca Juga :  Disdukcapil Kota Bogor Kini Miliki Layanan Dhrive Thru

Menurut Bambang yang akan di datangi adalah supermarket, mini­market termasuk pasar tradisional yang menjual makanan dengan ke­masan tertutup termasuk parsel. “Ini akan menjadi fokus kami dalam melakukan pengawasan peredaran makanan kemasan,” ungkapnya.

Menurut Bambang langkah terse­but ditujukan untuk menekan pere­daran makanan kemasan yang kada­luwarsa dan kemasan rusak. “Yang juga penting makanan yang beredar juga harus menyampaikan informasi komposisi, bahan baku dan bahan ke­masannya,” katanya.

Jika di lapangan ditemukan ad­anya makanan kemasan yang keda­luwarsa atau rusak maka barang- ba­rang tersebut, katanya, akan ditarik. “Untuk parsel pun, dari tim penga­was berhak membuka satu sampel parsel dan mengecek,“ tandasnya.

Baca Juga :  Ini Struktural MWC NU Kecamatan Bogor Tengah Masa Khidmat 2021-2026

Terpisah, Walikota Bogor Bima Arya, menambahkan, pihaknya me­mastikan barang-barang atau produk yang dijual baik sembako maupun yang lainnya seperti biskuit dan penganan yang disuguhkan ketika lebaran tidak kadaluarsa. “Kami su­dah mengindentifikasi ada toko-toko yang setiap menjelang lebaran men­jual produk-produk yang kadaluar­sa,” ujar Bima. “Kepada ibu-ibu agar hati-hati ketika membeli dan lihat dulu tanggal expirenya jangan sam­pai lebaran berbuah petaka karena mengkonsumsi makanan yang kada­luarsa,” himbaunya.

(Yuska Apitya/*)